Pesta Pencuri: Sinetron Romantik Mahasiswa dan Perayaan Kepura-puraan

Catatan Kecil atas Pentas Produksi 20 Teater Pelangi

Tanggal 21 dan 22 Peruari 2014 Teater Pelangi Malang-Indonesia mempersembahkan kepada para penikmat teater kota Malang karya Jean Annoulih, seorang seniman Perancis berjudul Le Bal des Voleurs yang disadur oleh Asrul Sani ke dalam sebuah naskah berbahasa Indonesia berjudul Pesta Pencuri. Naskah teater Jean (dieja: Szong, atau sejenisnya bingung nulis s-nya mesti pakai suara hidung soalnya) ini, selain saduran yang dibikin Asrul Sani masih ada versi lain garapan Rachman Sabur dengan judul Pesta Para Pencuri. Entahlah jika masih ada saduran yang dibikin orang lain lagi, namun dua naskah ini yang sering dipakai. Catatan saya berikut awalnya berjudul Pesta Pencuri: Sinetron Romantik Mahasiswa, Perayaan Kepura-puraan dan PIN BB Juliette. Namun karena saya sendiri tak mempunyai BB, maka dengan sangat berat hati saya memilih untuk tak menyinggung apapun soal PIN.

Pesta Pencuri menceritakan tentang tiga orang pencuri yang menyamar menjadi bangsawan untuk merampok harta seorang bangsawan(bangsawati?) Lady Hurf; dua orang bankir idiot ayah-anak yang juga mendekati Lady Hurf untuk memperoleh suntikan dana bagi banknya yang mulai bangkrut, namun Lady Hurf, wanita tua yang kekurangan hiburan membuat para pengejar harta ini masuk dalam perangkapnya sendiri. Di samping komedi konyol tentang pencurian tersebut, ada sisi romantis yang menggambarkan percintaan antara ponakan-ponakan Lady Hurf dengan para pencuri.

Teater Pelangi kelihatan benar-benar membuat latar yang ditampilkan tidak Indonesia. Taman, lampu jalan, kostum, dansa, nama, sampai musik latar membuat saya seolah sedang menonton salah satu film bukan-Indonesia lawas. Sementara vokal Lady Hurf (diperankan Ratih Cahyaning Tyastuti) dan dua ponakannya Eva (Lusiana Dwi Saputri) dan Juliette (Triwida Wulandari) yang dibikin panjang-panjang – kadang disertai desahan-lenguhan kecil disela percakapannya – mengingatkan saya pada percakapan bilingual dalam telenovela seperti Maria Cinta yang Hilang dan sebagainya. Hanya, tentu saja aksen medhok hampir seluruh tokoh tetap menjaga kesadaran saya dari awal sampai akhir bahwa saat itu saya sedang berada di Gedung Sasana Budaya UM, Tanah Jawa, Indonesia; sebuah negara kecil dengan tontonan kepura-puraan yang hampir bisa didapat gratis setiap hari.

Sebagai penonton yang tak beranjak dari kursi sampai pementasan selesai, suasana sinetron multivision plus sangat terasa dalam beberapa bagian lakon. Kita semua tahu, ciri khas sinetron Indonesia adalah repetisi yang tidak penting dalam sebuah bagian yang sebenarnya sudah diketahui penonton. Hal yang sebenarnya sudah dapat ditebak atau diketahui penonton, malah diumumkan oleh sang lakon dengan berputar-putar, berulang, sehingga membosankan. Seperti: “Hmmph! Dia tidak tahu bahwa saya telah menaruh racun dalam gelasnya!” (cuplikan sinetron dalam film Punk in Love). Selain itu, dua peran Dupont Dufort Senior-Yunior (Dekki Priyatama-Erens Levian Rahman) yang gagal sangat mengganggu selama pertunjukkan berlangsung. Mereka berdua sungguh kompak untuk tidak gagal hanya ketika tidak berbicara; entah saat berjoget atau menunjukkan mimik bodohnya. Suasana sinetron dan kebosanan mendapat sentuhan kocak berkali-kali dari Peterbono-Hector (Izzul Motho’-Fammy Azmy Arrofi) dan Lord Edgard (Orick Ridwan).

Kisah cinta yang ditawarkan menjadi sesuatu yang menjual dan menguntungkan, terlebih karena penonton yang hadir pada umumnya adalah mahasiswa. Percintaan antara Gustave (Heri Santoso) dan Juliette, dirancang sedemikian rupa sehingga menimbulkan suspense yang menyenangkan bagi penonton yang kebanyakan terdiri dari mahasiswa gaul – generasi labil abad ini. Teknik suspense yang digunakan Jean memang sebuah teknik dimana penonton disiksa untuk menunggu dengan tak sabar, kapan si wanita dan si pria akan bersatu. Seperti suspense dalam lakon tua Decamerone dimana penonton menantikan kapan si pastor dan biarawati akan bersetubuh. Atau, ya anda pasti ingat beberapa adegan dalam film Twilight dimana si aktris Kristin menunggu dengan sangat harap untuk dicium oleh Robert, vampir yang galau antara ingin mencium dan tidak. Posisi antara ingin mencium dan tidak ini yang selalu mendebarkan penonton. Saya sesungguhnya menunggu dan berharap ada adegan ciuman paling lama antara Heri Santoso dan Triwida Wulandari karena memang Asrul Sani menitahkan demikian: Gustave dan Juliette berciuman – entah di babak berapa saya lupa. Sayang sekali sutradara Alfanul Ulum menitahkan lain (Iyalah Lix, FTV aja belum ada adegan ciumannya! Mosok iyo di Sasbud ada. Oh iya lupa). Namun, adegan demi adegan percintaan inilah yang selalu berhasil menjadi daya tarik bagi penonton, yang selama adegan percintaan mengeluarkan suara “ouhhhh, aaaooohhh” dan sebagainya. Suara ini merupakan jenis applause yang lain, suatu kekaguman saat hati-(baca=heart, jantung) ikut bergemuruh karena adegan yang menggetarkan. Teater Pelangi berhasil membuat gombalan papermint berupa kalimat biasa dan atau kata puitis yang klise, tidak terdengar basi.

Hal lain yang menarik adalah, entah kebetulan entah memang direncanakan, pementasan ini bertepatan dengan persiapan menuju Pemilu 2014. Banyak caleg dengan wajah ambigunya datang ke masyarakat dengan janjinya yang selalu aduhai. Sangat kebetulan pula, Gunung Kelud baru saja meletus. Saya akan memberikan satu spasi jeda untuk menghormati masalah terakhir di atas.

Hari-hari terakhir di tengah dua kejadian penting ini, adalah hari-hari besar yang sangat subur dan tepat untuk merayakan kepura-puraan. Caleg dan partai pura-pura murah hati dengan harapan dipilih, konstituen pura-pura percaya dengan harapan diberi uang sembako dan lain-lain. Maka Pesta Pencuri merupakan pilihan pementasan yang tepat, sebuah perayaan kepura-puraan di bumi Indonesia.

Jika Teater Bengkel Muda pada tahun 2007 mementaskan Pesta Pencuri di hadapan pengungsi Lapindo – yang astaga sampai sekarang belum selesai, duh, Abu Rizal Bakrie wajahnya besar bingit di jalan-jalan penuh senyum astaga – apakah kru Teater Pelangi juga akan rendah hati meluangkan waktunya untuk mementaskan lagi Pesta Pencuri di hadapan saudara-saudari pengungsi letusan Gunung Kelud? “Oh, Lady Hurf, ini bukan usulan, apalagi himbauan untuk meniru Bengkel Muda”. Hanya saja, jika mereka datang, mereka pasti akan dicintai; sebab saya sendiri masih mengenang kalimat lantang Triwida Wulandari (entahlah, di adegan ini saya tak mau mengenangnya sebagai Juliette) kepada Gustave di pementasan malam kemarin: “Beranikan diri untuk menikah denganku!” Ah,, Triwida…. Eh, Juliette….

Felix Nesi

(Terimakasih, Dhita Pinatih…)

Advertisements

2 thoughts on “Pesta Pencuri: Sinetron Romantik Mahasiswa dan Perayaan Kepura-puraan

  1. adalah sebuah catatan kecil dari seorang penonton yang punya kedekatan emosional dengan kelompok teater yang dimaksud. walaupun ada beberapa bagian tulisan yang mengarah ke analisis atau agak bernada kuratoris, kurasa itu tak lain adalah percikan2 potensi bahan wacana pencatat bersangkutan. entah apakah dia bermaksud mau jadi pengamat atau yang lain, terserah. lagi pula, belum ada kita jumpai pertunjukan2 komunitas kampus atau nonkampus wabilkhusus komunitas2 muda di malang yang layak untuk dikritisi. kalaupun si pencatat menyarankan pementasan ulang karya ini untuk erupsi kelud dan momentum pemilu, juga ndak apa2. tapi daripada ribet mempersiapkan pertunjukan ulang, kukira kita, dan banyak teman2 muda yang lain bisa bikin pertunjukan spontan yang bisa kita persembahkan untuk itu. kalau pertimbangannya adalah karena apresiasi si pencatat terhadap kepurapuraan sejenis sinetron yang tercitra dari bloking atau tata panggung waktu itu maka bisa sangat mungkin untuk yang kedua kalinya, hal itu tidak akan representatif bila di giring pada satu tema, bencana misalnya

    @ setelah baca ini mau baca buku,,,eh kok ngoment ya!

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s