Tingkat Stres Mahasiswa Semester VI Fakultas Psikologi Unmer Malang saat Kuliah Siang Hari

Lebay amat judulnya!

Kuliah siang hari adalah momok. Apa itu momok? Momok menurut KBBI adalah hantu (untuk menakut-nakuti anak). Lets start it again. Kuliah siang hari adalah hantu yang menakut-nakuti anak-anak. Siang-siang, jamnya boci, terus mesti dengerin dosennya ngomong. Apalagi kalau sudah siang, suara dosennya pelan, AC-nya kencang, hadeh… Saya mengalami tiga kutukan itu saat iseng ikut kuliah Hukum Bisnis di Fakultas Ekonomi setahun yang lalu: saya tidur sangat nyenyak, suara dosen adalah lulaby. Saya sampai sekarang selalu salut kepada anak-anak Ekonomi yang gak tidur di matakuliah ini. Luar biasa motivasi belajarnya.

Situasi seperti di atas akhirnya menjadi stresor tersendiri bagi mahasiswa normal. Stres menurut Stephen and Coulter (dalam Power Point Bu Nawang Warsi) adalah munculnya reaksi psikologis yang membuat seseorang merasa tegang atau cemas sebab orang tersebut merasa tidak mampu mengatasi atau meraih tuntutan atau keinginannya. (Bedakan sama labil maksimal ye…) Berat ringan stress pada individu dapat diukur dengan tingkat gangguan dalam diri individu tersebut. Secara psikologis, berat ringan stress tergantung pada sifat stress dan daya/ketahanan individu.

Setelah melakukan penelitian dengan metode observasi-wawancara (dilanjutkan dengan studi pustaka dan penghitungan berdasarkan skala yang terpercaya reliabilitas dan validitasnya) terhadap 15 orang mahasiswa-mahasiswi semester enam (VI) Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang (disahkan sebagai sampel terpercaya), ditemukan bahwa banyak kegiatan yang secara iseng namun periodik dilakukan oleh mahasiswa saat kuliah di siang hari, sebagai respon mekanisme pertahanan diri (MPD) mereka dalam menghadapi stres.

Berikut disajikan data penelitian lengkap dengan inisial nama subyek yang menjadi sampel. Subyek yang tidak melampirkan namanya pada paperwork ditandai dengan NN. Semua ini dilakukan sebagai bukti keteguhan saya menjaga privasi subyek biar gak malu-maluin binatang peliharaannya.

Tingkat I: Sok Asyik

Respon yang ditunjukkan adalah:

  1. Stretching di tempat, tarik napas dalam-dalam biar gak nguap terus (D)
  2. Baca berita di internet (V)
  3. Main tebak-tebakan (R)
  4. Ngobrol ajah atau guyonan ajah (T)

Respon-respon tersebut di atas merupakan respon yang agak sok asyik. Stretching, apa itu saya gak ngerti, mungkin pelajaran yang mereka dapatkan di senam ibu hamil, entahlah. Baca berita di internet, biasanya dilakukan para artis yang harus update (no, dont spell it apdeit. Musti dieja lurus: updateh). Main tebak-tebakan, ya masih punya interaksi yang sehat dengan teman di sampinglah, masih sadar. Begitu juga dengan yang ngobrol dan guyon gak jelas. Walaupun merupakan bentuk kompensasi yang maladaptif, MPD di tingkat ini belum parah. Hanya emang nglamak.

Tingkat II: Pasrah.

  1. Jalanin aja (G)
  2. Gak penting yang penting pulang cepat (NN)
  3. Berdoa (A)

Orang-orang jenis ini berada di urutan kedua tingkat stres. Saking stresnya, mereka lari ke ranah refleksi-spiritual; memutuskan untuk pasrah pada keadaan dan tidak melakukan tindakan apapun untuk bertahan selain menjalani aja, berdoa dan berharap cepat selesai. Memaknai situasi berat yang dihadapi sebagai perjalanan rohani, pasrah dan memohon agar tuhan mempercepat waktu bagi mereka. Mereka adalah Sysiphus yang menerima dengan ikhlas-tabah-tawakal hukuman para dewa. Dan sebagaimana Albert Camus menyelesaikan kisahnya: kita harus membayangkan mereka berbahagia….

Tingkat III: Anxiety

  1. Coret-coret buku (F dan NN)
  2. Mainan pulpen (NN)
  3. Makan permen karet (Ardelia, eh, maaf, inisialnya A)

Baik corat-coret buku, makan permen karet, maupun mainan pulpen merupakan tingkah laku yang menunjukkan kecemasan. Kecemasan (anxiety, sering diterjemahkan sebagai anxietas) merupakan suasana-perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan (American Psychiatric Association, 1994; dalam Barlow, 2002). Walaupun para pakar psikologi percaya bahwa manusia dapat bekerja dengan lebih baik jika merasa sedikit cemas (Yerkes & Dodson, dalam Durand dan Barlow) tetap saja respon coret-coret buku-mainan pulpen-makan permen karet menunjukkan betapa tingginya tingkat kecemasan subyek.

Tingkat IV : Akut!

  1. Mikirin si dia (NN)
  2. Ngupil (NN)
  3. Be’ol (NN)

Sek bro, kita lihat satu-satu. Mikirin pacar: apa hubungannya kuliah di kelas sama mikirin pacar? Iya kalau dalam penjelasan dosen ada stimulus berupa kisah-kisah romantis dan sebagainya yang bikin “mikirin si dia”. Kalo gak ada stimulus sama sekali lalu pikiran mereka ke mana-mana sampai ke pacar? Trus ngupil…. dan yang terakhir… Be’ol… Oh no. Bayangkan saudara-saudara, be’ol, maksudnya be’ol di kelas??!! Gila.

Ini tingkat stres paling parah. Mereka melarikan dirinya dari situasi sosial (kuliah) dan membangun dunianya sendiri. Gejala yang mereka tunjukkan; yaitu sama sekali tidak mengacuhkan apa yang terjadi di sekitarnya, oleh Soedjono (dalam Sobur, 2003:348) disebut sebagai suatu gejala terjadinya “denial of major aspects of reality”, sebuah reaksi schizophrenic dalam gangguan psikosis. Bahasa sederhananya ya awakmu iku gendeng, Brur. Maka dengan berat hati saya musti mengumumkan kalau tiga subyek saya di tingkat ini telah memasuki tingkat psikosis-gendeng-gila-gilaan dan saya butuh tim yang lebih besar untuk menghadapinya, bukan hanya untuk menjelaskan, tapi juga untuk memberikan suntikan obat penenang sewaktu-waktu jika diperlukan. Cintailah pacarmu.

Felix Nesi

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s