Yang Tak Menarik dari Tuhan

Catatan Seorang Agnostik terhadap Film OMG-Oh My God!

OMG-Oh My God! adalah sebuah film India yang di-direktori oleh Umesh Shukla pada tahun 2012 dengan sangat banyak media partner dan sponsor yang membuat kita lelah menunggu (bahkan hanya untuk sampai pada permintaan maaf: film ini dibuat dengan tujuan hiburan dan tidak ada sedikitpun maksud untuk menyinggung perasaan golongan tertentu), bercerita tentang Kanji Lalji Mehta (Paresh Rawal) seorang ayah dua anak yang atheis dan tidak begitu menaruh hormat pada agama. Ia menyeret pergi anak lakinya yang ikut ambil bagian dalam upacara keagamaan. Ia mempunyai toko yang menjual patung dewa-dewa dan memanfaatkan keimanan pelanggannya untuk mendapatkan keuntungan.

Suatu hari gempa bumi merubuhkan tokonya. Pihak asuransi menolak membayar asuransi karena gempa bumi dianggap sebagai Act of God. Dalam kontrak, pihak perusahaan asuransi tidak akan membayar untuk kerugian yang disebabkan oleh Act of God. Merasa bahwa tuhan telah merubuhkan tokonya dan membuat ia merugi (kehilangan mata pencaharian dan perusahaan asuransi menolak membayar), ia memutuskan untuk menuntut tuhan di pengadilan. Jika tuhan tak turun dan membayar ganti rugi, maka para pemuka agama yang disebutnya sebagai “salesmen tuhan di dunia” musti membayar.

Di pengadilan ia juga mengkritisi praktik-praktik keagamaan yang sering tidak berpihak pada orang kecil. Pengemis di jalanan lebih membutuhkan susu daripada dewa berwujud patung yang kepadanya disembahkan berliter-liter susu dan berakhir di selokan. Saya paling suka bagian ini, di mana secara cerdas mata kita langsung diajak melihat berliter-liter susu yang mengalir di selokan saat ia berbicara.

Ia membuat penonton (baik seluruh figuran dalam film tersebut maupun penonton di rumah) mempertanyakan posisi tuhan dalam sebuah agama. Ia mengajak penonton bertanya apakah praktik keagamaan yang demikian yang diinginkan oleh tuhan? Apakah sungguh tuhan membutuhkan kuil-gereja-masjid sebagai rumah? Ia mengajak penonton melihat sisi negatif dari agama yang selama ini cenderung diabaikan dan dipahami oleh masyarakat demi iman dan rasa takut akan tuhan. Bahkan ketika kepadanya disampaikan data tentang agama yang juga membuka sekolah sebagai sebuah praktik positif, ia mengibaratkan itu tak beda dengan pabrik rokok yang membuat rumah sakit khusus kanker.

Dalam prosesnya menuntut tuhan di pengadilan, ia dibantu god himself (diperankan oleh Salman Khan). Salman Khan muncul sebagai tuhan dengan latar musik religi Hindu dan sebuah sepeda motor super keren. Berkat beberapa saran dari salman si tuhan inilah, orang ini menang di pengadilan dan para “wakil tuhan” harus membayar kerugian bukan hanya miliknya tapi semua orang kecil yang pernah dirugikan act of god. Sebuah penegasan bahwa tuhan sungguh berada di pihak orang-orang seperti ini.

Di akhir cerita, si Kanji mati dan diangkat sebagai dewa oleh para salesmen tuhan; disembah dan dijadikan sebuah proyek baru pencari duit. Namun salman si tuhan dengan gagah membangunkannya dari koma, memperkenalkan diri padanya (ah, di adegan ini saya entah bagaimana ingat kisah rasul thomas dalam The Holy Bible) dan menyuruhnya menggagalkan usaha “salesmen” tersebut.

Saat mendengar cerita orang tentang film ini saya sungguh bahagia; akhirnya di tengah kekacauan, huru-hara dan omong kosong yang dibuat oleh agama-agama di dunia (didukung penuh oleh ketakdewasaan penganutnya), muncul juga sebuah film yang mengajak orang untuk bertanya dan melakukan refleksi yang lebih dalam. Saya yakin film sejenis ini tak akan pernah berani dibikin di Indonesia. Doktrin keagamaan disertai ketakdewasaan pemeluk yang telah mendarah daging dalam diri hampir segenap bangsa Indonesia, jelas akan membocorkan kepala sutradara – dan pemainnya tentu saja.

Pemeran utama memang menolak untuk dijadikan dewa selepas ia meninggal. Namun tuhan yang menyatakan dirinya secara blak-blakan adalah sesuatu yang mengecewakan. Tuhan sungguh-sungguh menyatakan dirinya, menampakkan kehebatannya sebagai pencipta, menunjukkan kejeniusannya, dan bahkan mengantarnya ke tempat banyak orang berkumpul dan sempat menonton aksinya melawan para salesmen. Adegan ini membuat film benar-benar menjadi komedi hiburan yang sesungguhnya (tepat seperti yang disampaikan di awal).

Akhirnya setelah perjalanan panjang membongkar ketakberesan agama-agama, film ini menawarkan sebuah konsep tuhan yang baru. Tuhan yang begini. Tuhan yang begitu. Dengan kata lain, film ini menawarkan sebentuk tuhan lain yang menurutnya diperlukan untuk menjawabi permasalahan-permasalahan manusia di zaman ini. Akhirnya, sadar atau tidak, output yang diharapkan pembikin film adalah penonton bisa sambil tersenyum dengan kritik-kritik yang lucu tapi ‘masuk’ dan memahami bahwa sosok Salman Khan dalam film OMG-Oh My God! merupakan sosok tuhan yang ideal di zaman carut-marut ini. Agam telah tak mampu menjawabi permasalahan manusia. Percayalah, anak-anak muda yang mengaku agnostik maupun atheis baru yang labil maksimal akan memakai logika yang ditawarkan film ini untuk menghujat agama-agama; tuhan seperti inilah yang kita butuhkan! Bukan tuhan yang ditawarkan dalam The Holy Bible, Al-Quran, ataupun kitab-kitab lain!

Ah, kalau itu sosok tuhan yang dibutuhkan manusia zaman ini, apa yang menarik dari tuhan yang tak misteri?

Felix Nesi

Advertisements

3 thoughts on “Yang Tak Menarik dari Tuhan

  1. diperankan oleh Salman Khan.
    PEMERENA KRISNA YANG MENJELMA MANUSIA DALAM FILM DIMAKSUD, YANG BENAR, IALAH “AKSHAY KUMAR”

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s