MODIFIKASI PERILAKU dengan CBT (Cognitive Behavior Therapy)

Kuliah Jumat, 3 Januari 2014

Dosen : Ardhiana Puspitacandri, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Waktu saya buka pintu ruang 8 semuanya pada berisik melihat saya. Koment his lah, hias lah, apalah, tapi saya kan suka sok bodoh: Oh? Daritadi ya kuliahnya? Wah, sory…. Itu mbak-mbak di depan bilang: Kau pulang saja ke Atambua sana, telat mulu. Di depan itu ada Putri, Firli, Lika sama – Tasya tadi ada gak saya lupa. Hah, terlalu banyak wanita di kelas ini jadi bingung. Nah Bu Ari cuman menatap saya dengan wajahnya yang unpredictable. Biasalah, yang Psikologi Unmer pasti ngerti bagaimana intimidatednya wajah Bu dosen pinter dan manis ini (yang ini jujur loh Bu…)

Nah, saya itu harusnya gak telat. Sumpah bukan Defence Mechanism. Orang saya bangun jam 04.30 demi mengetik verbatim Psikologi Konseling asuhan Bu Khotim sampai hampir patah pinggang dan bikin nyesal kenapa waktu konseling terlalu banyak ngomong? Tapi karena fotokopian JB yang pagi2 udah ngantri apalagi ada anak teknik yang print tugas gambarnya – di sini saya ketemu Asty yang lagi bingung juga karena tugas yang sama. Tapi tetap aja ini DM kan ya? Ya sudah.

Saya langsung duduk di samping Nino dan membuka tas, ternyata pena saya gak ada. Lalu sadar kalau flashdisk yang saya pinjam dari orang juga ternyata ketinggalan juga di JB. Apa mau dikata tai kucing tak selalu coklat. Saya pinjam penanya Nino.

Bu Ari ngomong: Presentasimu tadi gak menggambarkan before-after, jadi teman-teman ini gak tau seberapa besar perubahannya. Makanya semua daritadi bingung.

Oh, ini lagi bingung-bingungan ya? Pantes wajah cewek-cewek di depan udah kayak tomat.

Firly dengan santun bilang: “Kita memang gak punya foto sehari-harinya Bu. Tapi dia sekarang sudah suka makan buah, sudah olahraga, dan banyak minum air putih. Selama ini gak, dia cuman olahraga pas latihan basket aja. Dia juga suka ngemil 2 jam makan bakso, trus beli camilan di Indomaret. Minum susu ya gak pernah. Kita gak ada foto-foto sebelum modif tapi ini ada foto porsi makan sotonya.”

Mereka menunjukkan seporsi soto Pak Di yang kerap saya sebut soto Tuyul karena disinyalir tanpa bukti kuat bahwa ada tuyul di bawah keretanya (sory Pak Di. Jok lebukno aku nang penjara karena kasus fitnah oyi? Becanda kok, pizzz)

Ferdy : Loh, itu emang 1 porsi soto….

Firly : Ini pake nasi tambah, jadi dia bayar 9000, bukan 7000. Pak Di aja bilang, Feby ini kalau makan, nasinya harus banyak.

Feby? Yang semester 1 itu? Bukan goblok! Baik, lanjuttt….

Bu Ari : Nasi dengan soto itu mengembang. Kenapa ukuran mangkuknya sama?

Firly : Sehari-hari kalau makan nasi campur ya banyak juga. Porsi nasinya 3ribuan. Ini cetakannya.

Bu Ari : Banyak ya? 1 cetakan itu banyak ya?

Nah, sampai di sini saya mulai lelah. Semalam aja udah capek nulis verbatim. Jadi biar menghemat energi saya yang mahal ini Bu Ari akan menjadi (Ar.) dan Firly jadi (F). Yang lain nyusul.

F : Tuperwarenya besar bu. Ini fotonya.

Tasya tunjukkan gambar tuperware di slide show. Rupanya benda ini dijadikan cetakan untuk porsi nasi klien mereka. Wah, saya ketinggalan banyak hal ini. Jadi bengong-bengong sendiri.

Ar. : Harusnya kamu bawa tuperwarenya. Namanya modifikasi itu harus bisa diukur loh.

F : Ya, nasi porsinya sama Bu. Orangnya yang ngukur itu selalu sama. Kita beli di Arema. Tiap hari takarannya sama. 3ribuan.

Tiara : Itu nasi yang dimasukkan dalam tuperware berapa sendok? Kan kalo udah dalam tuperware bisa dipadetin itu.

Wah, alamat ini lama-lama minta kenapa gak ditimbang aja nasinya biar pas.

F : Wah, gak kita hitung.

Ar. : Ini yang persentasi jutek ya? Hihihihi…

Gini aja. Apa tolok ukurmu katakan bahwa treatmentmu ini membawa perubahan? (saya langsung bayangin logo Nasdem dan Surya Paloh di Metrotv! Restorasi Indonseia, membawa perubahan.)

F : Kalo dari fisiknya sih gak. Tapi pola hidupnya berubah. Dia udah makan buah, minum susu, sekarang dia sudah sarapan, biasanya gak.

Ar. : Efek dari videonya tadi apa?

Video apaan sih? Makanya jangan telat Lix! Oke.

F : Efeknya, irrasional beliefnya jadi berkurang. Dilihat dari perubahan pada jawaban questioner yg kita kasih, walaupun berbeda sedikit.

Ini omong apaan sih?

Ar. : Yang lain perhatikan ya? Contoh. Saya bisa tahu kalo kalian belajar sebelum ujian itu dari nilaimu. Makanya pre dan post-test itu yang dilihat adalah perbandingan nilainya. Kita bisa katakan bahwa proses belajarmu efektif, bila sebelum belajar, saya kasih soal, trus nilaimu 30 misalnya. Lalu kamu belajar. Saya kasih lagi soal yang sama. Nilaimu 90. Berarti belajarmu efektif. Jadi yang kita lihat adalah nilai, skor. Bukan pemahaman. Pemahaman itu subyektif. Itu pre test dan post tetmu gak kamu skor?

F : (rodok melas) Iya Bu.

Ar. : Oke. Ada yang mau menanggapi?

Nah, Bu Ari selalu ngasih umpan yang macam begini. Tapi ikan-ikan di aquarium hari ini sudah kenyang kayaknya. Mungkin saya saja yang telat jadi orang udah orgasme saya masih ho ha. Itu gunanya gak telat.

Ar. : Oke wes.

Putri : Demikian presentasi dari kelompok kami, kami ucapkan terimakasih.

Cowok-cowok, wanita yang satu ini, sangat mbois dan ahli membuat mata tak berkedip. Sudah dua kali ini dia yang menutup presentasi dengan sangat anggun. Jika kalian melihatnya, saya yakin, kalian akan memimpikan nomer togel. Terserah benar atau gak nomernya kan urusan kalian sama keluarga kalian yang metal-metal.

Bu Ari lalu maju. Kelompok duduk.

Ar. : CBT atau Cognitive Behavior Therapy yang baru saja dipresentasikan penerapannya oleh kelompok tadi merupakan kolaborasi antara kognitif dan behavior. Prinsipnya, orang merasakan atau mempunyai irrasional belief lalu perilaku atau behaviornya tercipta dari situ (irrasional belief). Nah, (untuk memodifikasi perilakunya), irrasional beliefnya dulu yang kita patahkan, maka behaviornya akan mengikuti. Itu prinsip dasarnya. Metode modifikasinya bisa dengan menggunakan penguatan positif, punishment, shaping dan lain sebagainya, terserah. Makanya tadi tadi Angel bertanya apa bedanya CBT dengan modifikasi …..

Wah, apakah CBT ini lebih kepada modifikasi kognitif? Kan yang diubah kognitifnya, behaviornya mengikuti. Kalau iya, kenapa masuk dalam kuliah modifikasi perilaku? Emang gak ada ya modifikasi kognitif? Oh, kerja kognitif kita sebenarnya merupakan perilaku juga ya? Coba lihat kembali definisi perilaku. Di sini pena saya macet. Pena saya? Astaga, bahkan ini bukan pena saya. Ini pena yang saya pinjam dari Nino. Mata saya langsung jelalatan. Nah. Ada Tiara di sudut. Bermodalkan siulan dan senyum saya yang bodoh, penanya saya ambil. Lanjutt….

Ar. : Ferdy, apa konsekuensinya bila kamu percaya bahwa hidup itu untuk makan yang enak-enak sebelum mati?

Ferdy : Saya kegemukan Bu.

Ar : Itu akibat dari makan, bukan konsekuensi pernyataan tadi.

Ferdy : Em, saya makan yang banyak dan yang penting puas.

Ar : Nah, kalau orang punya belief bahwa cacing bisa menerkam, jahat dan bisa makan orang, maka konsekuensi logisnnya, dia akan menghindari cacing karena takut. Dalam CBT, kalau irasional belief diubah, maka konsekuensi logisnya akan berubah. Maka CBT ini lebih cocok dengan behavior yang terjadi karena ada irrasional belief. Jika tidak, maka pakai modifikasi yang lain aja.

Contoh lain, orang yang percaya kalau hidung pesek itu buruk, dia akan melakukan operasi hidung terus-menerus. Tetap yang harus diubah adalah kognitifnya dulu. Memang tidak mudah mengubah irrasional belief. Contohnya perokok, kadang sudah tahu bahwa rokok itu berbahaya. Tapi dia tetap merokok. Adit, lebih nikmat setelah makan rokokan atau gak rokokan?

Adit : Rokokan Bu. Tapi kalau di rumah gak rokokan. Kamar makan saya kasian nanti banyak asapnya.

Ar. : Tuh. Padahal Adit pasti udah tahu kalau rokok itu berbahaya. Mengatasi irrasional belief itu dengan membuat restrukturionalisasi kognitif. Kadang harus disertai pula dengan tindakan untuk membuktikan bahwa irrasional beliefnya salah.

Mala : Bu, kalau irrasional beliefnya sudah tertanam dari kecil gimana? Saya ini phobia sama salak. Saya tahu bahwa salak itu gak akan menerkam saya tapi saya tetap takut.

Ar : Phobia salak? Kenapa gak bilang biar saya bawakan?

Grrrr…. Nah perbincangan ini berlanjut antara Mala dengan Bu Ari tentang phobia salaknya. Panjangg banget. Yang penting dari pembicaraan ini adalah penekanan bahwa behavior yang dimodifikasi itu harus terukur.

Ar : Mala. Ketakutanmu sama salak berapa persen? Kalau dari rentang 0-10, begitu melihat salak ketakutanmu berapa? 0 itu gak takut, 10 itu sangat takut.

Mala : 10 Bu.

Ar : Nah, ini contohnya. Kalau kelompok tadi gak ngukur. Ingat, kita boleh negosiasi sama klien, tapi gak boleh menuruti klien.

Lalu berlanjut Ferdy curhat soal ketakutannya pada diabet seteleh ditunjukkin video-video soal diabet oleh kelompok Putri tadi. Itu Rose sama Sari makan apa ya? Mau dong…

Sari? Ada Bu. Wah, udah presensi ya? Okey. Ini pena Tiara juga enak dipake tulis. Pantes Tiaranya rajin kuliah. adel gak masuk. Aldo gak ada. Alex? Ada Bu. Ligia? Gak ada. Oke.

Ar : Saya minta semua makalahmu, mulai dari teori, rencana, pelaksanaan modifikasi, sama video-videonya dikumpulkan, dijadikan satu. Dikumpulkan.

Ferdy : Itu buat nilai UAS ya Bu?

Ar : Gak! (Ih, mukanya judes banget sumpah). Kumpulkan pas UAS. Bahan UAS itu semua yang dibahas teman-teman. Mulai dari shaping, fading, punishment, chaining, conditional reinforcement dan sebagainya.

Ferdy : Jalan-jalannya kapan Bu?

Ar. : Semester depan aja. Pas ada kuliah Patologi Sosial. Bisa ke tiiitttttttt di Jogja, Lapas Anak di

Saya : Ke Doli aja Bu.

Ferdy : Doli mau ditutup kali….

Ar. : Kalian percaya Doli mau ditutup?

Aklamasi : Gak Bu……

Ar : Oke. Soal UAS, as long as kalian selama ini tetap pada tracknya, kuliah masuk, kumpulin tugas, UTS baik, segala macam, insya Allah kalian lulus.

As long as itu apa sih? Okey, jadi begitulah kuliah hari ini. Lalu kita berlibur dan akan siap buat ujian. Betewe, jadwal ujian bukan lagi tanggal 13 tapi tanggal 15. Jadi kita bisa lebih tenang. Dan, selamat berlibur ye teman-teman. Tetap semangat belajar, bukan hanya untuk dapat nilai bagus di KHS, tapi apa yang bisa kau beri kepada basngsa yang semakin sakit jiwa ini. Semoga semua makhluk berbahagia. :)

Advertisements

2 thoughts on “MODIFIKASI PERILAKU dengan CBT (Cognitive Behavior Therapy)

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s