Penggampangan Nilai: Penghinaan Dosen terhadap Tingkat Intelektualitas Mahasiswa

Ceritanya begini. Teman saya, sangat ahli dan berbakat dalam bidang perkomputeran – okelah apa namanya, pokoknya soal-soal mengenai komputer. Ceritanya sejak SMP dia sudah punya komputer sendiri di kamar, lengkap dengan akses internet. Tentu saja dia sanggup mengalahkan kami yang waktu SMA punya pelajaran TIK tapi tiap praktikum hanya disuruh mati-hidupkan komputer (astaga jahatnya Romo Yonas, haduh…). Teman saya ini sangat ahli berkomputer. Saat saya dan teman lain baru tergila-gila pada internet dan hobi membuka situs-situs, you know, yang ada Maria Ozawa, Asia Carera, dan ya sedikit Luna Maya dan Ariel, dia telah sibuk membuat game, belajar menjadi cracker dan hal-hal sejenis lain yang akan membuat mulut kami menganga. Dia sangat hebat.

Namun, di balik kehebatannya, entah tuhan atau lawannya tuhan menaruh sikap tak acuh dalam hatinya. Ia tak peduli pada dunia pendidikan dan hal begituan. Ya, ayahnya bekerja di perusahaan multi-nasional dan dia merasa tak ada gunanya sekolah. Selepas SMA dia sibuk dengan dunianya sendiri. Main game online dan sebagainya yang mungkin sudah azab baginya, astaga, hina sekali dia.

Nah, beberapa hari lalu saya ditelpon. “Bro, carikanlah buat saya tempat kuliah. Saya mau kuliah.” Demi beringin yang menghidupkan kupu-kupu, saya sangat senang dia mau kuliah juga. Begini-begini saya seorang yang yakin kalau kuliah itu masih penting.

“Kuliah apa?” Saya tanya.

“TI,”dia jawab.

“Wah, jangan kuliah yang kau sudah ahli.” Saya sok tahu.

“Boy, TI itu hidup dan mati saya.”

Okey then. Namun saya masih bingung karena menurut saya tak perlu kuliah pun kemampuan TI-nya sudah mumpuni. Mending dia kuliah kedokteran keg gitu.

Saya cek beberapa fakultas TI di Kota Malang. Saat dia telepon lagi saya dengan sangat bersemangat memberikan beberapa opsi kampus baginya. Namun saya sangat menyarankan sebuah Fakultas TI di Universitas XYZ yang mahasiswanya gampang lulus. Konon katanya matakuliah di situ bisa dibeli, kalau gak lulus, asal bayar berapa gitu, pasti lulus walaupun jarang masuk. Biasalah. Saat saya jelaskan padanya dia menjadi malas.

“Boy, kayak begitu gue tersinggung,” saya lupa apakah dia benar-benar pakai kata ‘boy-gue’.

“Kenapa? Kan lu bisa di kos, main game online, ngehack, terus tahu-tahu lulus, begitu…”

“Wah,” dia berkata,”Itu dosen pikir saya bodoh sekali ya jadi untuk luluspun yang penting mbayar gitu?”

Nah, saya tiba-tiba-tiba menyesal kenapa orang sepintar ini lahir sebagai laki-laki. Baru kali ini ada orang muda yang pikirannya nyambung sama saya.

Jadi di malam yang aku lupa entah berbintang entah berawan itu kami sepakat: saat dosen menurunkan standar memberikan nilai dengan alasan apapun, dia sebenarnya baru saja menghina sisi intelektualitas si mahasiswa. Ya sudah, Mahas, elu memang goblok, gue ngerti lu bodoh dan goblok, jadi walaupun sebenarnya nilai lu D, gua kasih B plus plus lah, biar elu lulus. Tapi bayar ye….

Dan mahasiswa dalam rahimnya melonjak kegirangan. Yeyyyy,, tepuk tangan. Gitu. Padahal dia baru saja dihina, dianggap bodoh bin goblok dan sangat stupid boy, astaga istilah saya habis. Nah dengan begitu, yang rugi siapa? Ya gak tahu boy, gue gak sedang bicarakan untung-rugi lu pikir di pasar apa… Tapi kalau ngotot musti ada untung rugi ya pikir sendirilah. Toh untung-rugi dalam hal ini sudah berhubungan erat dengan sudut pandang. Tergantung dari sudut mana kau memandang. Kalau dari depan ya jelek soalnya gak kelihatan tatto-nya Maria Ozawa, Boy. Di bagian tubuh manakah Maria Ozawa membuat tatto? Haduh ngelantur. Okey.

Maka saya berikhtiar, hahaha, awas ya kalau saya jadi dosen. Saya tak akan mau menghina mahasiswa saya dengan menggampangkan nilai. Saya akan membuat mereka tahu apa artinya perjuangan, apa artinya darah dan airmata. Biar saat mereka wisuda ya nangis benar-benar nangis. Biar mereka tak jadi mahasiswa yang tukang suap, pemerkosa nilai, dan suka memberikan excuse macem-macem demi mencapai tujuan tertentu kayak penderita histerya. So, gudnek.

Felix Nesi

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s