Ardelia Affanda

Demi Tuhan yang saya sendiri ragukan keberadaannya nama Affanda dengan 2 huruf F tidak menarik, sangat kolot dan bukan diksi yang indah untuk dipuisikan. Satu huruf F? Lebih tidak puitis lagi! Namun si pemilik nama tentu saja akan menuntut saya untuk mengakui bahwa itu adalah nama yang bagus sambil menagih puisi dengan mata melotot seperti tukang tagih listrik di kampung saya. Wanita penagih!

Pertama melihat matanya saya tahu bahwa dia adalah orang baik yang berasal dari keluarga baik-baik yang selalu ingin menjadi anak baik-baik. Namun demi tuhan yang menciptakan langit dan bumi dia ternyata adalah pembunuh keras kepala yang selalu semaunya sendiri. Pertama kali yang yang ia tikam adalah mata saya. Ia suka menggeraikan rambutnya yang basah bergulung-gulung, menjadi ombak bagi mata saya yang suka berselancar.

Jika saya diijinkan menjadi tuhan sehari saja saya akan membuatnya menjadi orang-orangan sawah yang tak bisa bergerak – hanya melambai-lambai seharian di tengah hamparan padi, menjadi lukisan sekaligus lagu tentang ombak bergulung-gulung di tengah hampar padi yang kuning dan bangsai. Namun sejak saya tak diijinkan menjadi tuhan yang sesungguhnya, ia selalu menjadi penyihir yang memata-matai mangsanya sambil menyeruput kotak susu. Tentu saja tongkat sihir dan sapu untuk terbang dititipkan ke Mas Edy biar gak ketahuan.

Hal kedua yang ia tikam adalah sisi intelektualitas saya. Ia selalu berbicara cepat-cepat seperti pemeran utama film Eat, Pray, Love; lalu pergi begitu saja saat kau mencoba mengatakan bahwa apa yang dikatakannya lebih seperti sederetan sandi yang mengantarmu ke semacam ruang rahasia tempat ia menyimpan alat-alat penyiksanya: gergaji mesin, mungkin tang pencabut kuku, palu besar, parang, tempat tidur lengkap dengan pisau bedah. Namun tak ada obat bius. Ia sungguh berencana menggergaji kaki atau badanmu dengan mesin sensor pemotong kayu tanpa obat bius! Demi tuhan, si penyihir ini akan menggergajimu – tentu saja setelah mencabuti kuku dan gigimu satu persatu – menjadi potongan-potongan daging yang cukup bagi sarapannya beberapa hari.

Selesai bicara dengan gaya eat-pray-love-nya ia akan pergi dengan benar-benar. Bukan hanya pergi untuk membeli sesuatu namun benar-benar pergi. Dua menit kemudian jika kau berpapasan dengannya di parkiran jangan harap ia akan menyapamu. Kalian adalah dua ikan asing yang bertemu di pusaran pantai yang berbeda. Sementara kau merasa bahwa pembicaraan kalian belum selesai, ia berjalan melewatimu seperti tak pernah mengenalmu. Awalnya kau akan melihatnya dan berkata: “Hey, bukankah kita punya pembicaraan yang belum selesai?” Namun lama-kelamaan kau hanya akan berlalu juga karena mengerti bahwa dia adalah wanita psycho dengan penyakit alzheimer periodik, ia lupa apa yang ia lakukan atau ia katakan beberapa menit yang lalu. Apalagi beberapa jam yang lalu. Semacam dalam pilem holiwud atau sinetron dimana memorinya dihapus tiap beberapa menit.

(Percayalah keesokan harinya ia akan berdiri di depanmu dan berteriak dengan wajahnya yang ditekuk: Kakak… potong itu rambut! Gunting itu kuku! Penggal itu leher!)

“Kau tahu kenapa ia selalu butuh susu?”

Oh, Petrushka, kotak yang pegang itu tak tembus pandang bukan? Kita tak pernah tahu apa yang sesungguhnya ada dalam kotak yang kau sebut kotak susu itu. Kau pernah dengar mantannya – siapa namanya? Leonardo? Fransisco? Pokoknya nama lebay mirip aktor telenovela tahun 70an yang ditonton ibu saya waktu masih kuliah. Kau tahu si telenovela itu ke mana sekarang? Tak ada kabar, Bro…. Lalu mantannya yang lain? Gak ada kabar juga Bro, dinyatakan hilang sama dinas budidaya serangga. Sekarang kau tahu apa isi kotak yang selalu diseruputnya dengan wajah sok polos…. Hati-hatilah kau. Ia peminum darah segar. Hanya obat bius yang ia tak punya.

Felix Nesi

Advertisements

4 thoughts on “Ardelia Affanda

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s