Dosa Abraham Maslow dan Ketololan Pengikutnya

Jika anda sempat bersentuhan dengan dunia sosial-politik dan sejenisnya anda tentu pernah mendengar nama di atas: Abraham Maslow. Hell ya, saya sendiri mendengarnya, membacanya di mata pelajaran kewarganegaraan SMA dulu. Jika anda belum membacanya tanya tuh sama anak-anak FISIP. Jika anda anak FISIP yang belum membacanya, maka andalah manusia beruntung itu. Karena orang ini terutama menyesatkan anak-anak di Fakultas2 Sosial dan sejenisnya. Namun yang paling disesatkan di kampus, tentu saja anak Psikologi, siapa lagi.

Saya sedang mengerjakan pesanan Putri, sesungguhnya, dan pesanan tersebut dengan terpaksa selesai tak tepat waktu karena Si Maslow ini terus mengganggu pikiran saya. Juga, Putri. Dengan cara yang berbeda tentu saja.

Maslow, yang dikenal sebagai pelopor Psikologi Humanistik membuat sebuah teori yang akhirnya disebut sebagai Hierarchy of Needs. Ini sesungguhnya caranya Maslow menjelaskan bagaimana kebutuhan menjadi motivasi yang akhirnya mempengaruhi perilaku individu. Ia melihat kebutuhan sebagai hirarki dimana menurutnya individu dalam kesehariannya berusaha memenuhi setiap tingkatan dari kebutuhan-kebutuhan tersebut. Hirarki tersebut digambarkan dalam sebuah gambar sejenis piramid. Jika anda belum pernah melihatnya silahkan googling saja. Banyak orang menganggap teori ini seksi dan menyebarluaskannya sehingga tak susah ditemui. Saya mengambilnya dari web berbahasa Inggris ini sebab you knowlah bukan mau menghina tapi orang Indonesia kadang terjemahin sesuatu secara ngawur mending baca yang Inggris aja, meskipun ntar ketauan kalo yang tulis dalam Bahasa Inggris itu orang Indonesia juga, who knows.

  1. Physiological Needs
    These include the most basic needs that are vital to survival, such as the need for water, air, food, and sleep. Maslow believed that these needs are the most basic and instinctive needs in the hierarchy because all needs become secondary until these physiological needs are met.
  1. Security Needs
    These include needs for safety and security. Security needs are important for survival, but they are not as demanding as the physiological needs. Examples of security needs include a desire for steady employment, health care, safe neighborhoods, and shelter from the environment.
  1. Social Needs
    These include needs for belonging, love, and affection. Maslow described these needs as less basic than physiological and security needs. Relationships such as friendships, romantic attachments, and families help fulfill this need for companionship and acceptance, as does involvement in social, community, or religious groups.
  1. Esteem Needs
    After the first three needs have been satisfied, esteem needs becomes increasingly important. These include the need for things that reflect on self-esteem, personal worth, social recognition, and accomplishment.
  1. Self-actualizing Needs
    This is the highest level of Maslow’s hierarchy of needs. Self-actualizing people are self-aware, concerned with personal growth, less concerned with the opinions of others, and interested fulfilling their potential.

Kelima kebutuhan ini, menurut Maslow, mesti diselesaikan satu persatu oleh manusia mulai dari yang paling dasar sampai yang teratas. Tak mungkin level-level tersebut diselesaikan dalam satu waktu. Ini seperti bermain game. Kamu harus lewati level satu dulu, baru dikasih level dua. Bukan kayak makan mi setan super pedes dengan cabe level-levelan, dimana kamu bisa datang kapanpun dan bilang: Neng, pesen cabean-cabean level lima.

Haduh! Anjriit, saya baru ingat kalo saya punya tugas Psikologi Humanistik yang harus dikumpulken via imel malam tadi, duh, telatt, ashhhh, sial, saya kerjain dulu ye… Mana belum tonton lagi filemnya, duhh Bu Khotim baikk dehh, jgn ditolak ya ntar, saya ini sibuk mikir bangsa loh Bu….

Trenggg… Telah kucari pilemnya tapi temen2kuh liburan semua gak ketemu filemnya besok sajalah saya kerjain tugas itu. Toh ini juga lagi bahas orang humanistik. Saya doakan Bu Khotim sehat, walafiat, gak tolak tugas saya biar anak yang dikandungnya kelak rajin kuliah dan gak prokrastinas. Amin. Lanjutttt 

  1. Dosa Maslow

Nah, Maslow si cabe-cabean ini, eh, maksudnya si pelopor humanistik ini, sangat berani (baca: lancang) membuat hirarki begituan, dengan metodologi penelitian yang terbatas. Untuk menentukan standar aktualisasi diri, ia mengkaji biografi 18 orang yang dianggapnya sukses mencapai tingkat aktualisasi diri dan menyebut kerjaannya ini sebagai study biography. Beberapa orang yang diambil biografinya antara lain Beethoven, Thomas Jefferson, dll. Ia menentukan sendiri nama orang-orang itu. Maka standar aktualisasi diri ditentukan oleh Maslow, menggunakan standar subyektifnya sejak awal. Sebenarnya saat ia menentukan bahwa orang-orang itu merupakan orang yang telah sampai pada cabean level lima, ia telah membuat standarnya sendiri. Hal inilah yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan di dunia keilmuan, bahwa cara kerja yang demikian sama sekali tidak bisa dibuktikan kebenarannya dan melulu subjektif!

Lagi pula, buku biografi mana yang dijadikan acuannya untuk mempelajari dan sampai pada kesimpulan bahwa kedelapanbelas orang itu telah mencapai sebuah standar aktualisasi diri? Hell, you know, orang-orang itu emang hebat, tapi di mana-mana, biografi ditulis dengan pemujaan membabi buta terhadap seorang tokoh, kadang mengesampingkan secara ekstrem sisi negatifnya. Baca saja buku Si Anak Singkong. Jika waras, muntah kau di halaman tujuh!

Selain itu, hirarki kebutuhan yang mirip tangga dengan cara pencapaian yang harus bertingkat dan naik level, sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana dengan orang-orang yang hidup di wilayah miskin, selalu kelaparan namun masih bisa mencapai aktualisasi diri yang baik? Saul McLeo misalnya dalam sebuah artikelnya mencontohkan pelukis besar seperti Van Gogh dan Rembrandt yang miskin-kelaparan sepanjang hidupnya namun bisa mengaktualisasikan dirinya dengan baik. Di Indonesia sendiri mari kita kaji Chairil Anwar yang luntang-lantung kelaparan sampai mati dengan karya-karya besar dan sense of humornya menyolong karya orang.

Maka lima kebutuhan itu bukan jenis kebutuhan naik tingkat seperti begitu, Maslow, kau ini, ah, Mama sayang ee….

  1. Ketololan Pengikutnya

Entah bagaimana teori Maslow mengisi hampir sebagian besar buku Indonesia yang berbau sosial dan gitu-gituan. Anak FISIP minimal pernah baca. Anak SMA juga. Ini ketololan pertama pengikutnya, akhli-akhli penulis buku di Indonesia yang tak apdet. Mereka pikir satu-satunya yang bikin teori motivasi cuman Maslow, apa mereka pikir Maslow-lah yang keren. Sesat yang mereka anut mereka sebarluaskan dengan cara menjadi satu-satunya bahan ajar di sekolah. Hell, omong tentang otivasi apa ada nama lain yang keluar di buku sosial?  Padahal banyak tuh nama lain, Maslow mah ikhhzz..

Ketololan kedua – yang saya hitung juga sebagai dosa Maslow, adalah kecendrungan penganutnya menggunakan teori ini sebagai pembelaan diri. Ini sering terjadi di Indonesia. Di point satu tadi, kita lihat bagaimana teori Maslow ini meracuni otak orang Indonesia lewat pengikut-pengikutnya para penulis buku sosial-kewarganegaraan. Ditanamkan dalam kepala bahwa individu tak bisa bergerak naik ke kebutuhan berikut setelah kebutuhan dasar. Maka yang dipikirkan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan fisiologis. Fokusnya ke situ. Fisiologis aja yang dipikirkan, pagi siang malam. Seekkksss aja yang dipikirkan. Jadilah dia makhluk konsumtif. Gak ada duit ngerampok, lah keselamatan jangan dipikirin dulu, itu kan kebutuhan kedua setelah makan. Gak ada pasangan, memperkosa demi kepuasan omong kosong Maslow. Korupsi. Berapa ribu aktivis yang hilang idealisnya karena takut lapar? Tentu saja mereka tanpa sadar telah membuat alasan-alasan bagi hati yang memberontak dengan konsep Maslow: Mau bagaimana lagi? Harus realistis. Tidak makan ya mati….

Omong kosong Maslow, dan tulisan ini, bolehlah dilihat sebagai lawakan kosong. Namun disinilah Maslow sesungguhnya:

  1. Memperkosa ilmu pengetahuan dengan membuat teori yang melulu subyektif.
  2. Teorinya menjadi jalan menuju laku konsumtif. Orang berusaha memenuhi kebutuhan fisiologisnya sebelum berpikir bagaimana caranya mengaktualisasikan diri. Emang ada habisnya ya kebutuhan fisiologis itu?
  3. Di Indonesia, ia dibantu oleh penulis-penulis tolol buku tolol yang gak bikin perbandingan dan menuliskan teorinya tanpa menyertakan kritik terhadapnya yang telah dilakukan ahli lain bertahun-tahun lamanya.

Itu Aja. Nonton Arema dulu. *Deeh, gimana ini tugas Psiko Humanistik saya…

Advertisements

One thought on “Dosa Abraham Maslow dan Ketololan Pengikutnya

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s