BADAI DESA KAMI

2.

Tetapi dengan hati yang lapang telah kukatakan padamu apa yang datang dari kejauhan bukan bayangan hantu, hanya hasil ocehan kita tentang pepohonan yang entah kapan berubah modern dan tak butuh pertemanan. Kita yang diam-diam khawatir masih menolak memberi hadiah namun teman lama di dekat mata air menunggu kehausan dan lapar – sebab ikan tak tumbuh pada mataair yang mengering. (Bukankah ia yang sunyi malam-malam memanggil dengan dukanya mengajak mimpimu sekadar berkabut lalu esok hujan turun dengan deras).

Mimpi. Mimpikan aku yang tiada.

 

3.

Beginilah kita menyusur jalan, Anakku. Dengarkan barang semenit. Leluhur kita yang entah monyet entah bukan terlalu peka pada tetangganya yang tak kelihatan, sebab bayang belaka menghalau monyet kembali ke bukit-bukit sedang leluhur membikin kita dalam gelap. Kita kemudian lahir dengan deru remote lalu lupa pada tetangga yang pagi siang malam mengawasi monyet yang kita buru dari sumber-sumber mataair demi hobi semata. Percayalah ia melihat dan ketakutan.

 

4.

Maka petang itu bulan yang hampir setengah sedang matahari belum juga tenggelam anak-anak menari dengan  kain kapas dan menghantar hadiah buat teman yang kehausan. Serongkan badai yang menangkap gapura desa kami dan menelanjangi atap-atap rumah, sebab kami sama sekali tak mengenalnya.

Badai meninggalkan kemarau yang dahsyat dan kerontang.

Mega Mendung, Juli 2013

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s