Waktu

Kepada Putri Ayu

 

Apa yang lebih indah daripada mimpi yang terus dikejar. Pertanyaan-pertanyaan di kepala, dan beberapa hal lain yang dibiarkan tergelincir.

Seekor kuda yang lupa diberi minum tuannya mengamuk, suatu hari, ketika tuannya baru selesai membajak.

“Siapa memberimu hak mengikatku?” ia bertanya.

Tuannya murah hati, namun ia benar-benar lupa. “Siapa yang akan kaumarahi bila jagung tak sempat tumbuh?”

Tuannya bertanya, namun kuda yang terlampau marah menendang dadanya. Tuannya, seorang yang murah hati tak pernah ingin melukai kuda. Ia bangun, mengelus leher kuda, memberikan minuman dengan campuran garam dan beberapa ramuan akar pohon untuk kekuatan tendangan. Malam itu, sebelum hujan sempat turun, kuda membajak seisi ladang dengan senyum dan diam-diam. Ia tak pernah tahu, tuannya telah mati di ranjangnya sendiri.

Beberapa hal yang tak sempat kita puisikan – barangkali – dengan gaya kita sendiri, atau kita nyanyikan, telah hilang jauh sebelum kita sadari. Berapa banyak buku yang mesti dibaca, lagu yang mesti didengar, kencan yang mesti dilewati – ciuman, es krim, kertas kerja praktikum-praktikum – gosip yang mesti didengar, hal-hal yang mesti dikerjakan. Berapa ribu bahasa yang belum sempat dipelajari. Berapa banyak film bagus yang belum ditonton. Dan hidup hanya sekali.

Beberapa orang membohongi diri dengan make-up dan puisi omong kosong Chairil Anwar: Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Itulah mengapa bertahun-tahun jam dinding dibiarkan punya bunyi tik-tok. Agar kita tak lupa merapal setiap detik yang menghantar kita pada perayaan pribadi: lahir! Bukankah siapa saja boleh lahir? Yang mencengangkan adalah kita tidak bisa memilih apakah kita harus lahir, atau kita berakhir sebagai balok-balok sperma yang kelelahan dan mati dalam perjalanannya, seperti Ishack yang mendapati ayahnya telah kekenyangan. Namun yang lebih mencengangkan adalah ketika memilih apakah kita akan bangun dan berlari kembali usai merayakan kemenangan demi kemenangan, seperti Yakub yang dalam pelariannya bermimpi melihat malaikat naik-turun tangga, atau kita hanya akan berdiri di atas sebuah kemenangan dan menjalani hidup dengan sangat datar dan membosankan. Apapun, pengawal-pengawal telah siap di dekatmu, Putri. Ribuan kebetulan dan segala yang kelihatannya seperti kebetulan padahal memang hanya kebetulan semata, menghantarmu sebagai putri ke singgasana yang ditawarkan raja bagi wanita yang meninggalkan sepatu kaca di pesta. Kau tentu tak pernah menyebutnya kebetulan: betapa kau mengaminiĀ  doa-doa yang menghantarmu.

Demikianlah, Putri, – matanya yang elang, bibirnya yang tenggelam – menyembunyikan hal-hal dalam kepalanya; beberapa dibiarkan tergelincir, atau dimasukkan dalam kantung salah seorang sahabatnya sebagai sampah. Beberapa yang lain menjadi malaikat yang naik-turun tangga, atau pengawal yang mengitari meja makannya. Seumur hidup.

Selamat ulang tahun.

 

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s