Surat Buat Rektor Universitas Merdeka Malang

Bapak Rektor yang baik,

Saya kemarin mengikuti Laporan Pertanggungjawaban Bapak dan diskusi-diskusi Bapak dengan mahasiswa ‚Äď anak muda yang semangatnya menyala-nyala. Saya perlu mencatat bahwa saya memang tak betah hadir dan ikut nimbrung, karena ruang-ruang pertanggungjawaban seperti demikian tidak begitu saya betahi. Ruang dimana terjadi offense-defense. Yang satu nyerang yang lain defense, ntar muter, ngomong data, debat cari siapa benar siapa salah dan sebagainya. Entahlah mungkin saya yang memang tak berminat dengan hal begituan. Kalau berminat tentulah saya akan memilih Fakultas Hukum atau mendirikan UKM Continue reading

Advertisements

Ayo ke Mushola!

Ini bukan kampanye peningkatan mutu religiusitas. ini hanya ungkapan sukacita atas kembalinya seseorang dari guling-guling di pendidikan resimen mahasiswa di rampal – atau entah dibawa ke hutan mana mereka. Saya selama dua puluh satu hari dua puluh satu malam lamanya bertingkah seperti perawan Inggris yang menunggu suaminya pulang dari medan perang, sambil berdoa agar ia pulang utuh dan tak kurang suatu apapun. Ya, tentu saja kecuali hal yang terakhir, saya tak benar-benar berdoa.

Maka selamat datang kembali ke kampus, Rini. Ayo, saya antar ke mushola! Merayakan cinta kita yang tak pernah jadi. ūüėÄ

Perang Bunyi Anak Kost: Agresivitas, Narsisme, sampai Mental Koruptif

Pernahkah anda mendatangi sebuah kos yang ramai musiknya? Anak di kamar sebelah membuka lagu rock, di sebelahnya memutar lagu dangdut, sebelahnya lagi memutar Iwan Pals, sebelahnya memutar lagu dari daerahnya yang kadang hambar di telinga; dan semuanya sama memutar dengan volume full abis.
Sehingga anda merasa seolah sedang berada di pasar loak yang menjual alat elektronik dan VCD bajakan. Benar-benar ramai.

Keramaian bunyi yang berebutan masuk ke telinga tersebut sangat bagus, sekaligus menyiksa. Bagus, karena kita disuguhkan beberapa aliran musik gratis dalam satu waktu yang bersamaan. Menyiksa, karena telinga kita hanya dua, dengan gendang yang pas-pasan sementara suara-suara berebutan masuk dengan bass yang sangat kencang. Demi Usi’ Koko yang menumbuhkan padi di sawah, mengapa orang setega itu menyiksa kita?

Ada beberapa penyebab. Yang pertama tingginya agresivitas orang yang memutar musik. Ada banyak faktor yang menyebabkan perilaku agresif namun dalam topik ini saya lebih tertarik pada faktor yang disajikan Taylor Taylor, dkk (2000): adanya serangan (attack) serta frustasi. Serangan merupakan salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab agresif. Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh suatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, penghargaan atau tindakan tertentu.

Dalam hal ini, bentuk serangan yang dilancarkan adalah serangan suara yang berlebihan kepada telinga orang-orang di sekitarnya. Seorang anak kos mulai membuka musik country dengan volume tinggi, menyerang telinga tetangga kosnya. Tetangga kos tersebut yang menyerang balik dengan membuka lagu Iwan Fals, sama kencang. Tetangga lain lagi membuka lagu lain lagi dengan lebih keras lagi. Maka bila anda sedang frustasi, entah putus cinta atau apapun itu, usahakan membuat pelarian yang lebih pantas dan tidak agresif.

Yang kedua, terdapat ciri narsisme pada jenis orang ini. Mereka merasa telah mempunyai selera musik yang paling bagus, atau lagu baru yang paling bagus, atau perangkat sound system yang paling bagus sehingga perlu dipamerkan kepada tetangga kosnya. Dan dalam tingkatan narsisme mereka ini paling parah, karena mereka memamerkan hal yang sama berulangkali dalam jangka waktu yang panjang, sebulan, setahun, dua tahun, dan seterusnya. Jika Narsisius masih hidup bisa jadi ia kalah narsis.

Yang ketiga mental koruptif yang ada di kepala pemutar musik. Hal terakhir ini erat kaitannya dengan film dokumenter Di Balik Frekuensi. Gelombang yang menghantarkan suara adalah milik publik, milik semua orang. Namun si pemutar lagu ini dengan egonya berusaha untuk merebut tiap Hz dari gelombang tersebut untuk menjadi miliknya pribadi. Astaga, egois sekali! Orang-orang ini karena mempunyai modal (musik dan perangkat sound system), seenaknya menggunakan fasilitas (gelombang) yang seharusnya merupakan milik bersama, digunakan untuk kepentingan egonya. Ini manusia-manusia kapitalis yang koruptif.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait penyebab mereka melakukan hal ini, namun sampai saat ini asumsi saya adalah kurangnya perhatian, yang meningkatkan naluri agresif-narsistik. Mereka menyerang biar mendapat perhatian. Juga berusaha meng-korupsi gelombang bunyi: biar musik mereka yang paling didengarkan, diperhatikan. Sigmund Freud himself akan menunjuk wajah orang ini dan menggolongkannya dalam orang-orang yang mengalami proses fiksasi. Kemungkinan konsep diri mereka sangat buruk. Atau mereka dididik tanpa toilet training yang baik, atau dengan fase oral berantakan. Atau, entahlah. Apakah mereka diberi ASI?

Transaksi di Lobi: Transparansi atau Mata Duitan?

Ini lagi musim bayar SPP di Universitas Merdeka Malang. Sebenarnya sih musimnya sudah agak lewat. Batas pembayaran tanggal 21 Pebruari kemarin. Saya datang ke kantor pusat pada hari Kamis tanggal 20 Pebruari. Orang ramai, antri, berrdesak-desakan. Yah gak begitu lebay sampai ada yang minta oksigen tapi cukup untuk dibilang ramai. Pembayar SPP. Di hari itu saat saya ke yayasan, Ibuk-ibuk di loket yayasan suruh Continue reading

Pesta Pencuri: Sinetron Romantik Mahasiswa dan Perayaan Kepura-puraan

Catatan Kecil atas Pentas Produksi 20 Teater Pelangi

Tanggal 21 dan 22 Peruari 2014 Teater Pelangi Malang-Indonesia mempersembahkan kepada para penikmat teater kota Malang karya Jean Annoulih, seorang seniman Perancis berjudul Le Bal des Voleurs yang disadur oleh Asrul Sani ke dalam sebuah naskah berbahasa Indonesia berjudul Pesta Pencuri. Naskah teater Jean (dieja: Szong, atau sejenisnya bingung nulis s-nya mesti pakai suara hidung soalnya) Continue reading

Penggampangan Nilai: Penghinaan Dosen terhadap Tingkat Intelektualitas Mahasiswa

Ceritanya begini. Teman saya, sangat ahli dan berbakat dalam bidang perkomputeran – okelah apa namanya, pokoknya soal-soal mengenai komputer. Ceritanya sejak SMP dia sudah punya komputer sendiri di kamar, lengkap dengan akses internet. Tentu saja dia sanggup mengalahkan kami yang waktu SMA punya pelajaran TIK tapi tiap praktikum hanya disuruh mati-hidupkan komputer (astaga jahatnya Romo Yonas, haduh…). Teman saya ini sangat ahli berkomputer. Saat saya dan teman lain baru tergila-gila pada internet dan hobi membuka situs-situs, you know, yang ada Maria Ozawa, Asia Carera, dan ya sedikit Luna Maya dan Ariel, Continue reading

Aum dan Pluak di Kepalanya

1.

Sore ini saya lapar. Saya sedang mengerjakan tugas mata kuliah Psiko Grafis, tugas menganalisis DAP, BAUM dan WARTEG yang ribetnya astaga. Apalagi klien saya ini hamper mau saya identifikasi sebagai seorang schizophrenia. Ribet banget. Untung saya dibantu teman saya Puput via sms yang bikin bingung juga karena penjelasan panjang-panjang mesti dibuat lewat sms. Dan Yuliana Setyorini memberikan semangat. Mengingatkan makan. Nah sms berikut masuk dari teman saya yang manis: Pluak! Gila! Lix gila! Pluak!

Saya balas dengan emoticon begini Continue reading