Semester Pendek dan Kiat Ampuh Lulus Mata Kuliah Asuhan Bu Ari

Felix Nesi

Pendahuluan

Saya mulai sadar bahwa sebagai mahasiswa sudah semetinya saya terus membiasakan diri menulis dengan cara yang lebih ilmiah. Setidaknya beberapa kaidah ilmiah penulisan musti saya gunakan dalam menulis. Well, di zaman begini beberapa mahasiswi menyukai sesuatu yang ilmiah. Saya pernah mendengar cerita tentang teman saya yang nembak cewek dengan cara membikin proposal yang rancangannya mirip proposal skripsi. Walaupun toh gak diterima dan belakangan ketahuan bahwa teman saya ini ternyata gay, cukup menarik sebenarnya idenya tentang aliran ilmiah-romantis ini.

Beberapa bulan ini saya memang mulai sadar akan beberapa hal, salah satunya adalah kesadaran lain bahwa Tiara lebih cantik dengan rambutnya yang dulu – yang bergelombang-gelombang seperti ombak, bukan rambut yang sekarang. Yah, walaupun menurut hasil wawancara terapeutik pada beberapa laki-laki student center, lebih cantik Tiara yang sekarang.
Maka saya buka tulisan ini sesuai dengan yang anda lihat di atas: Pendahuluan.

Isi
Agh, kasihan sekali nasib mahasiswa yang tidak mengenal semester pendek. Tapi lebih kasihan lagi mahasiswa yang mengenal semester pendek dengan sangat baik. Beberapa mahasiswa menyingkatnya menjadi SP, dibaca espe. (Manusia memang malas, frasa yang begitu puitis disingkat juga).

KBBI menerjemahkan semester sebagai tengah tahun (enam bulan). Sedangkan pendek memiliki empat arti : 1 dekat jaraknya dr ujung ke ujung: 2 dekat jaraknya dr sebelah bawah; tidak tinggi: 3 sebentar (tt waktu): 4 ringkas; singkat (tt cerita dsb). Maka semester pendek dapat diartikan sebagai tengah tahunan yang ringkas atau singkat, dalam hal ini merujuk pada poroses kuliah mahasiswa. Sedangkan pengertian semester pendek menurut ibu saya adalah remidial seperti anak SD yang tidak tahu atur waktu.

Nama Bu Ari sendiri telah menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang. Saya sering mendengar mahasiswa menyebut namanya di parkiran atau di kantin, kebanyakan dengan nada yang sangat berat. Beberapa menyebutnya sebagai dosen killer. Saya tak suka pada istilah killer yang kuno namun jika anda penasaran pasti belum membaca tulisan saya yang satu ini.

Karena terharu dengan fenomena banyaknya mahasiswa yang mengeluhkan ketaklulusan dalam mata kuliah yang diasuh Bu Ari, sampai-sampai ada yang musti SP berulangkali (mudah-mudahan saya gak, naudzubillah, oh no!), bahkan kabarnya burung entah siapa ada yang lebih memilih pindah kuliah ke universitas XYZ ketimbang bertemu Bu Ari, saya merasa perlu menanyakan kiat ampuh agar lulus dari mata kuliah dosen yang unpredictable ini. Setelah perjuangan panjang dengan dukungan teman-teman se-SP di dalam ruang kelas, begini jawabannya (pernyataan-pernyataan berikut bukan hasil kutipan langsung):

  1. Ada yang gak lulus karena galau, stres yang membuatnya kurang konsen belajar. Saya membaca status facebook mahasiswa saya dan menemukan beberapa masih banyak yang stres.
  2. Kesalahan meminjem catatan. Ditemukan banyak kesamaan jawaban yang ternyata salah. Maka sebaiknya selalu membuat catatan sendiri saat kuliah.
  3. Beberapa soal biasanya saya ambil langsung dari apa yang saya omongkan di depan kelas. Dengan begitu saya tahu apa kalian benar-benar fokus di kelas atau tidak.
  4. Jangan ada excuse (jangan tanya excuse itu apa!). Misalnya kalo tugas musti dikumpul jam 10, ya kumpul jam 10, jangan dikumpul sesudah jam 10 dengan banyak alasan.
  5. Sampai point lima ini saya, penulis, baru sadar bahwa hari ini Ardelia Affanda yang duduk di samping saya kelihatan sangat putih, sangat bersinar. Maka untuk menghormati kemalaikatannya tersebut, point lima saya persembahkan khusus kepadanya: Ardelia cantik! (Mumpung dia lagi bersinar besok pasti jadi witch lagi).
  6. Jangan campuradukkan jawaban di matakuliah satu dengan mata kuliah lain. Contoh, dalam mata kuliah psikologi klinis ada pertanyaan ttg metode observasi. Itu artinya metode observasi dalam setting klinis. Beberapa malah menjawab metode observasi berdasarkan yang diajarkan pada matakuliah Metodologi Pendidikan. Ya salah….
  7. Usahakan mendengar penjelasan secara utuh dan penuh. Kadang ada yang menulis jawaban terbalik. Malah yang salah yang ditulis. Kemungkinan itu terjadi karena tak sempat mendengar kata “bukan merupakan” atau pengganti kata negatif lain di depan kalimat tersebut. Contoh (contoh ini penulis sendiri yang bikin): “Felix adalah &^*&^%*&%$*^%$*^%* (si mahasiswa mainan hape, gak dengar penjelasan, begitu angkat kepala dengerin: ) kambing!”. Saat ujian ada pertanyaan: Siapakah Felix itu? Maka jawaban mahasiswa: Felix adalah kambing. Seharusnya ada kata ‘bukan’ di depan kambing. Tapi kata ‘bukan’ gak sempat didengar. Gitu…

Point Tambahan
Beberapa hari yang lalu waktu saya minta tt.nya Bu Agustin (jangan tanya tt itu apa!) buat ikut SP, Bu Agustin Rahmawati bilang: “Kamu terlalu common sense kayaknya Lix. Kalau common sense sih semua orang bisa, tanpa kuliah pun bisa. Yang kita butuh itu landasan teorinya.”

Nah saudara-saudari yang terkasih dalam beringin, saya rasa ini perlu diingat, apalagi bagi mereka yang suka membaca buku-buka sembarang kalir, di luar catatan-catatan yang dikasih di kelas. Kekurangan kaum ini adalah kecendrungan juga terbawa untuk membaca catatan kelas sekenanya. Saat melihat soal ujian mereka akan merasa pernah membaca dimanaaaaa gitu, lalu mulai meraba-raba. Ya baguslah kalau yang diraba-raba adalah gadget yang pas, eh maksudnya memory yang pas. Lek gak ya soro, Boy. I have done it before, Boy. Dan hasilnya aku SP. Di sini yang beruntung adalah gadis-gadis yang suka memperhatikan detail seperti Golda, Arina, Firly, Putri, Ardelia, Tiara, si mbak Sagita dan sebagainya (capek absen satu-satu). Mereka belajar dengan membaca catatan kuliah sampai detail, kalau bisa dihafal semuanya (sesuatu yang jarang bahkan gak pernah dilakukan orang yang kutu buku). Well, bagaimanapun juga akhirnya cara membaca seperti wanita-wanita ini yang musti kamu orang lakukan, biar gak asal meraba saat ujian dan berujung pada common sense, bukan?

Apakah membosankan? Hell, yah! Siapa bilang kuliah itu gak membosankan? Enakan diskusi di luar kelas, Boy, tentang upah buruh, tentang cengkraman kapitalis terhadap pasar tembakau di Indonesia, atau tentang pembodohan yang dilakukan oleh media-media Indonesia dimana hampir seluruh media ditunggangi kepentingan politis pemiliknya. Lebih enak lagi kalau mainan tuiter. Karena sadar bahwa kuliah itu membosankan-lah maka saya berusaha keras agar cepat selesai dan lepas dari hal-hal membosankan seperti begitu. Hufft, seharusnya saya sudah menjadi satu dari 33 Tokoh Sastrawan Paling Berpengaruh di Indonesia (what?) tapi ini kuliah memang mengganggu! Another excuse. LOL.

Maka begitulah point-point yang sempat tercatat. Point terakhir yang perlu diingat juga adalah pesan terakhir Bu Ari sebelum UAS semester ganjil, saya pikir kamu orang musti baca di sini. Agar kamu inlander tidak dijajah sama Belanda lagi, hah.

Penutup
Saya lapar dan masih belum membaca dengan lebih detail bahan-bahan ujian. Padahal besok itu UAS SP. Jadi saya musti masak dulu, lalu baca lagi, karena saat UTS tadi perjuangan saya adalah perjuangan meraba: Kayaknya semalam sempat baca deh…. Mudah-mudahan besok lebih lancar. Selamat berdjuang.

Advertisements

2 thoughts on “Semester Pendek dan Kiat Ampuh Lulus Mata Kuliah Asuhan Bu Ari

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s