Aum dan Pluak di Kepalanya

1.

Sore ini saya lapar. Saya sedang mengerjakan tugas mata kuliah Psiko Grafis, tugas menganalisis DAP, BAUM dan WARTEG yang ribetnya astaga. Apalagi klien saya ini hamper mau saya identifikasi sebagai seorang schizophrenia. Ribet banget. Untung saya dibantu teman saya Puput via sms yang bikin bingung juga karena penjelasan panjang-panjang mesti dibuat lewat sms. Dan Yuliana Setyorini memberikan semangat. Mengingatkan makan. Nah sms berikut masuk dari teman saya yang manis: Pluak! Gila! Lix gila! Pluak!

Saya balas dengan emoticon begini -> :*

Dia tanya : apa itu Lix?

Wah dasar bule…. Eh, bule apa bukan ya?

Dia adalah seorang Aum Pawinee. Anda harus mengejanya Um Pawini. Mahasiswi semester 9 Universitas Walailak, di Thailand sana. Agar tak terjadi salah paham, biar saya jelaskan dia bukan semester tua ya, karena di kampungnya sana satu tahun itu 3 semester. Jadi semester 9 = tahun ketiga di Universitas.

Kami berkenalan dengan sangat konyol di Car Free Day, Malang. Saya dan teman-teman saya dari Titik Sastra yang membutuhkan sesuap nasi datang dan melakukan aksi teaterikal bodoh di Car Free Day, demi panggilan alam dari bawah perut yang tak mampu bernegosiasi dengan isi dompet. Ketika hari mulai panas-panasnya dan kami membaca puisi dengan semangat cacing, datanglah tiga wanita cantik yang berdiri di hadapan kami dan menonton dengan sangat antusias. Sangat serius. Mereka bergantian menggunakan gadget entah apa namanya merekam setiap adegan di mana si Mohammad Zain kami bungkus dengan kain putih. Yuda yang selalu semangat membaca puisinya dengan semangat.

Selesai acara bodoh kami, mereka ternyata tak beranjak. Mungkin mereka terlalu terpukau pada aksi kami. Berarti kami punya penggemar yang suka pada puisi-puisi kami. Saya mengambil inisiatif untuk mengajak berkenalan. Siapa tahu mereka bisa mengawali kelompok kecil yang akan disebut Titik Fans Club.

Saat itu pula teman-teman saya yang beringas tiap kali melihat wanita cantik mendekat dan say hai, membuat basa-basi dengan lelucon kunonya sambil menunggu waktu tepat untuk bertanya : Boleh kenalan. Kurang lebih kami bergurau dan melemparkan joke-joke lucu selama 20 menit. Mereka hanya diam dan tertawa, seolah kami makhluk paling lucu, imut dan menyenangkan di dunia. Sampai pada suatu titik seorang dari mereka nyeletuk : _(*^)*^$*^%#&^%#$(*&^_(*&_*&%(&^$*^%#*.

Tek. seperti ketahuan selingkuh. Ngomong apa dia barusan?

Zen si Chairil muda tak kehabisan akal.

Ia bertanya : “Mbaknya ngomong bahasa Arab?”

Kami menerima hanya tatapan mata.

Saya : Mbak bukan dari Indonesia?

*Mengangguk.

Saya : Bisa bahasa Indonesia?

*Bengong.

Saya : You speak English?

*Geleng.

Saya : Mbak mengerti kata-kata saya?

Aklamasi : Tidak! Yang tadi tidak!

Zen : Where you from?

Aklamasi : Thailand

Wah, gendeng ki wong Thailand Ong Bak.

Andre : Nam?

Aklamasi : Ya, air……..

Nah, setelah bingung-bingungan beberapa menit tahulah kami bahwa mereka berasal dari Thailand, kuliah bahasa Indonesia di Thailand, sekarang mengikuti Program In Country angkatan 5 di Universitas Negeri Malang dan hanya bisa bahasa Indonesia yang baik dan benar. If you say : Apakah anda sudah makan? Ngerti. Udah makan? *Bengong.

Begitulah. Sebegini dulu cerita saya karena saya sangat lelah menulis. Sekarang saya sangat merindu salah satu dari mereka. Aum namanya. Anda harus mengejanya Um. Ia sedang menikmati segelas kopi di Amsterdam, dan saya sedang pusing mengerjakan tugas UAS saya di ruang kerja saya di Komunitas Seni (KoMSeN) 69 Unmer Malang. Ia selalu suka mengirimkan sms begini :

………

Pluak…. Gila….. Sudah makan?

………

Its sound a little romantic right?

Berikut ini gambar pluak. Saya harap pandangan anda tentang romantic ikut berubah.

Dan ini gambar orang gila.

Jadi ia berpikir bahwa saya ini adalah seekor rayap pengerat kayu yang giola. Adakah teman-teman yang punya fotonya?

Okey, saya akan sms begini : Aum pluak…. Saya sangat Merindu.

Bentar ya, saya ketik dan send dulu.

____________

Aum pluak…. Saya sangat Merindu.

____________

Udah sent. Okey. Sambil menunggu balasannya, baiklah saya bercerita bahwa kami telah melalui beberapa tahap komunikasi. Ia punya anjing, nama anjingnya Tono, diambil dari nama seorang vokalis entah di Thailand sana. Ayahnya seorang peladang. Tapi ayahnya tidak menanam, ayahnya memperkerjakan mesin. Maksudte? Hanya dia yang tahu apa maksudnya. Mungkin ayahnya memakai traktor untuk menanam. Lah maksudnya? Kan dah ku bilang! Hanya ia yang mengerti apa yang ia maksudkan!!!!

Lama juga ya balasnya?

Nah, ia suka pergi ke warung-warung kopi dan minum kopi, meskipun ia punya penyakit lambung. Sek, HP muni. Apa balasannya?

Kita buka dulu ya?

…..

Kak,,, masasih lix,, bohong!

….

Nah, apa lagi maksudnya?

Mungkin dalam bahasa kita manusia (sorry Aum, you are a Pluak, right? ) artinya adalah :

…….

Makasih ya Kak… Gombal Ah!

…….

Mas,,,, makasih,,, jangan bohong loh ya…..

………

Atau, whatever lah. Kan aku udah bilang, hanya dia sendiri yang ngerti!!!!!

////

Nah ini si Budi datang lagi ngintip-ngintip dari belakang sambil nanya : “Bikin apa? Naskah?”

Mbok pikir aku ki sutradara a????

////

Oke lanjut.

Saya lapar….

Advertisements

2 thoughts on “Aum dan Pluak di Kepalanya

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s