Muhammad Asqalani on Usaha Membunuh Sepi

SETELAH begitu semangat saya membaca sejumlah novel, memoar, dan jenis buku lainnya selain puisi, sampailah saya pada diam bodoh sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu, dimana saya hampir berhenti membaca.

Dan hari ini, Usaha Membunuh Sepi, kumpulan cerpen Felix K Nesi akhirnya usai juga.

Ada 9 cerpen di dalamnya, entah cerpen ke 9 itu benar-benar milikmu (Felix), sudut pandangnya terasa aneh, tokoh utamanya laki-laki yang karena kalah pada pergumulan hidup menjadi banci, terasa jauh dari Felix sekaligus masih sekitar Felix.

Membicarakan buku setebal 79 halaman ini, saya meraba-raba tubuh Felix dalam pikiran, tubuhnya terasa nyata dan kasar, namun di lain sisi saya tak mempercayai perasaan saya bulat-bulat. Sastra, dalam kesempatan kali ini cerpen, bisa menjadi apa pun di hadapan penilaian.

Felix begitu sederhana membangun cerita, mengalir bening juga sekaligus pekat, ia melahirkan harapan-harapan bagi keputus asaan sekaligus mengaborsi mati sisa-sisa harapan.

Felix seringkali meleburkan kenyataan hidupnya ke dalam cerita -begitu seturut rabaan saya-, tentang menulis, penulis, membaca dan pembaca, lekuk kehidupan penulis dan pembaca berdamai dan berperang dan itu membuat saya kagum bahwa Felix bukan penulis yang hanya menulis.

Dalam ceritanya, bertaburan kritik sosial, keberanian menyuarakan pemahaman pemikiran, tentang rasa muak kepada penguasa, diselingi libido dan psiko(pat). Dicoraki oleh tutur khas dan gambaran sekilaa tentang di manakah itu di provinsi NTT.

Bagi saya, buku ini menakuti jiwa saya sekaligus mengajari saya jadi penulis yang bukan sekadar “manja ya, manja ya” kemudian setelah lelah bertinta disudahi dengan tumpahan bercinta haha

Advertisements

Di Suatu Malam Minggu

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku,” ia berkata, pelan tapi sinis.

Saya sedang berdiri dengan sikap hormat di deretan buku-buku Eka Kurniawan. Saya baru saja menerima royalti dari penerbit. Karena sedang kaya-raya, saya mampir ke toko buku dan memborong sangat banyak judul, mulai dari cerita anak sampai filsafat, puthut sampai solstad.

Saat berjalan ke kasir, saya berhenti sebentar di rak yang menjejerkan buku-buku Eka Kurniawan; berdiri sebentar hanya untuk menarik napas panjang dan berbisik dalam hati: Suatu hari nanti, suatu hari nanti, saya akan menjadi seorang penulis besar, dan buku saya akan terpampang juga di situ.

Saat itulah ia, seorang asing yang kebetulan lewat di depan saya, berkata sinis tepat di depan hidung saya.

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku.”

Sebagai fans garis keras Eka Kurniawan, saya merasa sangat ingin menonjok wajah orang ini; membuat nyonyor bibirnya dan menarik keluar lidahnya yang laknat. Tapi karena dia perempuan cantik, perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja, saya tersenyum ramah dan mengajaknya minum kopi.

Kami duduk di tangga masuk Malang City Point, menikmati malam, orang lalu-lalang, kopi dan beberapa potong donat. Saya baru saja menerima royalti, dan starbucks tak akan membuat saya miskin.

Sesudah obrolan basa-basi tentang buku, saya bercerita tentang masa kecil saya di Timor. Bagaimana saya menunggang kuda dan berburu rusa yang turun minum di lembah. Ia menanggapi sebentar, dan bercerita tentang ibunya yang telah lama mati; bagaimana ayahnya menikah lagi dan tingal bersama perempuan yang seumuran dengannya. Tanpa kecup-selamat-malam ibunya ia menamatkan kuliahnya di fakultas sastra, bercita-cita menjadi penulis, tapi kini berakhir di meja teller sebuah bank swasta.

Malam dan kegembiraan selalu cepat berlalu. Sebelum berpisah, saya meminta nomernya dan bertanya apakah ia mempunyai pacar.

Ia tertawa.

“Pacar adalah istilah yang aneh,” katanya. “Kami berpisah delapan bulan yang lalu. Saya lebih suka membaca buku daripada berciuman. Dia lebih suka berciuman daripada membelikan buku.”

Saya tertawa.

Ia menyambung lagi, tapi dengan suara yang lebih lirih: “Waktu itu, saya pikir buku lebih asyik daripada ciuman.”

“Sekarang?” saya bertanya. “Masih berpikir begitu?”

Dia tertawa.

Malam itu, di tengah lalu-lalang orang membeli kebahagiaan, kami berciuman. Lama dan mengasyikkan. Ia mencengkeram leher saya dan menekan kukunya dalam-dalam ke kulit tengkuk saya setiap kali…

Sayang sekali, hal di atas hanya terjadi dalam imajinasi saya. Beginilah yang sesungguhnya terjadi.

Saya memang menerima royalti, tetapi jumlahnya sangat kecil. Tentu saja sebab pembaca saya sangat sedikit. Saya malah curiga saya tak punya pembaca: buku-buku itu habis diborong oleh para reseller buku indie, yang mengira kalau buku tentang kegalauan anak muda akan laris menjelang hari valentine.

Hari ini, kemungkinan mereka sedang menyesali keputusan memasok buku yang penulisnya sama sekali tak dikenal.

Karena royalti yang sedikit, saya berpikir seratus kali untuk mampir ke toko buku. Baru sampai pikiran kedua, saya sudah membatalkannya. Jika saya membeli buku, apa yang akan saya makan? Seandainya buku bisa dimakan… Selain itu, saya sangat ingin mempunyai kos – saya telah lama luntang-lantung dari kos kawan yang satu ke kawan yang lain. Meski tersenyum ramah, ada saatnya mereka menatap saya dengan rasa bosan yang tertutupi oleh sopan santun ketimuran.

Saya juga perlu menabung untuk membeli komputer. Saya merasa sebagai anak muda paling naif: lebih banyak bekerja dengan microsoft word, tapi tak mempunyai komputer. Bahkan anak paling tolol di kelas saya mempunyai laptop hanya untuk bermain solitaire atau menonton bokep.

Karena sekian banyak kebutuhan yang menghadang, saya tidak mampir ke toko buku. Karena tidak mampir ke toko buku, saya tidak bertemu perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja dan ibunya telah lama mati. Tapi, jikapun saya mampir ke toko buku, saya tak akan mungkin bertemu dengan perempuan asing yang mau menyapa saya.

Seumur hidup, perempuan asing yang menyapa saya hanya selalu terjadi di dalam mimpi. Di dunia nyata, kebanyakan perempuan asing akan membuang muka setelah melihat wajah saya – wajah Timor saya: rambut keriting berpilin-pilin, rahang dan hidung yang terlalu besar untuk pipi yang keropos dan bola mata yang tenggelam dan sedikit juling.

Itu belum ditambah rasa ngeri di wajah mereka, sebab raut saya mengingatkan mereka pada wajah perampok-pemerkosa-pembunuh dan tokoh-tokoh antagonis lain di televisi.

Saya tidak bisa menyalahkan wajah saya (tentu saya tak pernah menandatangani nota pemesanan fisik sebelum lahir) ataupun raut jijik-ngeri mereka. Saya tahu, sejak dilahirkan, kami terlempar ke dalam suatu sistem sosial yang yang punya standar ganteng-jelek-baik-jahat, yang selalu mengajari kami untuk menilai orang lain dari fisiknya.

Jika punya hidung yang mancung atau dahi yang mirip bintang iklan, kami merasa lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, kami akan menjadi malu dan tidak percaya diri jika memiliki hidung besar, rambut keriting, atau terlalu kurus, terlalu gemuk, atau punya kulit terlalu hitam.

Beberapa orang mengatakan, kami bisa saja menyelamatkan diri dari sistem brengsek itu dengan lebih banyak membaca buku. Tapi saya meragukan hal itu. Industri menyediakan terlalu banyak buku sampah dan kami hanya pasar yang selalu bergerak dari satu ketololan menuju ketololan yang lain.

Jikapun saya mampir ke toko buku dan bertemu seorang perempuan asing yang menyapa, saya tak punya cerita petualangan untuknya. Seumur hidup saya tak pernah menangkap rusa, hidup atau mati. Di masa kecil, binatang yang berhasil saya tangkap hidup-hidup adalah beberapa ekor semut hitam, yang mati sesudah saya adu kelahi dengan ribuan semut merah. Bahkan nyamuk-pun tak pernah berhasil saya tangkap: mereka mengisap darah saya tanpa ampun sampai saya kerontang.

Saya menyusuri jalanan kota yang berlubang. Asap knalpot menampar, kendaraan lalu-lalang, dan pekik klakson bersahut-sahutan. Di depan ruko-ruko, mobil-mobil parkir bertumpuk-tumpuk sampai ke bahu jalan. Malang semakin padat, tak ada tempat lagi untuk pejalan kaki.

Di balik setir, tak ada orang yang sabaran. Ini sabtu malam yang mampat; entah dari mana orang-orang ini berasal: orang-orang tolol-robotik yang hanya bisa menikmati hidup di malam minggu. (Sudahlah, mereka hanya korban peradaban).

Melintasi Malang City Point, saya melihat puluhan orang antri di starbucks, di J-Co. Saya pernah mengunyah makanan dari sana, dan buruk sekali rasanya. Orang-orang kota punya selera yang aneh. Bukan hanya soal makanan, tapi juga soal tulisan. Saya pikir, Lelaki Harimau adalah buku yang bagus, tapi Cantik itu Luka selalu ingin saya edit. Seperti Dendam masih bisa dimaklumi, tapi jika O benar-benar ditulis Eka, ia sama sekali tak layak terbit!

Felix dan Mimpinya

Oleh: Tarsy Asmat, MSF*

Sebuah kumpulan cerpen berwarna sampul coklat terang mengundang saya untuk membacanya. Mula-mulanya saya bertanya, mengapa diberi judul Usaha Membunuh Sepi?

Saya menduga, pengarangnya sedang didera oleh ribuan kesepian, dan ia belum merdeka dari selimut sepi. Kemudian saya membaca anak-anak cerpennya: Ponakan, Sang Penulis, sebelum Minggat, Usaha Membunuh Sepi, Pembual, Kenangan, Belis, Indra dan ditutup dengan Penumpang Gelap. Apakah susunan demikian sengaja dibuat oleh Felix, atau diurut berdasarkan tanggal kelahiran cerpennya? Sebaiknya pertanyaan ini, kita tanyakan kepada Felix saja.

Namun, setelah saya membacanya, kumpulan cerpen yang tipis (67 halaman) ini merupakan potret mimpi besar seorang Felix. Kerinduan besar pengarang adalah menjadi seorang pembesar di dunia tulisan serta relasinya dengan lingkungan.

Penulis Besar Masa Depan

13312825_1060624727351558_8341689867944991032_n

Saya pun membaca karya Felix ini dari sudut hubungan sastra dan psikologi. Wellek dan Warren (1977) menyatakan ada empat pengertian sastra dan psikologi 1) psikologi pengarang, 2) studi proses kreatif, 3) studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam sastra dan 4) mempelajari dampaknya pada pembaca. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis hanya menjelaskan berdasarkan pengertian yang pertama. Untuk pengertian dua sampai keempat perlu penelitian dan pendalaman bersama dengan penulis sendiri.

Kita tidak perlu mendebatkan apa itu sastra, ukuran kualitas dan segala tetek bengeknya. Cerpen adalah bagian dari sastra. Dalam kumpulan cerpennya, pengarang dengan dingin memperlihatkan kerinduannya yang lama terpendam. Kerinduannya ialah menjadi penulis, terlihat dari bagian akhir cerita tentang keponakannya.

“Saya tarik lebih kuat lagi, dan saya ikatkan pada batang pohon. Ia tergantung. Matanya melotot lagi dan lidahnya mulai terjulur keluar. Mulutnya mengeluarkan suara-suara aneh. Sore itu, saya pulang sendiri. Takkan ada orang yang akan merusak gelembung sabun saya lagi” (Felix, 2016: hlm 6)

Sekilas tokoh ‘saya’ adalah seorang pembunuh berdarah dingin, yang membunuh keponakannya dengan cara mengerat tali pada lehernya dan menggantungkan pada pohon, hanya karena keponakannya mengganggu “saya”. Namun, Cerpen ini dilanjutkan dengan cerpen “Sang penulis”.

Menurut saya, cerpen “Keponakan” merupakan ekspresi paling jelas dari diri pengarang tentang visi hidupnya. Mengapa ia tidak menyukai keponakan yang selalu bertanya-tanya? Dalam terori psikologi, sifat anak-anak memang kreatif, selalu bertanya, mengusil apa saja. Namun, tokoh ‘saya’ membenci dunia kanak-kanak. Dunia kanak-kanak yang suka bertanya, menemukan pola merupakan khas rasionalitas dan empirisme.

Pengarang membunuh dunia seperti itu. Pengarang lebih menikmati kesendirian, kesunyian, tanpa bising nyamuk sekalipun. Namun, ia juga menunjukan identitasnya yang hadir sebagai penggonggong situasi sosial. Kesepian-kesepian dan cinta ditransformasikan menjadi karya yang bisa dinikmati khalayak luas. Melalui tokoh Agus, pengarang memperlihatkan bagaimana menjadi seorang penulis yang diimpikan itu? Seorang wanita cantik dari luar negeri ingin menerjemahkan karyanya.

Life Style

Bagaimana menjadi seorang pengarang besar? Cerpen “Sang Penulis’ yang ditempatkan setelah kematian keponakannya, menurut saya juga merupakan tema dari semua cerpen-cerpen dalam buku ini. Namun, jika judulnya, Sang Penulis, kemungkinan daya jual dan memikat pembaca mungkin tidak sekeren dengan judul usaha membunuh sepi. Sastra juga memperhitungkan pasar. Sebab penulis tanpa pembaca akan mati.

Gaya hidup paradoks diperlihatkan dalam tokoh-tokoh dan persoalan cinta, politik, budaya dan sebagainya. Pengarang mempunyai sikap kritis, tetapi juga melankolis. Potret latar belakang diri Agus, kehilangan orangtua dan binatang kesayangannya menunjukan sisi lain dari seorang penulis. Sang Penulis menguak horisan seorang penulis sekaligus parodoks kehidupannya. Ia menegaskan jalan hidupnya secara tegas sebagai anak ideologi dari Heideger, Sartre, Nietzche, dll.

Seorang Sastrawan Prancis sekaligus Filsuf besar Eksistensialis, J.P. Sartre adalah sosok yang mengidolakan kebebasan. Bagi Sartre kehadiran orang lain adalah neraka atau perusak baginya, karena orang lain selalu akan meng-objekkan dirinya. Inilah bagian otomitas diri seseorang dan pengakuan akan kebebasan seseorang pengarang eksistensialis. Selain itu, pembunuhan terhadap keponakan merupakan gambaran pembunuhan subjek Descartes. Dalam filsafat Descartes, subjek identik dengan rasionalitasnya, cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada.

Setelah membunuh rasionalitas soliter demikian, lalu pengarang mendirikan gagasan hidupnya pada jalan kehidupan yang paradoks. Menurut Nietzche, originalitas hidup itu adalah ketika seseorang menerima paradoks kehidupan, menerima kesepian, penderitaan, cinta, dan sebagainya tanpa menghakimi atau menghindari realitas demikian. Inilah yang disebutnya vitalisme kehidupan (Listiyono & Sunarto, 2006:58). Seseorang menemukan siapa dirinya, ketika ia terjebak dalam situasi yang mana kebanyakan orang lari dan menghindar, yaitu kesepian dan kesakitan.

Mungkinkah kehidupan paradoks ini yang ingin dijalani oleh pengarang? Rupanya, banyak penulis besar lahir dari kegetiran hidup seperti si Agus dalam cerpen Sang penulis. Pengarang besar kerap kali orang yang tidak normal dari kacamata mayoritas, mereka bahkan bisa dikatakan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa (Waren 1971, hlm 32). Cerpen-cerpen selanjutnya hanya mendeskripsikan dengan indah kehidupan sekaligus kebebasan sang pengarang sebagai seorang yang — bisa dikatakan — pemberontak.

Untuk Pembaca Felix

Usaha Membunuh Sepi adalah buku yang menarik. Selain daya kreatif penulis, buku ini juga mengajak pembacanya untuk mempunyai mimpi besar. Semua orang mempunyai mimpi namun tidak semua orang berani menyeberangi kesunyian hidupnya untuk mewujudkan mimpinya. Sebenarnya ada banyak tema yang disodorkan oleh penulis; persoalan kebudayaan seperti diangkat dalam cerpen belis, persoalan kemiskinan, persoalan cinta dan sebagainya.

Pengarang akan membawa anda pada pengalaman keseharian yang semua manusia mengalaminya dengan bahasa yang sederhana tetapi membuat mimik anda berubah-ubah: merengut, tersenyum dan tertawa. Pembaca bisa menikmati Usaha membunuh Sepi ini entah ditemani kopi pada senja hari, atau di bawah pohon rindang, atau dimana saja. SELAMAT MEMBACA, sambil tersenyum-senyum.

*Tarsy Asmat, MSF adalah seorang calon imam Misionaris Keluarga Kudus propinsi Kalimantan. Alumnus STFK Sasana Widya Malang. Bermukim di Malang.

Pemburu Kepala Manusia

(Artikel ini diterjemahkan dari catatan perjalanan Theodora — lengkap dengan foto-fotonya. Anda bisa melihat versi aslinya di sini.)

Kores memegang senjata ayahnya dengan bangga. Sebilah kelewang pendek yang terbungkus dalam kain tenun-ikat, dan dua bilah tombak kayu yang kasar.

kelewangTatapannya telah memudar – sebelah matanya menutup, lenyap seperti gigi-giginya. Ada sebuah gondok di bagian belakang tengkoraknya yang lebih besar dari lingkar pipinya.

Ia tak bisa lagi mengunyah sirih-pinang. Ia menumbuk bebijian itu di dalam sebuah tabung besi kecil, sebelum memasukkannya ke mulut untuk menyenangkan gusinya.

“Apakah ayahmu memenggal juga kepala perempuan dan anak-anak?” aku bertanya. “Atau hanya laki-laki?”

“Anak-anak?” ia mengulangi, dan menatap menantunya untuk memastikan. “Lebih baik menantu saya saja yang bercerita; ingatannya masih kuat.”

Andreas, menantu Kores, yang tampak bercahaya dalam balutan kaos merah yang mengiklankan tas plastik, dan sebuah sarung kemerahan – semerah noda sirih-pinang di bibirnya, angkat bicara. Selain menguasai Bahasa Indonesia dengan lebih baik daripada ayah-mertuanya, ia juga bisa menulis. Sebenarnya, ia baru saja tiba dari sebuah pertemuan adat, menenteng sebuah buku catatan. Dua anaknya yang kecil-kecil menyembunyikan kepala mereka ke dalam sarungnya, mendongak dari waktu ke waktu; dua orang penyusup berwajah pucat.

“Tidak,” katanya. “Kami tak pernah mengambil kepala anak-anak. Sudah delapan generasi tidak pernah. Delapan generasi…” ia berhenti sebentar untuk membuang ludah merah sirih-pinang, “Kami hanya mengambil kepala laki-laki dewasa.”

Asap dari tungku menampar wajah Z. Z terbatuk-batuk.

Keluarga itu terlihat keheranan. Asap sama sekali tak mengganggu anak-anak di kampung ini. Mereka telah terbiasa kena asap sejak lahir.

Kami sedang berada di Timor – Indonesia Timor – di sebuah kampung bernama Nome, yang diduga adalah kampung pemburu-kepala terakhir yang masih bertahan.

Ini tempat yang tak biasa. Pondok-pondok berbentuk sarang tawon yang pendek dan melingkar, diatapi alang-alang yang telah menghitam sampai ke tanah karena asap, berjejer di atas tanah liat yang cerah, dikelilingi pohon-pohon lontar dan, anehnya, pohon kayu putih.

Posisinya menunjukkan betapa kampung ini pernah menjadi sebuah kampung dengan benteng yang menakjubkan.

Sebuah pagar tembok dari batu karang yang bergerigi, yang telah dihancurkan untuk jalan dan pagar ladang, berdiri setengah meter tingginya, meski pernah berdiri setengah meter lebih tinggi lagi. Pola dasar kaktus liar berbaris di atasnya, sisa-sisa pagar kokoh, sejenis kawat duri alami.

Tebing menjulang setinggi 60 atau 70 meter di tiga sisi kampung ini, ditutupi pepohonan yang menjadi perisai pertahanan, sekaligus menawarkan pemandangan yang luar biasa.

“Ini adalah tempat mereka merencanakan penyerangan,” Aka, pemandu kami, menjelaskan, saat kami berdiri di panggung kecil yang teduh tempat para pemburu mengadakan pertemuan. “Jika mereka datang dari utara, mereka menunjuk sebatang tongkat ke arah utara, dan jika jarinya tak mencapai tengah, orang itu akan mati.”

Salah satu dari pemuda-pemuda kampung itu memeragakannya, memutar-mutar tongkat itu dan menjulur-julurkan tangannya.

 “Hanya begitu saja caranya?” aku bertanya.

“Tidak,” ia menjawab, “ Mereka bisa mencoba lagi kedua kalinya. Jika kembali gagal, mereka mencari jawabannya di dalam telur. Jika ada darah di dalam telur, laki-laki itu akan mati.”

Aku mengangguk. Kami mengambil foto di dekat sejenis tiang takhta di bawah cengkaman pohon ara. Pohon yang disucikan di seluruh Asia – di banyak tempat, mereka menyebutnya pohon Budha – dan menjadi rumah untuk para pendahulu suku.

(It is, as they say, a far cry from Kensington. Or Hackney, for that matter.) (Saya sonde mengerti konteks kalimat ini, penerj.)nome-timor-kids

Di luar pondok baru mereka, istri Kores tersenyum lebar dan menyodorkan semangkuk ubi jalar, umbi berwarna pucat yang masih segar dari tanah merah. Aku mengambil satu, mengupas dan menggigitnya. Sangat lezat.

“Apa yang kemudian mereka lakukan dengan dengan kepala-kepala itu?” Z bertanya.

Aku mengulanginya, dan Aka menerjemahkannya dalam Bahasa Dawan. “Apa yang kemudian mereka lakukan dengan kepala-kepala itu? Lalu, bagaimana dengan tubuh-tubuh tak berkepala itu?”

“Raja mengambil kepala-kepala itu. Raja Nope. Para ksatria menunggui kepala-kepala itu empat hari empat malam, lalu mereka memberikannya pada raja.”

“Tubuhnya?”

Mereka meninggalkan tubuhnya di sana.”

“Apa yang kemudian dilakukan kepala-kepala itu?”

“Tuan raja! Tuan raja menyimpannya.”

“Apa yang terjadi pada kepala-kepala itu sesudah mereka tidak diizinkan untuk berburu kepala lagi?”

Hening. Tak ada yang tahu.

totem

Saat mereka menceritakannya – siapa yang tak menceritakan kisah leluhurnya dengan baik? – perburuan kepala di Nome terdengar seperti ritual yang positif dan dihormati.

Seorang lelaki sudah harus mencapai usia empat puluh untuk diizinkan berburu kepala manusia. Hanya lelaki-lelaki terkuat yang bisa ikut berburu kepala – sebuah praktek yang, dalam istilah evolusi, terdengar seperti cara menentukan pemimpin .

Ksatria-ksatria yang terhebat, seperti tiga orang bersaudara yang terkenal, Oni, Boi dan Kao, akan dianugerahi pangkat “Meo” – ini seperti pencarian para ksatria di abad pertengahan.

“Di mana kampung lain yang berburu kepala manusia di sekitar sini?”

“Hanya Nome.”

“Jadi, tak ada kampung lain yang berburu kepala orang? Hanya kalian?”

Hanya mereka. Hanya ksatria-ksatria mereka yang memburu kepala pria di kampung yang lain. Meski begitu, ada dua kerajaan lain di wilayah ini yang mempunyai pemburu kepala juga – begitu kata mereka kemudian.

Saat ksatria memasuki kampung, kepala-kepala bergantungan di bahu mereka, darah mengental di sekitar leher-leher yang telah terpotong itu, dan seluruh penduduk kampung, laki-laki, perempuan dan anak-anak, akan merayakannya, makan, minum dan menari di dalam benteng.

Kebanyakan rumah di kampung ini masih berdiri seperti adanya di masa perburuan kepala manusia. Sentuhan modernitas di tempat ini lebih sedikit, dibandingkan dengan rumah-rumah panjang di Borneo.

pondok

Tak perlu dipertanyakan lagi, ini adalah strategi pertahanan yang bagus.

Z, di usianya yang sepuluh tahun, hampir sama tingginya dengan laki-laki dewasa di kampung ini, harus membungkuk dua kali lipat saat ingin masuk ke dalam pondok tawon itu. Di situ, di pondok itu, seorang ksatria pemberani mati secara mengerikan dan dalam ketakpantasan.

Apakah begitu cara hidupnya hidup?

Well, pondok bundar ini memiliki diameter kurang lebih tiga meter. Tinggi pintunya kurang dari satu meter. Langit-langitnya satu meter lebih sedikit dari atas permukaan tanah. Di kasau-kasaunya, tergantung bulir-bulir jagung yang diasapi di atas tungku api; tungku api yang memanggang seisi ruangan itu sampai hitam berjelaga.

Di situ tidak ada jendela. Tidak ada cerobong asap. Saat pintu ditutup, asap merembes keluar melalui celah-celah pintu dan setiap celah alang-alang yang terlepas di atap.

Saat seorang bayi lahir di kampung ini, ari-arinya dikuburkan di lantai pondok, dan ditutupi dengan sebuah batu besar pipih.

Ibu dan bayinya harus menghabiskan empat puluh hari empat puluh malam pertamanya hanya di dalam pondok saja, diasapi seperti ikan kering – dan sebagai seorang perokok, saya tidak dengan asal saja memilih frasa ini.

“Ya Tuhan,” Z terlonjak, “Pasti sangat besar tingkat kematian bayi di sini. Bayangkan semua kutu, serangga dan penyakit yang ada di dalam sana.”

“Tidak,” Aka berkata, “Kaulihat anak-anak kampung itu? Mereka sehat dan kuat.”

Kelihatannya begitu. Mereka adalah anak-anak paling beringus yang pernah kulihat di Indonesia, kemungkinan besar diakibatkan oleh terlalu banyak menghirup asap, meski tentu saja mereka tidak lebih beringus dari bocah-bocah di sebuah kelas Bahasa Inggris musim panas.

Tapi mereka berlarian ke sana kemari dengan kuat dan gembira, anak-anak yang periang.

nome-timor-little-girl-and-her-brother

Perburuan kepala manusia di Nome dihentikan tahun 1942, cerita dilanjutkan kembali. “Saat kemerdekaan,” begitu Kores menjelaskan.

Dalam logika seorang Eropa, tentu saja angka tahun itu mengagetkan. Aku menghitung kemerdekaan Indonesia dimulai di tahun 1945. Saat Perang Dunia II berakhir, Jepang pergi dan pemerintahan baru memproklamasikan kemerdekaan (meski Belanda tidak mau menyerah sampai tahun 1949).

Orang-orang ini menghitung kemerdekaannya dimulai sejak Jepang menghalau bangsa Belanda di tahun 1942. Hidup di komunitas ini membuat memori mereka terlambat lima tahun.

“Kenapa dihentikan?” aku bertanya.

“Tidak diizinkan,” ia menjawab.

“Polisi?” Aku bertanya.

Ia diam lagi dan investigasiku mengalami kebuntuan.

Aku menduga – dan ini adalah murni dugaan tak berdasar – bahwa pemimpin Indonesia di masa sesudah kemerdekaan diam-diam berbicara dengan raja mereka, mengatakan bahwa perburuan-kepala-manusia  tidak bisa dilakukan dalam pemerintahan modern…

Tampaknya, perburuan kepala ini, jujur saja, tidak mengganggu pemerintahan Belanda. Kita sendiri telah mempelajari, bahwa di Kepulauan Rempah ini, seseorang dapat melakukan pembunuhan massal hanya untuk membalaskan kematian anjingnya. Bahkan, beberapa kelompok masyarakat di timur Indonesia tidak mengenal hukum lain di luar hukum adatnya, sering hingga beberapa dekade sesudah kemerdekaan.

interior-pondok
Foto dari dalam pondok/ume kbubu yang berlubang (keterangan oleh penerjemah)

Saya tidak yakin apa yang membuat saya dan Z merasakan sesuatu. Yang jelas, bukan persoalan perburuan kepala yang mengganggu kami. Ya, bagaimanapun juga, itu cukup bisa diterima sebagai cara hidup seorang ksatria.

Ini masalah asapnya!

Beberapa hari di Indonesia Timur, kami telah pernah tidur di bawah para-para dari papan tempat penampungan daun kelapa, di atas karung beras di sungai yang telah mengering, kencing di semak dan cebok dengan dedaunan, menyaksikan kerbau dikurbankan dan para pria saling hantam sampai mampus dengan tanduk kerbau, dan bertemu para pemburu-peramu nomaden, yang ke mana-mana membawa sihir mereka dalam sabuk rotan.

Kami bisa melihat sisi pesona dari gaya hidup seperti itu. Itu sesuatu yang berbeda, tentu saja. Tapi masih bisa dipahami.

Namun pengasapan di dalam ruangan gelap ini? Ini sama sekali tak bisa dipahami.

Di dunia ini, ada beberapa orang yang memilih untuk hidup dengan cerobong asap, atau paling tidak berusaha mengusir asap dari kediaman mereka.

Di sini, kita disambut di dalam pondok yang seperti sarang tawon, duduk di ruangan gelap yang hanya diterangi lampu minyak kecil: tungku untuk memasak dan sebuah periuk hasil improvisasi dari kaleng biskuit tua terletak di salah satu sudut, dan ada sebuah balai-balai kecil tempat anggota keluarga tidur bertumpuk-tumpukan.

Keluarga-keluarga di Nome bisa – dan mampu – membesarkan delapan atau lebih anaknya di dalam liang kecil ini, meskipun beberapa dari mereka mulai menambahkan ke dalam gaya hidup tradisional mereka, sebuah pondok yang lain lagi, yang berbentuk persegi panjang dan memiliki tempat terbuka untuk memasak.

Keluar dari pondok itu, mata kami beradaptasi kembali dengan matahari yang bersinar terang dan kami duduk sebentar dengan para perempuan kampung, lalu menyodorkan sirih-pinang yang kami bawa. Sirih-pinang dikunyah dengan sedikit kapur yang terasa pedas; itu membuat nadi berdetak lebih cepat, meningkatkan laju berpikir, membuat mulut terasa kering.

mama-merokokAku menyodorkan sirih-pinang dan membagikan rokok. Seorang perempuan dengan struktur tulang yang mempesona, yang memiliki wajah model tahun 1930-an dengan sebuah jaket bekas menggantung longgar di atas sarung-ikatnya, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke arah matahari.

Keriuhan terjadi. Semua orang – perempuan dan anak-anak – ketawa ngakak terguling-guling.

“Apanya yang lucu?” Z bertanya.

“Gak tahu,” aku menjawab. “Mungkin karena perempuan itu merokok, dan perempuan di sini tidak diizinkan merokok.”

Dan saat kami berboncengan pulang ke (never-ending sprawl of) Kefamenanu, kota kecil terbesar di Indonesia, hampir 4000k tertempuh sepeda motor kami, dan sebelum kami menaikkannya ke kapal untuk bertolak ke Papua, pikiran kami seperti bergentayangan tak tentu arah, hilang dari kepala kami.

Yang mengesankan kami adalah asap. Kegelapan. Lelucon yang terlalu sederhana untuk dipahami. Kesederhanaan hidup tak terbatas di antara suku-suku pedalaman.

Di daerah Timor Tengah, relatif hanya sedikit orang yang berbahasa Indonesia. 
Aka Nahak tinggal di Kefamenanu, menguasai bahasa Dawan, Belu dan Tetun, 
juga bahasa Inggris yang baik; ia bisa dihubungi di timorguide@gmail.com 
atau langsung ke HP-nya +62 (0)852 5346 3194.

(Theodore dan Z atau Zac adalah ibu dan anak yang berkeliling dunia sejak bulan Januari 2010. Selebihnya tentang mereka bisa anda baca sendiri di sini.)

Yang Saya Copas dari Status Facebook Jabar Abdullah

15822589_10209675260331200_2439441950698974079_n“Usaha Membunuh Sepi”-nya Felix K. Nesi merupakan satu dari sekian banyak buku sastra yang mengusung tema lokalitas di kampung halamannya, Nasem, Nusa Tenggara Timur, dan sekitarannya. dalam kumpulan cerpennya ini, ia entah berada di mana dan posisinya sebagai apa ketika ia menuliskan segala yang terkait dengan lokalitas, tradisi dalam pernikahan misalnya, yang dianggapnya sebagai sebuah persoalan. Felix terkesan sebatas ‘memberitahu’ bahwa tradisi semacam itu memberatkan bagi yang melakoni. terkait dengan kritiknya ini, ada proses risetkah sebelum ia mengkritik tradisi tersebut? kenapa ia begitu emosional ketika dihadapkan pada tradisi tersebut? pertanyaan ini saya produksi ketika kami mengobrol santai stan Komunitas Literasi Malang setelah bukunya didiskusikan dan dibacakan di panggung Pesta Malang Sejuta Buku 2016, Kamis (29/12). obrolan tersebut kemudian merambah ke banyak hal yang juga menjadi bagian dari lokalitas di kampung halamannya.

“sejak kapan kuda di kampung halamanmu itu ada dan menjadi alat transportasi?” tanyaku ketika ia menceritakan adanya keseharian yang melibatkan kuda.

tidak hanya kuda, dalam jagongan itu ia juga memberitahu jika tradisi lisan di kampung halamannya lebih kuat daripada tradisi tulisnya. seperti di ludruk, distribusi pengetahuan di sana tersampaikan melalui tradisi lisan. sangat jarang ditemui tinggalan berupa tulisan. dan semoga saja, Felix nantinya juga tergerak menciptakan gerakan literasi di sana, di Kampung halamannya.

selain kumcernya Felix, ada oleh-oleh yang lain. dan tentu saja berupa buku. buku yang isinya berbeda dengan bukunya Felix. buku yang dihadiahkan oleh Mas Yusri Fajar ini kumpulan tulisan yang berisi pemikiran tentang sastra, budaya dan bahasa. jenis buku yang dinilai mas Yusri jarang diterbitkan. jumlahnya kalah jauh dengan jumlah terbitan karya sastra. pertanyaannya kemudian, kenapa? apakah jarangnya ini seiring dengan jumlah kritikus dan pemikirnya? kenapa pula banyak penulis yang lebih memilih menjadi penulis cerpen, puisi, novel, daripada menjadi kritikus?

begitulah obrolan kami di kursi panjang yang telah lebih dulu duduk di atas lantai dasar FIB Univ. Brawijaya sebelum kami menduduki kursi panjang itu.

maturnuwun kepada Denny Mizhar dan Mas Yusri Fajar.

Berita dari Kurawan, Cerita dari Wartawan

 

 

kholid-novel-57100ae2f47e61f3227f8c99

Judul               : Berita dari Kurawan

Penulis             : Kholid Amrullah

Cetakan           : Pertama, April 2016

Penerbit           : Dream Litera

Tebal               : 226 hal., 14×21 cm

ISBN               : 978-602-1060-58-2

 

Apa yang paling ditunggu di dunia ini selain kabar? Penggalan pertanyaan dalam novel ini kemungkinan bisa menjawab pertanyaan mengapa Kholid Amrullah konsisten menjadi pengabar (baca: wartawan) dan kemudian menulis novel berlatar kehidupan para pengabar: Surat dari Kurawan.

Lewat tokoh Panca dan Salman, dua orang wartawan dari dua surat kabar yang berbeda di kota Kurawan, Surat dari Kurawan bercerita tentang lika-liku kehidupan wartawan. Bagaimana Panca, seorang wartawan yang telah berkeluarga, yang memiliki seorang isteri yang cerewet dan agresif (tiba-tiba isterinya terbangun dan langsung menampar wajah Panca; hal. 15), juga seorang puteri yang masih cadel dan butuh susu, harus mengejar berita, sampai kerap berurusan dengan preman yang dipekerjakan penguasa dan amplop-amplop tebal berisi uang sogokan.

Di depan para preman, jelas Panca belajar untuk berhati-hati. Tapi di depan amplop, dorongan antara menerima dan menolak sama-sama kuat. Jika ia menerimanya, maka “penanya akan bengkok-bengkok, lalu patah tak bertuah”. Tapi jika ia menolaknya, gajinya wartawan sangat kecil dan handphone–nya terus menerima pesan singkat: “Mas, susu anak kita habis…” Dalam kata pengantarnya untuk novel ini, Yusri Fajar menggambarkannya sebagai “pilihan-pilihan yang harus dia renungkan melalui mata batinnya: menuliskan dan mengungkap kebenaran, atau membiarkannya hilang tanpa jejak dan tulisan”.

Selain Panca, ada juga Salman, wartawan yang lebih sering galau bukan sebab urusan rumah tangga, tapi sebab urusan cinta. Bukan cerewetnya isteri atau susu anak yang menganggunya, tapi guyonan teman-temannya: Jodohmu telah mati! Bagaimana mungkin bertemu jodoh yang telah mati? Usianya hampir kepala tiga, tapi belum jua ia menemukan seorang perempuan yang bisa mengomelkan uang belanja. Perempuan terakhir yang ia cintai hanya memanfaatkan dirinya untuk mengetik skripsi. Di hari wisuda, perempuan itu malah bersanding dengan lelaki lain. (Betapa melas-nya!)

Dalam kegalauannya itu, Salman kemudian bertemu dengan Karina, dan mereka saling jatuh cinta. Tentu saja permasalahan hati yang ia hadapi ini cukup jauh dari urusan profesionalitas (urusan hati tak berhubungan langsung dengan dorongan menerima suap atau tidak, seperti urusan ekonomi yang dialami oleh Panca), sehingga tanpa kesulitan apa-apa Salman bisa membuat tulisan tentang korupsi pejabat-pejabat di kabupaten Pakunden.

Namun, masing-masing orang mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, dan Berita dari Kurawan dengan lihai membikin kaitan, bagaimana idealisme dan profesionalitas yang diusung Salman, wartawan muda yang malang dalam cinta itu, berujung pada perginya Karina. Karina meninggalkannya dan membencinya. Oh, jika kamu mengira bahwa Karina pergi karena Salman terlalu idealis dan profesional dalam kerja sehingga mengabaikan Karina, kamu salah, tentu saja. Masalahnya lebih pelik dari itu. Salman tidak sibuk-sibuk amat. Mereka selalu bertemu setiap minggu, dan Salman adalah lelaki romantis yang juga suka menulis puisi. Ia sangat sering membikin bait-bait puisi. Lewat tokoh Salman ini, kita bisa menemukan Kholid yang seorang penyair:

Pada wajahmu kulihat kabut tipis

Tersangkut di juntai sehelai alis

Mendesakku memendam rindu yang juga tak habis

Singkatnya, lewat kehidupan dua tokoh ini, Panca dan Salman, kita diberi kesempatan mengintip kehidupan para wartawan, kisah-kisah para wartawan yang kadang tidak kita ketahui. Bagaimana mereka berhadapan dengan para penguasa, penguasa yang lebih sering bekerja dengan uang dan preman, ketimbang dengan nurani.

Di salah satu bagian ditampilkan bagaimana wartawan menghadapi teror preman-preman bayaran, dan salah satu gaya teror yang menarik adalah teror lewat pesan singkat yang disebut sebagai teror yang halus: “Banyak teman banyak rezeki. Kita tidak tahu sampai kapan umur kita”. Saya membaca penggalan kalimat itu berulangkali dan sama sekali tak paham di mana sisi terornya. Bagi saya, saya yang tidak terbiasa berkomunikasi dengan ‘bahasa’ preman, menganggap kalimat itu sama sekali bukan kalimat teror. Bagi saya, itu hanya pesan motivasi belaka, mirip-mirip penggalan pesan yang sering diucapkan motivator-motivator di televisi. Tapi, sayang, itu benar-benar adalah teror!

 

Kabar dari Bawah

Kisah-kisah para wartawan ini berkelindan dengan kisah-kisah masyarakat bawah yang melatarinya. Kehidupan masyarakat bawah menjadi hal menarik dalam novel ini, dengan ditampilkannya sebuah warung milik Mbok Jinah di tepi jalan di tengah kota Kurawan; warung kecil berdindingkan kain dan anyaman bambu, tempat orang-orang kecil kerap datang untuk makan (dan mengutang) juga tempat wartawan-wartawan berkumpul dan berdiskusi.

Dari warung itulah biasanya beredar cerita demi cerita, dari mulut ke mulut, mulai dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal. Tentu saja tempat seperti itu lazim ada di seluruh Indonesia, dan telah diceritakan oleh banyak buku, tapi Berita dari Kurawan menyiratkan satu hal penting, bahwa tempat-tempat seperti itu lambat laun akan hilang satu persatu oleh penggusuran.

Dalam Berita dari Kurawan, salah satu cerita yang tak masuk akal – tapi sering beredar dalam luas di dunia nyata – adalah kisah tentang bus hantu yang membawa orang dari Probolinggo ke Terminal Bungurasih hanya dalam waktu 2 menit. Atau seorang kakek di Ponorogo yang ingin mencangkul di sawah, tapi dalam perjalanannya diajak naik sebentar dalam angkutan – hanya sebentar – dan tahu-tahu diturunkan di Blitar. Juga Mbok Jinah yang tiga hari lamanya diajak pergi seorang perempuan cantik-misterius berkeliling ke Malaysia dan Singapura.

Cerita-cerita seperti itu telah terbiasa beredar dan biasanya menggemparkan selama berhari-hari, sebelum akhirnya ditutup oleh cerita yang lain lagi. Termasuk, jika ada cerita tentang korupsi para pejabat yang dimuat dalam koran, nasib cerita itu sama, bergerak dari mulut ke mulut dan menyebar bak virus; dari kuli bangunan ke tukang bakso, tukang bakso ke tukang ojek dan ke orang-orang kecil lain-lain. Hal-hal seperti ini dikemukakan dengan rinci dalam Berita dari Kurawan, sehingga kemudian dengan sendirinya kita bisa melihat sebuah kekuatan masyarakat bawah; sebuah kekuatan besar, sangat besar, seperti yang dituliskan dalam novel ini: Jika kelompok marginal membuka mulut, orang tulipun akan mendengar, orang tidurpun akan bangun.

Orang Miskin Harus Berani Merebut Pendidikan!

Alasan Besar Kenapa Kita Boleh Mencuri Buku.

Saya sungguh sangat ingin menjabarkan seruan di atas dengan berbagai-bagai teori, atau berbagai-bagai pemikiran, misalnya yang saya kutip dari sebuah buku motivasi, atau sebuah novel tentang orang miskin yang bersusah payah mendapatkan pendidikan. Tapi saya harus jujur bahwa saya muak dengan semua tata cara, tata pikir dan tata kebiasaan orang kota, di mana salah satunya adalah kebiasaan bahwa untuk menyampaikan pemikiran saya, saya harus melandaskannya pada satu atau dua teori orang lain yang disebut ahli.

Begini: Orang miskin harus berani merebut pendidikan! Merebut pendidikan yang di dunia ini telah dimonopoli oleh orang-orang yang punya duit. Kau membutuhkan uang untuk mendapatkan guru. Kau membutuhkan uang untuk membeli buku bagus. Kau membutuhkan lebih banyak lagi uang untuk masuk ke sekolah. Semakin lengkap fasilitas dan semakin cerdas pengajar di sekolah itu, akan semakin mahal biayanya. Jangan dulu bicara tentang kampus-kampus berkualitas. Saya (terlebih) sedang bicara pada anak-anak NTT: Tengok sekelilingmu! Sekolah-sekolah swasta milik Gereja Katolik menampung sangat banyak pengajar berbobot, dengan kurikulum dan kedisiplinan tinggi yang – semua orang NTT tahu – menghasilkan orang-orang cemerlang. Kebanyakan intelektual NTT hari ini (mulai dari yang paling kolot pikirannya sampai yang paling maju pikirannya sekalipun) minimal pernah mengecap pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan swasta milik Gereja Katolik. Tapi mari cari tahu: Berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk ke sekolah-sekolah itu? Bukankah kebanyakan anak yang akhirnya masuk ke sekolah-sekolah itu adalah anak-anak pegawai negeri yang bisa mengajukan kredit di bank? Atau anak-anak pemilik tanah? Atau anak-anak para keturunan raja? Beberapa anak miskin akan masuk sekolah negeri, dipukul-pukuli guru matematika karena tak bisa menghafal perkalian, dijauhi sebayanya karena tolol dan berpakaian lusuh dan jarang nongkrong di kantin. Tak bisa dinafikan, beberapa yang lain mungkin akan bertemu novel Andrea Hirata dan berusaha mengejar mimpinya; tapi saya tak sedang bicara tentang mereka. Saya bicara tentang anak-anak muda yang berakhir kabur dari sekolah dan menjadi kondektur bis Kupang-Atambua, atau preman pasar, atau jongos toko Cina, yang akan menghabiskan upah kerjanya untuk mabuk dan membeli android mahal dan pulsa dan sepeda motor bekas yang kemudian dimodifikasinya dengan cat mentereng dan bunyi knalpot yang bikin pekak. Itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Itu semata-mata karena mereka tak punya pengetahuan tentang apa yang mereka lakukan. Bagaimana mereka punya pengetahuan tentang itu, jika pendidikan yang mengajarkan pengetahuan tentang itu telah dimonopoli oleh orang-orang kaya?

Maka saya ulangi lagi: Orang miskin harus berani merebut pendidikan! Sebab hanya orang miskin yang bisa menyelamatkan orang miskin. Yang mau merebut akan menemukan cara untuk merebut; tapi saya tak sedang bicara tentang memperjuangkan beasiswa, belas kasihan donatur, atau hal-hal sejenis itu. Salah satu contoh merebut pendidikan adalah: Jika punya uang lebih, beli buku. Jika tak punya uang lebih, pinjam buku. Jika tak mau dipinjami, curi buku! Karena buku berisi pengetahuan (=pendidikan) dan pendidikan tidak seharusnya dimonopoli oleh segelintir orang.

Ketika Orang NTT Membikin Antologi…

Di pertengahan tahun 2015 lalu, dalam perjalanan mengambil air di kali Noenebu, satu-satunya sumber mata air yang masih mengalir saat kemarau, yang memenuhi kebutuhan penduduk sampai radius tujuh kilometer, di atas sepeda motor saya membuat dua keputusan besar dalam hidup saya. Yang pertama, saya memutuskan untuk percaya bahwa orang Timor akan terus dibiarkan hidup dalam kondisi miskin, dan segala macam sinar harapan tentang hari depan yang baik akan segera sirna, baik oleh karena ketakpedulian pemimpin-pemimpin bangsa, maupun oleh kesukaan pemimpin-pemimpin lokal mengambil-ambil keuntungan dari kemelaratan penduduknya. Saya membuat satu paragraf dramatik dalam kepala saya: “Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tak tahu malu yang menjijikkan. Mereka akan tanpa malu saling melindungi kebusukan, meski baunya lebih tajam daripada mayat orang-orang miskin yang mati bergelimpangan.”

Yang kedua, saya memutuskan untuk percaya, bahwa saya tak berbakat menjadi penyair. Puisi-puisi saya selalu buruk dan tak pernah jadi. Mata puitika saya begitu tumpul, sehingga tiap kali saya menulis puisi, saya tak melihat hal baik untuk dituliskan, selain kelaparan di musim kemarau, pembodohan di musim kampanye, pastor yang minum sopi-kepala sampai mabuk di hari natal lalu menyesali umat yang tak melunasi uang derma wajib (bahkan sampai detik ini saya tak memahami apa itu derma wajib, tetapi baiklah tentang itu akan kita diskusikan di tulisan yang lain), rentenir yang mencekik, seorang pemuda yang mengamuk saat keluarganya yang yang pejabat kena kritik, dan seterusnya. Lalu saya berkeputusan untuk berhenti menulis puisi.

Beberapa bulan kemudian, saya dihubungi tentang adanya rencana pembuatan antologi penyair NTT, sebuah buku kumpulan puisi orang-orang NTT. Karena salah satu kuratornya saya percayai jika berbicara tentang NTT, dan yang menghubungi saya adalah salah satu orang yang saya hormati secara pribadi di dunia ini, saya membongkar-bongkar kembali puisi-puisi lama saya. Kalian tahu, seperti kata Gogol dalam salah satu novelnya, ada orang yang kita hormati sebab status sosial dan hubungan pertalian lain — seperti murid yang menghormati gurunya, atau seorang bawahan yang menghormati atasannya –- tapi ada juga orang yang begitu kita bertemu dengannya, tumbuh rasa hormat bukan karena segala macam status dan pertalian itu, tapi secara pribadi tumbuh rasa hormat begitu saja. Demikianlah, saat itu itu saya membongkar-bongkar puisi lama saya. Salah satu hal yang membuat saya menyimpulkan bahwa puisi saya tak pernah jadi adalah, begitu melihat puisi saya yang manapun, saya akan mengedit-editnya kembali, dan setelah mengeditnya pun saya masih menganggap bahwa puisi itu masih perlu diedit, meski saat itu saya belum menemukan bagian mana yang harus diedit. Demikianlah lagi, puisi-puisi lama itu saya edit lagi dan saya kirimkan ke panitia.

Hari ini, saya membaca pengumuman hasil seleksinya. Saya tiba-tiba merasa sebagai orang paling malang di dunia. Sebabnya adalah, selain tulisan itu telah diposting tanggal 17 September yang lalu (yang berarti saya orang paling lamban mendapatkan informasi), di situ panitia mengumumkan, bahwa: …kami mendapatkan hasil dari para kurator yang terdiri dari Bapak Joko Pinurbo, Bapak Alexander Aur dan Ibu Dhenok Kristianti (minus Mario F Lawi, beliau mengundurkan diri). Meskipun dalam soal selera, selera puisi saya jauh berbeda dengan Mario, saya mengakui bahwa saya mengirimkan puisi-puisi saya terlebih karena ada Mario di situ. Beberapa bulan menjadi teman facebooknya, dan membaca tulisan-tulisan di blognya, membuat saya paling tidak percaya, yang pertama kepada pengetahuannya yang mumpuni tentang sastra (tentu saja ia pantas menjadi kurator), yang kedua dan yang paling penting adalah kepercayaannya pada pemahamannya soal bangun sosial dan kehidupan NTT itu sendiri. (Ini menjadi penting, sebab jika Mario bicara tentang NTT, saya akan percaya. Namun jika Plato bangkit dari kuburnya dan bicara tentang NTT, sayalah yang dahulu akan meludahi wajahnya. Keberagaman di NTT membuat orang-orang asing selalu salah kaprah tentang NTT. Ia akan duduk dan mulai mengatakan: “Saya telah tinggal di NTT sekian tahun. Orang-orang NTT itu adalah orang-orang yang…” dan ia akan mulai mengatakan hal-hal yang ngawur belaka, dan di saat itu saya sangat ingin meludahinya, tapi tak diperbolehkan norma dan tata krama).

Yang pertama, keahlian sastra dan hal-hal yang diperlukan oleh seorang kurator (maafkan bila istilah ini kurang tepat, sebab saya bukan anak sastra dan tak begitu paham pada makhluk yang disebut sastra itu), tentu saja dimiliki juga oleh tiga orang kurator yang telah saya sebutkan di atas. Namun tentang soal yang kedua, pemahamannya pada bangun sosial dan kehidupan NTT (maafkan juga bila istilah ini kurang tepat), saya tidak yakin bahwa Bapak Joko Pinurbo dan Ibu Dhenok Kristianti memilikinya. Walaupun tentu saja saya tak bisa membuktikannya, saya tetap tidak yakin. Mungkin Bapak Alexander Aur memilikinya, tapi… entahlah. Saya tidak percaya bahwa satu orang NTT dan dua orang bukan NTT adalah komposisi kurator yang ideal untuk menghasilkan sesuatu dari NTT, sama seperti saya tidak akan percaya kepada seorang profesor seni dari Jawa misalnya, yang datang ke NTT dan menjadi kurator tenun ikat se-NTT. Kecuali, jika ia menjadi kurator tenun ikat se-Indonesia.

Saya berpikir, jika kelak saya mempunyai uang, saya akan membuat antologi penyair NTT, yang  kuratornya adalah Ragil Sukriwul, atau Ishack Sonlay, atau, mungkin ibu saya sendiri. Sebab saya tadinya berpikir untuk menarik kembali puisi saya, tapi salah satu pikiran saya yang lain lagi menyebutkan bahwa perbuatan menarik kembali puisi hanya perilaku anak-anak yang reaksioner dan suka mencari-cari sensasi. Di atas itu semua, apa sih pentingnya puisi? Apa ia bisa membuat hujan turun teratur? Babi berhenti kena wabah? Mungkin Bob Dylan bisa menjawabnya, sebab ia telah “having created new poetic expressions within the great American song tradition”. Amerikaa lagiiii…

Selamat Ulang Tahun, Indra

Saya melihat perempuan itu pertama kalinya di bawah pohon asam di depan sekolah saya, SMA Seminari Lalian. Itu suatu hari Minggu di musim kemarau tahun 2008. Pastor Lamberto sedang mengatakan suatu hal lucu tentang celotehan Pastor Lukas Lusi Bethan, ketika perempuan itu melintas. Anak-anak yang lain tertawa-tawa, tapi sekeras apapun saya mencoba membayangkan kembali, saya tak pernah ingat pada lelucon itu. Yang saya ingat adalah panas yang membakar. Angin yang menggoyangkan dedaunan. Rumput lapangan upacara yang mulai menguning. Dan dia yang melangkah malu-malu, dengan gerai rambut di kening dan renyah pasir yang dipijaknya.

Dan saya jatuh cinta.

Hari ini, 3 Oktober, dia berulang tahun. Saya harap dia selalu sehat. Saya harap dia selalu melewati hari-hari baik dalam hidupnya. Saya harap suatu saat nanti saya akan mengecup keningnya di hadapan satu atau beberapa orang pastor. Saya harap kami akan sama-sama bingung menghadapi anak sendiri yang pemberontak. Saya harap bisa menemaninya menua di sebuah rumah tua. Mungkin di tepian sabana. Di dekat sebuah danau. Sambil sesekali menonton film India atau menggerutukan anak-cucu yang tak kunjung berkabar.

Selamat ulang tahun, Indra.