Penjual Teh Poci yang Sudah Tak Jomblo dan Kerinduan pada Perspektif Psikologi

Kegalauan sama-sama mengantar kami ke kantin. Saya, karena wanita – emang karena apa lagi. Adit, karena jodoh di tangan tuhan dan kecemasan kecil bahwa selera tuhan bakal berbeda dengan seleranya. Dan Yosua, entah apa yang digalaukan orang ini. Apakah kopi. Siapa tahu. Ia kerap menyembunyikan sesuatu dalam senyumnya.

Pak Untung yang datang sendirian memesan nasi campur sepiring. Adit bertanya: Siapa Lacan itu Pak?

Pertanyaan itu menghantar kami pada diskusi kecil tentang psikologi sebagai ilmu, dan berujung ke pentingnya penelitian-penelitian kualitatif yang bermain di ranah studi terhadap teori, bukan saja penelitian kualitatif yang menjadi mainstream. Sebagai seorang yang selalu ingat teman saya kembali rindu bahwa saat itu yang duduk di situ tak hanya empat orang, bersama gelas-gelas kopi dan puntung rokok yang mati diinjak sepatu.

Akan tiba saatnya, bahwa pembicaraan kami bergerak dari kepala orang (baca:akhli psikologi tua-barat) yang satu ke orang yang lain. Bukan untuk menghafalnya tapi untuk memahaminya dan mengkritisinya.

Akan tiba saatnya kami duduk dengan analisa-analisa terhadap teori yang kapitalis dan berpihak (meminjam penjelasan Pak Untung tentang Lacan dan teori psikoanalisisnya), lalu menjadikannya penelitian yang membuat bangsa ini bangga dengan apa yang dimilikinya, bukan dengan kajian omong kosongnya Freud dan kawan-kawan perokoknya.

Akan tiba saatnya kami menggulung tembakau bulukumba yang wangi di LWG sambil berbicara tentang korupsi dalam perspektif psikologi, dan harus mendengarkan protes cewek-cewek cantik tentang asap rokok yang tak bisa keluar ruangan.

Mbak-mbak yang menjual teh poci lewat.

“Katanya mbak jomblo ya?”

“Ah, kata siapa.” Begitu dia jawab. Apakah wajahnya memang memerah. Atau lensa mata saya yang sedang dalam modus malam?

Akan tiba saatnya.

Felix Nesi

Advertisements

One thought on “Penjual Teh Poci yang Sudah Tak Jomblo dan Kerinduan pada Perspektif Psikologi

  1. Jenže faktem je, že nÄ›kteří učitelé mají osobní složky ve Å¡kolách plné certifikátů ze Å¡kolení a nÄ›kterým zejí pre.Ndnotou¡zÃjvÄ›tší chudáci jsou v tomto smÄ›ru výchovní poradci a preventisti spolu s ICT koordinátory. Hromady Å¡kolení za nimi a prd z toho.

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s