Puisi-Puisi Malang Post, 19 Juli 2014

Berikut beberapa puisi saya di Malang Post, 19 Juli 2014.

 

Dingin

 

Sebagai senandung adzan

Dan orang-orang berebut kopi

Kau hujamkan pedangmu pada dada kami

Lalu berumah di situ

Kami diam-diam membesarkan dada

Dan mengenang masa ketika

pedang mesti berlumur darah

Sejak peperangan yang kami sebut suci

Meruntuhkan kota-kota tua yang berdosa

Sampai perkelahian di dekat kampung

Tepat ketika imam melemparkan batu pertama.

Namun kami hanya dedaunan

Kumpulan urat yang membatukan kepala

Sebagai nabi.

Sedang kau lebih cepat daripada waktu

Dan surah yang terjun dari langit.

 

Malang, 2014

 

Dosa Pertapa

 

Rentangkan tanganmu padaku, demikian pertapa berkata pada ular yang melingkarinya. Ular tak punya tangan, namun lidahnya bercabang. Ia memeluk dengan tubuhnya. Ekornya seperti pelita.

Apakah dosa yang menyesahmu? Atau hidup terlalu manis untuk tak diminum?

Ular diam-diam memetik buah itu dan memberikannya pada pertapa. Pertapa yang jarang membaca lupa cerita-cerita kitab dan memakan buah yang terlarang. Ular menunggu namun pertapa tak mati.

Apakah nikmat?

Ia mengunyah buah di tangan pertapa, namun ia mati sebelum menelan. Sedang pertapa yang menggali kubur tak pernah tahu, bagaimana ular mati.

Malang, 2014

 

Fragmen Bawah Sadar

:ardelia

Bila kau menutup jendela sebelum senja

Ada empat hal yang mesti kau halau

Bayangku:

Sebuah kuda tua dengan tonjolan tulang pada

Tengkuknya:

Beberapa anak imajiner yang tak

Sempat kau lahirkan bergelantung di situ

Lagu ibumu:

Angin pantai yang membelai pelan-pelan

Dengan wangi garam dan

Aroma tuhan pada sayapnya

Sepotong kayu lain di dekat parit

Tempatmu bermain

Ia boleh melayang

Atau menggeletak begitu saja

Saat ibumu mengobati bilur di punggungmu

Lalu bayangan lain yang tak mirip apapun

Sampai tak perlu kau jelaskan padaku

Mungkin gelung kaku sepasang ular di bawah pot yang

Tak sempat kau tanami mawar

Atau kunci di bawah keset

Bagi suami yang pulang larut

Atau hanya mainan anak-anak

Yang tak sempat kau rapikan

Atau hanya bayangmu pada cermin yang

Tak pernah ada.

 

30 April 2014

 

Restorsi

 

Ada yang merawatmu dalam hatinya, Ardelia

Seorang kelana yang kudanya

Mati sebelum sempat istirah

Di rindang palem yang kaubenihkan di tengah

padang

Ia tak pernah dapat pulang

Sebagai daun pada akar

Atau sekedar sungai yang bermuara

Sebab hatinyalah nisan bagi kuda tua yang meringkuk, Ardelia

Sebongkah batu padang yang tak pernah sampai

Pada hatimu

Maka didirikanlah sebuah kemah di situ

Agar kelak

Di bawah bintang yang lalai menerjemahkan arah

Beberapa nabi menghiburnya dengan mukjizat

Atau anggur terakhir dari pesta di Kana

Yang mesti tuntas ditenggak

Sebelum lambungnya ditembus

 

Malang, 30 April 2014

 

Dosa Tukang Puasa

 

Tukang puasa itu jalan-jalan dengan mata tertutup.

Namun hatinya yang terbuka penuh duri.

Malaikat membersihkan telinganya dari cela

dan kepalanya penuh mahkota.

Lambungnya darah dan air yang menolak lapar,

Sebab ia bukan anak-anak.

Namun setelah beberapa kali tersandung,

Ia jatuh di pintu rumah tetangganya.

Oh, Jibril, apakah kau menyentuhkan lenganku pada kekayaan saudaraku?

Jibril membuka tutup matanya.

Ia melihat laut dan dingin yang asin.

Dan dua orang anak kecil berlari ke pelukannya.

Ia melihat ikan dan nelayan pemnebar pukat.

Dan puluhan orang lain berdoa tanpa mengajaknya.

Ia melihat anaknya perempuan jalan-jalan tanpa penutup mata

Dan anaknya laki-laki berkelahi sebelum maghrib.

Oh, Jibril, apakah kau baru saja membunuhku?

Saat itulah ia berdosa.

 

Malang, 2014

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s