Genogram-Konsep Aku, Dosen Bahasa Inggris yang Membuang Waktu, dan Siang yang Jalan-jalan

Tujuh Oktober 2014. Pukul, entahlah. Apa waktu masih begitu penting, di hadapan kenyataan yang berjalan tanpa angka. Saya sedang tidur, dan percayalah, saya menulis ini semua di dalam kepala saya.

Yosua, Adit dan beberapa orang lain masih duduk dan bercerita entah tentang apa. Saya mendengar suara Romana Patti, menertawakan saya yang tidur. Sementara saya menertawakan tubuh yang lelah dan orang-orang yang sibuk: Anak semester 7 selalu membicarakan judul skripsi yang ditolak. Anak semester 5 menyusun modifikasi perilaku yang entah mereka pahami atau terlalu gugup di hadapan Bu Ari. Anak semester 3, apakah masih menari di dalam hati saya, atau saya memang benar telah membuang mereka.Hanya Tuhanyang tahu. Anak semester 1 bingung menerjemahkan genogram.

Genogram. Semua yang pedekate sama anak semester 1 pasti pernah ikut mendengar kalimat itu.

“Lagi apa, Dek?”

“Kerjain genogram, Kak. Kakak lagi apa?”

Kakak muntah. Genogram terus tiap hari. Bosen dengarnya, bego!

Itu dosennya Bu Febi. Okey, saya tak akan mengkritik ataupun mengomentari Bu Febi, karena menurut penilaian subyektif khas “orang-psikologi-abal-abal” saya Bu Febi kurang suka dikritik apalagi oleh mahasiswa macam saya. Berdasarkan pengamatan saya, dalam dialog dekanat ataupun obrolan lepas, jika mengajukan kritik, kau akan mendapatkan serangan balik, walau kadang serangan off-side secara ad hominem. Jika kau beruntung kau akan sangat sering menemui saya dikotbahi Bu Febi; entah cara bicara saya, penampilan saya, ataupun kuliah saya yang “Tinggal setahun ya, jatahmu, Lix.”. Tenang Bu, sebentar lagi saya akan menjadi mahasiswa teladan karena pakaian rapi tiap hari dan jalan pikiran selalu lurus mengarah pada Tuhan pencipta langit. Saya menuju pertobatan.

Genogram. Ceritanya Bu Febi memberikan tugas itu untuk matakuliah Konsep Aku. Sebuah buku setebal entah halaman; cukup tebal, hurufnya kecil, dan gak ada gambarnya – kecuali tabel dan atau skema – dan dalam bahasa Inggris. Astaga. Saya sangat senang. Karena mereka, anak semester satu ini, kalau memang serius menanggapi tugas itu, akan sangat pinter. Belajar Konsep Aku, sambil belajar bahasa inggris. Itu standarnya maut betul, bukan main-main (memang Bu Febi kuliah doktornya di Aussie).

Nah, Bu Febi ini sudah melakukan satu usaha mencerdaskan yang sangat bagus. Yang membingungkan, di hari lain, mereka – anak semester satu – punya matakuliah bahasa Inggris. Suatu saat saya melihat Uci sedang sibuk membikin tugas Bahasa Inggris.

“Tugas apa, Ci?”

Bahasa Inggris.

“Tentang?”

Daily activity. Astaga. Apa-apaan? Itu mah materi anak es em a-es em pe? Kenapa mereka gak belajar terjemahin jurnal-jurnal psikologi? Padahal ‘kan udah bagus, saat kuliah Konsep Aku, dikasih buku tebal isinya Bahasa Inggris semua? Kan sambil belajar, wah, saya kalo jadi mahasiswa semester satu materi bahasa inggrisnya kayak begitu mah protes saya. Itu sama dengan menghina sisi intelektual saya: Lu bego! Lu belom pantes dapat bahasa inggris kelas tinggi. Lu latian daily activities dulu ye…. Hihihihi.

Tapi gak apa2 sih, dosennya cantik kok…

Saya bangun. Olin, katanya dia mendatangi saya tadi saat saya tidur pulas. Bilqis, sebentar lagi dia akan membeli cilok dan tentu saja saya akan diberi sedikit – suatu kebiasaan yang ditertawakan Adit-Valen-Edo karena saya sukanya minta makanan. Saya pikir orang kaya macam kalian, Dit, yang menciptakan orang miskin macam kami, dengan gaya hidup kalian yang mewah begitu. Ini negara benar-benar gagal dan tak tahu diri. Yang kaya makin kaya. Yang miskin tetap miskin, tetap mengeluh. Sonia Lepa ketawa-ketawa, tuh, itu anak benaran hiperaktif. Saya juga sih hiperaktif.

Diah pamit pulang, Gracia Regis sempat menanyakan sesuatu yang membingungkan. Saya bilang 3-5 bulan Ca, kalian akan putus! Jika 3-5 bulan kalian belum putus, maka selamatlah kalian. Itulah masa badai kalian.

Yosua masih galau. Ia, katanya, memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak pahami: Saya stress, tapi saya bingung karena apa.

Saran saya: keluarlah Yos, cari cewek, minum bir, bersenang-senanglah!

Felix K. Nesi

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s