SUF MUTI¹

 1.

Tentang asalmu yang misteri aku sering mendebatnya pada ayah. Begini sambil menancap tonggak pengikat sapi: dulu ada LSM luar negeri yang ke sini. Tawarkan tumbuhan berbunga putih kapas, katanya buat cegah alang-alang tumbuh. Juga penyubur tanah. Kau tahu alang-alang: sekali tumbuh tanah tak cukup dicangkul satu kemarau. Alang-alang berteluk dan tak kuasa berdiri di hadapan wajahnya. Juga rerumput sabana mengeringkan akar yang terhimpit.. Sapi sulit beranak.

Aku lebih suka versi pastor muda yang suka bertanam. “Kau tahu, Adik? Suf muti itu benihnya dijatuhkan dari pesawat-pesawat oleh orang asing. Biar rumput jarang tumbuh. Biar sapi Timor sulit beranak.” Sebab percaya pada ayah adalah mengimani bahwa kita bodoh dan gampang ditipu. Atau memang begitu adanya? Pada pastor muda kami belajar meyakinkan diri bahwa kami hanya kecolongan. Bukankah kecolongan sedikit lebih mulia daripada bodoh. Dibodohi bungamu yang kapas, harummu yang kemarau. Maka kami belajar menyulam segala padang segala ladang dengan doa dan mata cangkul. Sesungguhnya ia datang dalam diam seperti pencuri di malam hari.

 

2.

Debat yang melahirkan anak-anak baru dari akarmu menghapus hijau pada sabana. Seperti menghapus peri pada akibat: kita hampir tak punya sapi di padang. Maka impor daging adalah proyek penggemukan sapi-sapi pemakan rupiah. Aku menimpakan kesalahan ini pada akar dan bungamu yang teguh sepanjang musim. Mati kebakaran, lalu lincah serupa pemuda usai disunat. Kami akan menaburi ladang-ladang kami dengan kesadaran tentang bungamu yang muslihat, akarmu yang maling. Juga tentang angin yang bersekongkol menerbangkanmu sepanjang kemarau saat kami tertidur di rumah adat karena doa yang panjang pada Tuhan yang mabuk. Kami nyalakan lampu pada kepala kami dan menenteng senapan di halaman. Datanglah, Teku². Kami berjaga-jaga.

 

3.

Biarkan asalmu tetap misteri. Kami tak pernah sempat mencari namamu pada kamus. Apalah arti sebuah nama, atau kami memang bodoh dan apatis. Maka kami namakan seluruhmu dengan bahasa kami pada bungamu yang polos. Suf muti. Sebab kau datang dari negeri yang tak legam seperti kami. Serupa pahlawan kau berjuang meruntuhkan rezim alang-alang dalam diam, tanpa demonstrasi dan aksi massa. Angin yang menerbangkanmu tiap kemarau menghembuskan cemas pada belulang kami. Tidakkah sapi di padang menunggu terlantar serupa pengamen cacat di tengah kota. Suratmu pun tak pernah sampai. Bila kau tiba? Bukankah teku selalu bersurat? Kami isi lubang di kebun dengan biji jagung, kau cepat menghimpitnya dengan akar dan daun usai tugasmu menyuburkan tanah. Musim bersiang baru saja pamit, kau serupa ketakutan-ketakutan kami pada pada entah yang tertinggal usai reformasi. Tunjukkan pantanganmu pada kami. Di sebelah bukit mana kami mesti nyalakan lilin.

 

Malang, Juli 2013

 

Keterangan:

1.      Suf muti (bahasa dawan): berbunga putih. Sejenis tumbuhan menyerupai bayam berbunga putih yang tumbuh di daerah Timor.

2.      Teku: Kelompok perampok yang konon terorganisir dan terlatih di daratan Timor. Beroperasi sekitar tahun 90-an.

Advertisements

One thought on “SUF MUTI¹

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s