TENTANG TIARA DAN MATANYA YANG MENYELAMATKAN

Felix Nesi

Ini hari Rabu, 22 Januari. Saya belum tidur sejak semalam kalian tahu. Laporan praktikum mata kuliah Psikologi Bakat Minat di Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang (panjang amat ya nulis nama universitas ini. Enakan tim promo dibantu promo gratis di blog saya yang keren ini. Biar tidak menjadi promo, saya kasihtahu, jangan pernah masuk ke universitas ini. Biar tidak ada penambahan orang bodoh di tempat ini) panjangggg banget. Nah teman-teman lain seperti Puput itu senang-senang saja karena telah jauh hari mengerjakan. Tapi yang cowok-cowok ini agak kelimpungan karena dari jauh hari tak pernah mengerjakan.

Saya bangun jam tujuh. Lari-lari ke toko tempat potokopi di belakang ekonomi dan beli kertas; Folio saya habis tinggal A4. Mandi. Ngeprint. Eh si printer bangke ada saja alasan men-terlambatkan orang. Saya telat. Jadi tak sempat. Intinya saya masuk kelas, ujian Bakat Minat dengan buru-buru, keluar, lalu dengan sepeda motor pinjeman (apa sih yang gak bisa saya pinjem? Mobil tentara mungkin!) saya kabur ke ABC.

Di sana sudah ada Mala dan Rose ternyata, mengeprint tugas kompetensi kerja. Ya Allah tugas Kompetensi Kerja saya belum kelar bahkan saat saya mengetik ini. Terus antriannya panjangggggggg banget. Mana ruang di ABC itu kayak ruang tunggu. Seolah saat kau masuk ke pintu langsung terdengar pengumuman : “Fotocopian anda delay. Silahkan menunggu.”

Saya kasih bahan saya ke si mbak yang punya tempat fotokopi. Jerawatnya banyak, mungkin kebanyakan pakai POND’s. Sesekali cobalah arang kelapa, Mbak, obat jerawat tradisional versi saya yang memang tak boleh dilakukan di rumah. Obat tradisional selalu lebih manjur daripada obat begituan, meski prosesnya lama. Ah, kenapa juga terburu-buru dengan hidup ini? Saya tunggu lama sekali. Rose udah pusing aja BBMnya ke Sari untuk menanyakan : ”Kamu simpan tugasku Kompetensi Kerja di folder mana sih?” gak kunjung dibalas. Lalu mereka pulang. Saya masih menunggu. Lama.

Beberapa tahun kemudian dalam hitungan versi saya, mbaknya datang. Matanya menatap saya. Sendu sekali. Saya teringat pada hari pertama dibelikan ice cream oleh salah seorang teman wanita yang cantiknya aduhai dan menyukai saya tapi kelihatan langsung ilfeel begitu saya bertanya : Ini apa?

“Mas, ini tadi urutannya gimana sih?” Mbak tadi menunjukkan lembar kerja saya. C4, C3 dan sebagainya terbengkalai. Ada Kraepelin terbuka ke sana ke mari. Astagaaa!!! Belum juga???? Wahhhhhhhhh……

Saya menarik napas panjang. Saya memang bercita-cita menjadi bhiksu yang baik, dengan sehgala kerendahan hati di kepala. Namun yang begini. Tunggu dulu.

Saya susun kembali lembar kerja saya. Saya tarik napas dalam. Ada api keluar dari kepala saya. Ada tanduk di belakang telinga mbak itu. Ia menantang saya dengan ilmunya yang mirip musuh-musuh Kho Ping Hoo… ah, angkatan berapa sih bacaannya Kho Ping Hoo? Wajahnya seperti wajah tukang parkir yang sedang mencium dan memeluk Anggun C. Sasmi dengan mesra.

Saya balikin lembar kerja. Api dari kepala saya menjalar ke tangan saya. Lalu ke kaki. Ke seluruh tubuh. Ada ular keluar dari mulut saya. Singa tiba-tiba muncul di pelataran parkiran. Saya pegang daun pintu, saya adalah Samson yang siap merebahkan tangan ini tanpa mata tertutup. Saya pegang kuat-kuat. Saya sebut nama Tuhan saya yang Banyak dan Kecil-Kecil.

Tiba-tiba ia muncul. Bersama Mala di boncengan. Ia senyum. Entah pada siapa. Senyum dari balik rambutnya yang keriting-keriting tanggung karena belum sempat ke salon lagi untuk rebonding. Dia.  Tiara Olivia Margaretha Mononimbar. Wanita yang kadang menakutkan karena dandanannya yang kadang seperti Suzana apalagi tiap habis rebonding namun kadang juga lebih maut daripada maut itu sendiri. Mematikan dan dirindui. Kalau dia ketawa anda akn bisa mendengarkannya dari jarak tujuh kilometer, renyah dan pecah-pecah.

Mengenai kedatangannya akan kukisahkan begini. Jika kalian pernah menonton iklan Lifebuoy yang dituduh memojokkan orang NTT, kalian pasti ingat adegan kemunculan Panji di sebuah desa di pedalaman NTT yang katanya kurang air bersih. Ada cahaya putih di sekitarnya. Ada dry ice putih-putih dari kakinya. Sangat heroic. Kadang saya pikir Si Panji ini bego apa mau jadi caleg ya soalnya iklan itu lebih cocok buat pencitraan.

Nah, gini aja biar ngerti. Tau film bodoh tentang sekawanan mahasiswa yang pergi ke Semeru? Apa judulnya saya lupa yang ada Saykoji dan Pevita Pierce? Nah, tahu adegan di rumah si Pierce saat si Pierce herself berjalan turun dari tangga dengan senyum lebay, slow motion dan kipas angin sangat besar di samping kamera yang membuat rambutnya tergerai sebelum akhirnya ia memamerkan G-String-nya?

Nah kira-kira begitulah kemunculan wanita satu ini di depan ABC. Hanya memang tak lebay dan tanpa kipas angin. Dan tentu saja saya tak sempat bertanya apakah ia mengenakan G-String atau model lain yang biasa saja. Tapi, kalian tak pernah tahu bahwa senyumnya adalah oase di tengah padang; sebuah pengalaman paling rohani ketika matanya yang bersinar dan senyumnya yang lebar dan manis menemukan ini mata; (walau kadang aku bingung soalnya ini cewek senyummmm terus gak ada berhentinya walau kadang senyum entah sama siapa. Ngeri juga lama-lama, kayak orang freak yang ada teman imajinernya gitu….).

Sangat sumringah dan psikologis…. Percaya tak percaya saya mendapatkan pencerahan tentang teori Medannya Kurt Lewin dari matanya. Juga pendalaman tentang pengaruh iklan shampoo di televisi terhadap konsep diri seorang wanita saya dapatkan dari dirinya.

Inilah peristiwa penyelamatan terbesar yang sesungguhnya pernah terjadi dalam hidup dan perkembangan peradaban dunia. Yesus yang mati di salib tak pernah sanggup menyelamatkan dunia lebih daripada peristiwa hari ini.

Kalian tak pernah tahu, teman-teman. Jika wanita ini tak datang, hari ini. Telah kupatahkan tiang-tiang penyangga ABC. Kupatahkan segala yang kutemu, dan setiap satu dari dua juta binatang di kepalaku akan membelah dirinya menjadi alien yang paling mematikan dalam sejarah. Kami menyebutnya MEIOSIS.

Aku ngantuk….

Karena itu, apapun yang sedang ia lakukan di luaran sana, membakar dupa dan menyembah pohon, memakaikan sepatu untuk Oma, mengantar adik ke sekolahan, membacakan cerita untuk ponakan-ponakannya yang bego (mudah-mudahan cepat besar), atau sedang menyiapkan makan siang buat kekasihnya, mudah-mudahan ia sehat. Mudah-mudahan ia cepat lulus. Dan mudah-mudahan ia mengingat nama saya saat ingin menikah dan lalu mengundang saya sebab saya suka pada kue tar. Bukan kuenya yang saya suka. Saya suka pada “putih-putih” di atas roti yang mirip busa itu… apa namanya? Printer? Bukan bego! Yang kemarin diolesin ke wajahnya Golda saat Nofia ulangtahun? Keju? Bukan! Soklin.. Bukan! Krim!!!!!!!!!!!!!! Ya….

Cream tulisannya, bego amat sih ini anak ngetik?

Ya mungkin saya memang ngantuk atau saya hanya lapar. Tapi saya suka krim. Rasanya manis walaupun gak bikin kenyang. Ah, mudah-mudahan teman-teman saya semuanya sehat, panjang umur dan tiap kali ulangtahun ada krim lagi. Rotinya gak penting. Yang penting krimnya. Cream kale…. Suka-suka gue dong boy…. Ya lu mau dianggap bego sama semua orang yang baca? Ya biarin lah. Mereka tuh yang bego!

Pikiranmu picik amat sih? Udah bego nyalahin orang lagi…. Lha trus lu kenapa ngomong? Mulut2 gue lah gue mau omong apa? Emang lu eksis? Emang lu punya mulut? Lu tu cuman ada di pikiran. Gak nyata.

Biarin. Yang penting gue kan berhak ngatur-ngatur elu. Berhak bikin bingung. Eh, bangke! Mbok pikir aku ki asistenmu a? Lah trus kenapa nyocot? Ya udah! Bubar!

Wah, ya, ramai sekali kalu pas ngantuk…. Sok keren lu Lix….

Suka-suka gue boy….

Anjing lu. Hey, bisa gak, tulisan ini gak dirusak dengan kata-kata porno?

Jorok kaleeeeeee wuhhhh,, katanya mahasiswa, calon sarjana, itu aja gak paham.

Ya lu aja yang bego!

Lu yang bego!

Udah-udah sama-sama bego…

Ini yang id yang mana, yang superego yang mana sih? Jadi bingung aku.

Ah, kau dari Timor sana sok-sok omong pake elu-gue.

Heh. Bangke. Diam!

Siapa lu…

Sudah-sudah… jangan berantem. Sesama teman juga. Badannya satu kan?

Ya ya

Ayo damai. Ya…..

Okey..

Intinya, teman-teman saya di kelas, keren semua. Tiara keren. Adel keren. Putri keren juga. Deny keren. Mala keren. Puput keren. Lika juga keren. Bu Khoti juga keren. Mas Edy juga keren. Fatur juga lucu.

Woi bodoh! Sebut aja sekalian tuh semua orang di Psikologi.

Ah, gak nyambung elunya….

Masa bodoh……..

Wah, tulisan ini gak berakhir seperti yang kumau. Okey lah. Selamat belajar teman-teman. Semoga Metodologi Penelitian semuanya kelar. Semoga gak ada SP. Oke. Stop it!

Cepat menikahBtw, ini omongin Tiara kenapa yang muncul fotonya Eko Ardianta sama Phipit Fardila ya? Ya mungkin saya ngantuk. Lihat. Mereka sangat mesra dan romantis. Semoga langgeng, cepat menikah, krimmmm….. Cream kalee….

Advertisements

6 thoughts on “TENTANG TIARA DAN MATANYA YANG MENYELAMATKAN

  1. Pingback: sufmuti
  2. Offy: leaving aside your suspect desire to put a bit of Mimi on the menu, I thought you were doing desucntroction? Which would be good for poetry, non?

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s