Ketika yang Muda Menulis yang Tua

Catatan kecil atas launching Yang Bertamu Adalah Ilham karya Tengsoe Tjahjono

*Felix Nesi

Saya baru tiba – ditemani gerimis yang lebih mirip hujan kecil-kecil,dari Artrock Café, sebuah kafe di Jl. Keramik, Dinoyo milik Pak DeArif, seorang pencinta dan pelaku seni yang kerap dijadikan tempatkongkow para pekerja seni. Baru saja tadi diadakan acara launchingbuku puisi Yang Bertamu adalah Ilham, karya TengsoeTjahjono, dengan peserta obrolan lebih banyak dari biasanya –kira-kira 20an orang di ruang dalam dan 20an orang di beranda luar(termasuk Pelaku teater Pak Dayat beserta rombongan yang duduk diluar; tentu saja Akang Komeng yang selalu curiga dengan isi tas saya)– dan pembicara dua orang muda Bunga Irmadian, mahasiswa Bahasa danSastra Perancis dan Renda Yuriananta, mahasiswa Pendidikan SastraInggris, dimoderatori Mbak Arie Trianggana Sari.

Saya pulang dengan seribu gundah di kepala. Bukan karena Malang yang hujan, atau pembicaraan bersama Faruk yang menjadi sedikit absurd dan menggemaskan. Bukan juga karena ilham, ataupun Yang Bertamu adalah Ilham. Ada keganjalan ketika – Oh, bukan tentang itu, Firman dan Faruk! Bukan karena wanita cantik bertungkai panjang yang kita bahas, aku tahu isi kepala kalian! – namun lebih karena diberikannya kesempatan kepada orang-orang muda untuk membaca (baca:mengomentari, memberi catatan) pada launching buku puisi orangtua.

Agar tak terjadi salahpaham dini atas penggunaan istilah tua dan muda dalam artikel ini, baiklah saya jelaskan bahwa istilah tua-muda saya ambil berdasarkan dua segi. Segi usia, yang tentunya tak penting dalam dunia kesenian – ini penjelasan bagi para konservatif yang cenderung menggolongkan pekerja seni berdasarkan usia hidup. Tengsoe Tjahjono lahir pada tahun 1958. Dua pembicara ini mahasiswa semester lima (menurut pengakuan mereka) yang kira-kira lahir tahun 90an. Lihat siapa yang muda siapa yang tua? Dari segi kekaryaan sendiri, Tengsoe telah menulis lebih dari lima buku kumpulan puisi miliknya pribadi, sederet buku bukan kumpulan puisi, penghargaan sebagai sastrawan, dan beberapa karyanya tak terhitung tergabung dalam berapa antologi bersama. Dan ia seorang dosen. Ini alasan pembedaan status “tua-muda” bagi mereka yang suka membedakan tua-muda berdasarkan kekaryaan. Ah, ya, saya tak suka menggunakan istilah senior-yunior. Sangat kampus.

Tengsoe Tjahjono sendiri dalam komentarnya di sela-sela pembicaraan mengatakan : “Ini impian saya. Saya sangat ingin buku saya dibicarakan oleh anak-anak muda.” Bergerak dari impiannya tersebut, maka jadilah malam ini bukunya dibicarakan oleh dua orang muda yang tentu juga telah mempunyai pengalaman kesusteraan yang lebihdibandingkan anak-anak muda seusianya (bandingkan dengan anak mudaalay yang suka apdet status tiap kali makan-piknik-pacaran, etc). Adalah Tengsoe Tjahjono, seorang dosen dan pegiat sastra yangmengizinkan anak muda menjadi pembicara karyanya. Jika bukan karena ingin mendapatkan tempat di hati anak-anak muda – yang tentu saja tidak mungkin karena anak muda lebih suka karya yang motivatif seperti Laskar Pelangi atau gokil seperti Kambing Jantan, sedangkan karyanya sangat sastra tanggung: setengah ‘adiluhung’ setengah ‘vulgar’ – tentu ini seperti alasan yang ia ucapkan: tentu ada pemikiran-pemikiran yang baru dan berbeda dari anak-anak muda.

Sambil mendengarkan pembicaraan yang penuh teori dan menyerempet sana-sini, menikmati gorengan dan tentu saja sesekali membayangkan diri saya memberikan puisi indah kepada si tungkai panjang, mata saya tertuju pada teks pembacaan karya yang tergeletak di atas meja. Teks itu diketik rapi, tulisan Bunga Irmadian dengan judul Membaca Ilham Tengsoe Tjahjono lewat yang Bertamu adalah Ilham.

Diparagraf pertama Bunga (nama sebenarnya, red) menjelaskan hubungannya dengan Tengsoe yang: tidak ada – baru saja siang tadi saya tambahkan sebagai teman di facebook, begitu tulisnya. Di paragraf kedua Bunga Irmadian menyeret Goenawan Mohammad untuk menjelaskantentang “ilham”: bukanlah Tuhan yang segagah dalam lukisanMicheangelo. Di paragraf selanjutnya segala sanjung puji tumpahruah. Puisi Tengsoe terlampau jujur, sampai hanya gelisah yang tersisa. Seperti halnya Subagyo Sastrowardoyo yang jujur dalam bersajak dan cenderung religious, Tengsoe pun demikian. Namun Tengsoe tak nampak sebagai Subagyo yang baru. Ia hadir dengan kekhasan … Diksinya yang legam dan pekat …. Puncaknya adalah : kalau saya bagian dari tim 8 … saya akan menyertakan Tengsoe Tjahjono sebagai sastrawan yang jujur ketimbang Denny JA (of course saya menganggapnya guyonan) … Saya terlanjur tenggelam ke dalam kata-kata …. Diakhirinya juga catatan tersebut dengan paragraf yang akan saya kutip seutuhnya: ketakberdayaan dalam diri saya seolah terwakilkan oleh setiap larik-larik bernafas sepi dalam puisi Tengsoe. Hening namun teduh. Gelap namun nyaman. Murung namun jujur. Sungguh, semuanya merupakan ilham yang berhasil ia rengkuh dalam gelisah dan menarasikannya sedemikian peristiwa ke dalam kata yang jujur apa adanya.

Tumpahan pujian dalam catatan launching buku seperti demikian, sungguh akan membuat buku tersebut laris di pasaran. Biasanya datang dari sesama teman yang membuatkan kata pengantar berupa pujian berat untuk temannya sendiri (look around you!), Atau, teman untuk ‘teman’(bacalah kata pengantar Remy Sylado untuk Kumpulan Puisi Susilo Bambang Yudhoyono), atau, bisa dipalsukan biar laris. Entahlah. Kenyataannya, Tengsoe bukan teman Bunga. Tengsoe juga bukan presiden pembuat puisi.

Sambil menyulut rokok yang saya minta (astaga, terlalu jujur), oke, saya perhalus, yang diberikan oleh seseorang di samping saya, saya buka catatan Renda Yuriananta terhadap Yang Bertamu Adalah Ilham. Ia seorang mahasiswa Sastra Indonesia. Malam itu ia tampil dengan stelan yangmengingatkn saya pada penulis buku dalam film-film Prancis, sederhana namun rapi, dan memakai rompi.

Judul catatannya adalah narasi kehidupan sederhana dalam sekumpulan puisi Yang Bertamu Adalah Ilham karya Tengsoe Tjahjono.Dilihat sekilas, tulisan Renda lebih panjang daripada tulisan Bunga dan pembahasannya bergerak terpisah, sesuai dengan tema besar yang dikategorikan oleh Tengsoe dalam puisinya. Ada tema Altar, RuangUjian, Jalanan, dan Mangrove. Di awal-awalparagraf, Renda Yuriananta menjelaskan apa hubungan puisi denganpengarang, dan bagaimana pengarang bergumul dengan kesehariannya,lalu mengolah kata-kata menjadi ungkapan yang terdalam. Muncul rasaoptimis bahwa awal yang bagus ini akan menuntun saya menemukansesuatu yang baru dan mengejutkan. Dan optimisme saya terbukti.

Di setiap bagian yang berusaha dikaji oleh Renda, kita menjadi penumpang sebuah bus tour yang diajak untuk membaca puisi-puisi TengsoeTjahjono dalam setiap bagiannya. Misalnya di Bagian Altar (judul sub bab dalam tulisan Renda), ia (Renda) mengawalinya dengan definisi altar menurut KBBI, lalu menjelaskan tentang dunia dan perjuangan religisiutas yang ditampilkan oleh Tengsoe dalam puisi-puisi di bagian tersebut. Ia mengakhiri paragraf di bagian ini dengan kalimat : pada intinya,di bagian altar, pengarang ingin menggambarkan berbagai makna kehidupan yang berada pada sisi religiusitas. (Di sini sisi alay saya muncul dengan komentar dalam hati: yaiyalah kalo intinya gitu ya saya tau! Judul bagiannya juga Altar!)

Lalupada pembahasan-pembahasan selanjutnya, seperti biasa, bus berjalanlagi. Kita diajak untuk melihat puisi Tengsoe dengan penjelasan Renda sebagai tour-guide: di bagian ini, pengarang banyakmenyampaikan isi gagasannya dalam puisi yang berbentuk narasi. Ada dialog… dialog tersebut mencerminkan … pengarang menggambarkanbagaimana perasaan… tokoh tersebut merasakan berbagai luapan emosi…pengarang juga menggambarkan situasi …. Sampai pada kesimpulan di akhir paragraf pada bagian ini masih dengan bentuk yang sama :intinya, di bagian ini pengarang ingin menyampaikan berbagai perasaan yang terjadi pada sebelum, saat, dan …. (Sekali lagi:helow!)

Lalu begitu dan begitu, sampai kesimpulan terakhir. Kita adalah penumpang yang diajak untuk melihat-lihat bentuk luar dari sebuah candi, ada tamannya, ada stupa, ada anak berlarian, ada bla bla, bukan untukmengupas isinya secara lebih dalam. Satu-satunya pembahasan tentang isi puisi tersebut, bukan hanya menunjukkan dan berkata: “Ini dia stupa”  hanya terbatas pada penjelasan struktur dalam bagian kesimpulan: dalam segi struktur yang ada di setiap puisi, pengarang sering menggunakan teknik narasi dan deskripsi dalam memotret sebuah peristiwa yang sedang dialami.

Helow, jika kau menjadi guide bagi para pencinta candi, menunjukkan pada mereka stupa dan dengan bangga berkata : “Tadaa… Ini dia stupa”, mereka akan melihat matamu dan berkata: Do you think we are stupid or something?

Di samping hal tersebut, Renda secara tidak langsung menjadi penyambung lidah Tengsoe, menyampaikan apa yang ada dalam pikiran Tengsoe tidak sebagai penafsirannya. Ada beberapa kalimat seperti: Pengarang ingin memberikan pelajaran yang rumit… Hal ini dilakukan pengaranguntuk memberikan gambaran… Hal ini dilakukan pengarang untuk lebihmenguatkan … pengarang ingin menyadarkan pembaca bahwa….Namun ada juga yang disampaikan dengan tidak yakin seperti: mungkinhal ini dilakukan pengarang untuk memberikan tekanan…

Sesuaijudulnya, Renda menyimpulkan bahwa Tengsoe menarasikan kehidupansecara sederhana. Kisah sederhana itu menyelimuti kisah rumitkehidupan manusia. Pengarang ingin memberikan pelajaran yang rumitdengan pengemasan yang sederhana sehingga mudah untuk dipahami…,…pengarang dengan “kenakalan”nya mengolah sebuah sisi yangsaling berhubungan dalam suatu peristiwa sehingga muncul sebuahpelajaran hidup yang cukup sederhana. Sebagai contoh diambilcontoh puisi Tengsoe yang mengangkat masalah korupsi, denganmenyimbolkan peristiwa tersebut dengan peristiwa lem tikus.

Sering Renda muncul sebagai pengkotbah dan guru moral yang menyampaikanajaran moral normative seperti: Semakin berharga sesuatu yang kitadapatkan, maka semakin besar pula pengorbanan yang harus dibayar(yang ini mesti dijawab Amithaba). Manusia terkadang lalaidengan waktu… Manusia sering membuang waktu….

Optimisme saya terbukti, salah! Sesungguhnya tulisan Renda tentang buku YangBertamu adalah Ilham, tak jauh berbeda dengan tulisan Bunga. JikaBunga menumpahkan begitu banyak sanjung-puji-madu pada kumpulan puisiini, Renda menjadi tour-guide yang memperkenalkan bukutersebut, sekaligus menjadi juru bicara yang baik bagi Tengsoe, ya, disamping tugasnya sebagai pengkotbah dan guru moral.

Mungkin memang terlalu tinggi harapan saya saat datang ke acara tersebut, begitu mengetahui bahwa buku ini dibicarakan oleh dua orang muda yang adalah mahasiswa(i) Fakultas Sastra, di universitas dengan kualitas yang bagus, saya sangat berharap bahwa karya ini akan diapresiasi dengan baik oleh mereka yang masih muda dan belajar sastra secara lebih mendalam dengan kuliah tentangnya. Kalau dinormatifkan: sepertihalnya sebuah karya yang dikeluarkan oleh siapapun baiklahdiapresiasi dengan baik dan bermutu. Apresiasi disini tentu saja bukan sebatas sanjung-puja berlebihan, ataupun penjelasan“kulit-luar” seperti yang dilakukan oleh dua penulis di atas.Jika hal ini dilakukan oleh Faruk, hell, ya, saya hangat-hangat sajakarena Faruk seorang penjual kopi (ini serius, Ruk). Jika Firman, ya,its okey, puisi lebih sering menjadi alat demonstrasi baginya. Namun ketika ini dilakukan oleh anak-anak Fakultas Sastra (maaf saya suka memakai caps di sini): HELOOWWW….

Di saat ada sebuah buku, yang semestinya dilihat dari banyak segi, Bunga hanya melepaskan sanjung puji yang berbahaya – jenis pujian yang jika dilontarkan oleh Ayu Utami (yang jelas mempunyai banyak fans di fakultas sastra manapun) akan langsung menjadi blurb dan bukutersebut menjadi best seller, dan Renda hanya melihatnya dari kulit luar, menjadi penyambung lidah sekaligus pengkotbah. Maksudsaya, hei, helo, give us something new, something kicked! Benar gak ini bahasa? Anggap saja.

Kalau peristiwa koruptor dan lem tikus itu bukan peristiwa sederhana, itu peristiwa basi! Saya berani bertaruh itu analogi kolot yang dipakaibahkan sebelum Iwan Fals memakainya dalam lagu Tikus-Tikus Kantor. Namun kembali, saya, sebagai pencinta sastra yang hanya suka mencuri puisi dari mata bening wanita tanpa paham teori-teori begituan, agak susah membahasakannya. Mungkin saya hanya akan berakhir dengan menyebut Tengsoe sebagai “penyair tua yang tidak update”. Apakah benar kesimpulan demikian? Sebab ada puisinya berjudul “Ulang Tahun di Timeline”: sangat update! Teknis penulisan waktu pembuatan karya yang kelihatannya kurang diperhatikan dalam penyusunan Kumpulan Puisi Yang Bertamu adalah Ilham-(ada yang menggunakan format: Tempat, DD/MM/YYYY, ada yang ditambahkan keterangan jam, ada yang hanya bulan dan tahun, dengan format: MonthYear, ada yang tanpa keterangan sama sekali) pun, sangat mengganggu dan membuat pembaca tak bisa melacak proses perjalanan karya Tengsoe untuk sekadar membandingkannya dengan cerita panjang lebar tentang proses kreatifnya.

Nah, bagaimana cara membuat kesimpulan yang baik dalam sebuah esai formaljika masalahnya begitu? (Maaf saya suka memakai caps di sini)HELOWWWW…. ITU MASALAHMU!!! Calon sarjana Sastra atau whatever-lahgelarmu apa nanti.

Kenapa? Saya gak yakin bahwa ini dilakukan oleh kedua pembicara dengan alasan kurang pengetahuan. Mereka adalah anak baik-baik yang tentu saja (kuliah dan) punya pemahaman sastra yang baik, dilihat dari caranya berkomentar. Lalu? Sungkan mengkritisi orang tua? Gak enak? Takut? Atau terlanjur tercipta sebagai beo yang memilih suara terbanyak? Atau takut gaklulus matakuliah tertentu gara-gara dosen merupakan teman sangpembikin karya? Jika kau tak terbiasa melepaskan subyektivitasmu dantak terbiasa pula membuat analisa yang mendalam atas sebuah karya,maka jangan heran bila makin banyak orang bodoh seperti Deny Si Lumba-Lumba terjun bebas dari langit. Oh, saya lupa bilang kalau ‘mu’ diatas merupakan jenis kata ganti jamak yang bukan hanya ditujukan pada Bunga dan Renda. Ah, saya lupa. Ada berapa Fakultas Sastra diKota Malang? Lalu ke mana mereka yang seharusnya ada di saat-saatlaknat begini? Membekukan diri di ruang kelas? Membikin status seminar sastra dan update foto bersama orang-orang ‘sastrawan’ biar kelihatan keren? Paling banter nongkrong di UKM. Sudah lama orang menyebutnya onani karya, Kawan. Asyiknya kalau pakai caps :ONANI!!!

Ilmu begituan itu ada di kampus. Kita yang di jalan, hanya pandai menuliskan kata yang bahkan terkadang bentuknya absurd dan bukan puisi. Ilmunya ada di FIB, di SASINDO, di UKM Penulis UM, di… entah di mana lagi yang lain. Namun banyak dari teman-teman kita ini yang kadang sok penting sok sastrawi dan jengah turun ke komunitas-komunitas walau hanya sekedar untuk membagi sedikit ilmunya, lebih asyik bermain dengan kemaluannya (baca:teorinya) di dalam kelas, sehingga kadang menjadi impoten sendiri.

Jika ada yang berharap di akhir tulisan ini saya akan menunjukkan sisi baik dari teks kedua teman tersebut, demi sopan santun dan menjaga hubungan baik agar mereka tak patah semangat dalam berkarya: No Way! Pemakluman terhadap tulisan seperti ini hanya akan menghasilkan ketumpulan dan mendukung lahirnya generasi penjilat yang baru. Yang penting saya telah membabat habis rambutan, goreng pisang dan berhasil merayu Arie untuk mengutangi (lagi, yang SLOPENGudah lunas, Pak) Yang Bertamu adalah Ilham.

Mari, wanita dengan tungkai sangat panjang. Saya bacakan sebuah sajak dari si tamu, untukmu. Berhentilah autis sejenak dari gadgetmu yang lebih mirip kipas di tungku dapur ibu saya. Menurut yang empunya, puisi ini terinspirasi dari lukisan Mas Maruto.

TERIKAT KERAGUAN

Katakan keputusanmu ketika kereta tak bisa merapat ke

stasiun, ketika sayap tak bisa membawamu terbang,

melawanb encana. Gedung-gedung itu ialah belantara,

kau tersesat di dalamnya. Di antara pilar-pilar, gorong

-gorong,jembatan, dan barak-barak mesum sepanjang rel.

Peluit itu mengaum. Berkali-kali mengaum. Ketika sinyal

terakhir di kumandangkan, tetap saja kau tak mampu

mendengarnya.

Tubuhmu telanjang, daratan berumput penuh cangkulan.

Ini hari ke-1000 dalam hidupmu, tak kubaca keputusan

bagi hari-hari mendatang yang menunggu. Kepak

merpati kau biarkan meninggalkan jantung, menyerbu

langit jauh yang mendung. Tak ada lagi mata yang

gelisah seperti kali pertama kau rasakan cahaya merukri

menguning di tubuh

Atau, inikah keputusanmu, memasang tambang di tubuh

sendiri. Memangkas jejak, memenggal nurani.

Bersembunyi dari cahaya pada labirin gelap tanpa

jendela. Kota menjerangmu di atas kompor abadi: pesona

etalase, plaza, fashion, diskotek. Mendidihlah kamu,

adonan rendang yang dungu.

Kereta tetap harus berangkat pada detik yang telah

ditetapkan. Kau sengaja tidak memilih gerbong sebab

kau memang tidak tahu stasiun mana yang masih

menunggu.

Unesa, 01/04/2013-10:01

Advertisements

2 thoughts on “Ketika yang Muda Menulis yang Tua

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s