Paving Kampus dan Sepotong Perspektif Psikologi

Matahari itu kebaikan dasar yang tertanam dalam hati. Disimpan jauh sebelum bumi diciptakan agar selalu menerangi. Emosi yang kerap muncul seperti awan tipis-tipis dan dedaun pohon pelindunglah yang membikin paving tak selalu menerima sinar matahari.

Kampus masih ramai. Ayah Oji lengkap dengan istri dan anak-anaknya yang punya suara di atas frekuensi normal adalah mozart sebelum tidur; lindap dan menenangkan. Ichan dan anak-anak semester delapan menunggu entah. Siti Isnaini dan beberapa temannya sujud  di mushola; Tuhan memberikan hari yang indah untuk bersyukur. Tak ada yang tahu apakah Pak No sudah makan siang. Atau kami hanya segerombolan anak muda yang terjebak dalam gaya hidup di atas angin yang menjadi mainstream berkat kotak televisi, surat kabar dan puluhan hantu dalam gadget.

Masih terlalu siang untuk pesimis. Akan tiba saatnya ketika kami muak dengan segala omong kosong perburuan nilai di KHS, atau segala statement bodoh tanpa refleksi yang dalam dan dasar yang kokoh, hanya agar dianggap kritis dan idealis.

Akan tiba saatnya ketika obrolan di depan paving bukan hanya gosip tentang dosen atau kakak kelas yang diidolakan.

Akan tiba saatnya ketika yang satu berkata: Anak UKM yang tidak mematikan mesin sepeda motor saat lewat depan kelas itu dibesarkan dengan toilet training yang yang buruk kayaknya. Jadi gak sabaran.

Yang lain berkata: Bukan. Itu proses belajarnya yang salah. Modelling dari senior-seniornya…. Kami lalu akan bertengkar lama karena topik itu, lalu memutuskan untuk membuat penelitian apakah benar toilet training anak UKM yang buruk, atau senior-senior dan pengurusnya yang memberikan contoh buruk.

Lalu akan tiba saatnya kami bersama-sama menghantam raksasa-raksasa besar yang gerakannya sama sekali tak mencerdaskan kehidupan bangsa. Penguasa media yang menyebarkan lawakan tak mutu macam CCTV dan YKS, politikus yang menguasai media dan pagi siang malam narsis mengkampanyekan wajahnya, pengusaha yang membangun ruko di atas tanah tempat adik kami harusnya bermain layangan.

Akan tiba saatnya.

Felix Nesi

Advertisements

One thought on “Paving Kampus dan Sepotong Perspektif Psikologi

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s