Surat Buat Rektor Universitas Merdeka Malang

Bapak Rektor yang baik,

Saya kemarin mengikuti Laporan Pertanggungjawaban Bapak dan diskusi-diskusi Bapak dengan mahasiswa – anak muda yang semangatnya menyala-nyala. Saya perlu mencatat bahwa saya memang tak betah hadir dan ikut nimbrung, karena ruang-ruang pertanggungjawaban seperti demikian tidak begitu saya betahi. Ruang dimana terjadi offense-defense. Yang satu nyerang yang lain defense, ntar muter, ngomong data, debat cari siapa benar siapa salah dan sebagainya. Entahlah mungkin saya yang memang tak berminat dengan hal begituan. Kalau berminat tentulah saya akan memilih Fakultas Hukum atau mendirikan UKM Debat.

Saya hanya tergelitik saat teman saya Ismail menanyakan apakah dana pembangunan yang diawal tidak cukup untuk menutup biaya lab, sehingga mahasiswa harus membayar lagi ke fakultas saat masuk ke lab.

Istilah dana laboratorium memang sangat terdengar keren. Di fakultas saya dana itu kami sebut uang praktikum. Sesuatu yang jika kami sampaikan lewat sms ke orangtua di rumah kedengarannya keren. Uang praktikum. Semacam ‘wow’ di telinga kami yang dari kampung. Penjelasan Wakil Rektor II bahwa tiap fakultas mempunyai kebijakan masing-masing terkait dana laboratium dapat saya pahami. Mengingat kebutuhan tiap fakultas memang berbeda. Namun itupun menggundahkan saya yang sejak pernyataan Izmail – yang mengaitkan dengan dana pembangunan – mencoba mereka-reka mungkinkah dana laboratorium ditiadakan. Ternyata kemungkinan itu kecil.

Bapak Rektor yang baik,

Dana praktikum di fakultas saya seratus ribu rupiah per matakuliah. Angka yang kecil bagi sebagian mahasiswa. Namun bagi mahasiswa seperti saya itu sudah uang makan satu bulan; kalau hemat bisa dua bulan. Walaupun demikian kadang saya merasa seratus ribu agak berlebihan. Seperti praktikum mata kuliah Psikologi Grafis, dengan membayar seratus ribu kami mendapatkan fotokopi buku panduan dan empat lembar kertas folio yang ada stempelnya, agar klien kami bisa menggambar di situ.

Menurut saya berlebihan, jika dihitung biaya lima item itu harganya tidak sampai seratus ribu. Entahlah, mungkin ada biaya lain di luar itu yang saya tidak tahu, seperti ongkos kebersihan dan sebagainya. Namun saya tidak sedang mempersoalkan itu. Sekali lagi ini bukan suatu offense dengan data yang bermaksud meminta pertanggungjawaban uang saya – yang perlu ditanggapi dengan defense dari data juga. Jika itu yang saya inginkan, tentu saya akan bertanya langsung ke pihak fakultas.

Yang saya maksudkan adalah, kenyataan bahwa Universitas Merdeka Malang tergolong kampus yang murah dibandingkan dengan kampus yang lain. Itu yang membuat saya mendaftar di tahun 2010 dulu. Walaupun kabar terakhir saya dengar kalau DPPnya sudah mencapai angka tujuh juta, masih murah dibandingkan kampus lain. Namun jika biaya seperti praktikum yang saya contohkan di atas sedikit lebih bersahabat, tentu akan lebih membantu mahasiswa seperti saya yang harus rajin berdoa agar cabai Bapak saya di kampung tidak gagal panen, dan ayam potongnya tidak stres dan mati sia-sia agar ia bisa membayar kuliah saya.

Ah, mungkin Bapak berpikir bahwa di kampus ada beasiswa, yang penting belajar yang rajin biar IPK bagus. Oh no. IPK bagus itu, pertama, untuk mahasiswa pinter yang kerjaannya rajin ke kampus dan kuliah teratur hafal teori-teori dalam buku. Bukan untuk mahasiswa dengan bakat-minat seperti anak UKM. Di tengah kurikulum begini, anak UKM yang prestasi akademiknya lebih bagus daripada prestasi non-akademik adalah anak UKM yang gagal! Kedua, IPK bagus hanya milik  mahasiswa kelas menengah ke atas yang punya  gadget bagus untuk menyontek dengan aman tanpa ketahuan dosen. Ah Bapak pasti tak tahu kalau sekarang bukan zamannya posisi menentukan nilai, tapi gadget menentukan nilai. Makanya gadget mahasiswa mustilah mendukung.

Saya senang bahwa Bapak memberikan beasiswa kepada Juan yang juara marathon Bromo-Tengger-Semeru. Artinya penghargaan terhadap sesuatu yang bukan didasarkan pada nilai di KHS yang kadang bisa tipuan semata, masih dijunjung. Ah, tipuan semata memang hanya bagi kami yang percaya bahwa nilai di KHS tak menggambarkan isi otak mahasiswa. Sistem kurikulum di Indonesia hari ini membuat mahasiswa menjadi lebih suka menghafal teori daripada berpikir hal-hal yang tidak berguna seperti kenapa kok teorinya begini, bisa diapakan teori ini, di lapangan aplikasinya bagaimana, kira-kira bisa revisi apa gak teori ini dan lain-lain. Teori hari ini dihafalkan, bukan dihubungkan ke sana-kemari, apalagi coba dibantah. Juga gaya hidup mengajarkan kami, agar jangan mikir macem-macem, yang penting nilainya bagus, bisa lulus dengan IP bagus, keterima di perusahaan, bekerja, bantu ekonomi orangtua, menikah, punya anak, mati dengan tenang! Padahal banyak orang tahu, jika Einstein mengikuti alur ini dia tak mungkin menemukan rumus bodohnya itu.

Ah, maaf Bapak saya jadi ngelantur,

Maksud saya seandainya, seandainya saja ada biaya-biaya di beberapa post tertentu bisa ditekan lagi, mahasiswa seperti saya akan sangat sangat bahagia. Biaya-biaya yang kira-kira bisa dikurangi tanpa mempengaruhi biaya operasional kampus. Biaya-biaya kecil, kadang dikurangi limaribu saja sudah sangat indah. Limaribu itu bisa makan satu hari. Tak berlebihan, Bapak boleh coba pagi jam sepuluh sarapan donut, harganya seribu. Sore jam lima makan nasi campur pake tahu di Zam-Zam harganya empat ribu. Malamnya tidur, mimpi indah.

Maaf Pak daritadi saya tak sedang membicarakan tentang kebaikan Universitas Merdeka ke depan. Saya berbicara tentang kemungkinan kemurahan hati sistem pendidikan di Indonesia. Tentu hal ini tak akan saya bicarakan jika saya berada di kampus yang sering kami sebut kampus kapitalis seperti Universitas Brawijaya; mahasiswanya berani bayar mahal berapapun agar bisa bangga dengan kebesaran namanya, yang saya berani bilang jika diadu dengan kami, otaknya gak jauh-jauh amat bahkan beberapa ya toh pasti ada yang sedikit lebih bego daripada kami.

Saya berani bicara karena saya percaya Universitas Merdeka Malang bukan universitas yang mencari uang dari mahasiswa, tapi yang benar-benar berorientasi pada tujuan pendidikan yang sesungguhnya; mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu Bapak-Bapak di atas sana lebih paham adakah pos-pos yang bisa ditekan agar biayanya tidak terlalu memberatkan bagi mahasiswa kelas bawah seperti saya. Mungkin sampai hari ini segalanya its okey bagi teman-teman lain yang dari golongan menengah ke atas. Namun apakah saya pernah bercerita bahwa ada teman saya di Fakultas Hukum liburan ke kampung dan tak pernah pulang lagi karena katanya gak punya biaya untuk melanjutkan kuliah? Saya sendiri gak kuliah dua semester karena minder nggak bisa mbayar. (Biasanya ada mahasiswa kelas menengah langsung nyeletuk: kan ada dispen? Dasar mereka gak tau aja gimana rasanya minder saat omong-omongan duit itu berakhir dengan putus asa). Untung saya punya matakuliah Manajemen Stres, jadi sekarang sekarang saya suka sok bodoh tiap semester minta dispen ke WR II dengan wajah inocent.

Ya, jika Bapak mau mengajak seluruh jajaran melihat pos-pos yang kira-kira bisa dipangkas lagi, itu suatu keberanian besar karena tak semua pejabat di negeri mau ambil resiko seperti itu. Jika tidak ya tidak apa-apa. Kata Bapak saya di kampung: “biaya pendidikan memang mahal, Anak, jangan mengeluh, itu tanggung jawab Bapak”. Hahah. Atau mungkin tanyakan Bapak WR III maukah menggratiskan makan siang di kantinnya buat anak-anak UKM yang sedikit berprestasi? Agak susah juga duduk di kelas mendengarkan ocehan dosen sambil mikir: siang ini makan di mana ya? Itu dulu gratis loh Pak, nasinya…. Ya, BBM naik sih, tapi….

Kadang saya suka membayangkan hal-hal bodoh seperti misalnya tentara-tentara yang katanya memiliki Unmer itu mau memangkas gajinya beberapa persen, disumbangkan ke Unmer sebagai Dana Pembangunan. Jadi DPP dan SPP mahasiswa bisa kurang. Yeyyyy,, tepuk tangan…. Bayangkan kalau ada 100 tentara menyumbangkan 30% gajinya, wow! Sekali lagi bukan sebagai beasiswa; sebagai biaya yang bisa dinikmati semua mahasiswa tanpa kecuali. Ah, saya memang pemimpi yang baik. Sudah tentara mau rela meluangkan waktunya ajarin P4 Dodikjur buat mahasiswa baru, masih aja dimintain duit. Bodoh ya?

Yang terakhir ini agak rahasia, Pak. Saya (dan beberapa teman) kadang nginap beberapa minggu di UKM, Pak. Bukan karena betah di kampus (bosan juga di kampus tiap hari lihat paving), tapi karena gak selalu bisa bayar kos. Dulu sekali saya dengar-dengar itu membuat berang teman-teman Bapak di atas sana. Hahah. Sekarang saya sudah kos di Mega Mendung. Lalapan di sini sangat enak. Mampirlah sesekali.

Salam

Felix Nesi

Advertisements

9 thoughts on “Surat Buat Rektor Universitas Merdeka Malang

  1. ada banyak orang yang sok intelekt. hanya bisa mengkritik dan mengeluh. ini salah satu mahasiswa itu. bisanya mengkritik dan mengeluh gak bisa bawa perubahan apa apa

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s