Puisi Romantis No. 1

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah

ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza

tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu

atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi

ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang

ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku

setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

_____

Itu puisi Soe Hok Gie di Catatan Seorang Demonstran. Bukunya masih dipinjem Zenal Kernel jadi saya gak tahu apa memang begini tipografinya; ini versi comotan internet. Beberapa blog malah membuat Danang di baris keenam menjadi danau. Hufft seingat saya memang danang-lah yang benar, sebuah tempat di vietnam yang menampung jazad tentara-tentara amerika di perangnya yang memalukan dan secara tidak langsung menumbuhkan industri bokep amerika.

Saya gak mau ngomong tentang puisi ini secara kesusasteraan, pengkajian ilmiah dan sebagainya. Saya hanya pengrajin puisi yang tak mengerti teori sastra. Hanya saja, bayangkan dia menulisnya di tahun 1969. Sekarang tahun 2014 but still wow for me. I dont fuckin know dia dapat inspirasinya dari mana. Atau kemungkinan puisi ini memiliki kesamaan dengan puisinya siapa. I hanya baca tiap katanya dan sesuatu seperti aroma setan di kamar mandi Gedung Balai Merdeka jam delapan malam menyentuh tengkuk. Its fuckin cool.

As we know Soe Hok Gie mati muda dan tak sempat menghabiskan waktunya “disisimu sayangku“. Ia mati ‘ngenes’ di Semeru, bahkan tugu kecil untuk memperingatinya dibongkar dan dibuang orang-bangke yang nikah aja bikin prasasti di Semeru have you lost your mind motherfucker? Ia tak “mati┬ádi sisimu sayangku”, seperti apa yang ia tuliskan. Maka kalimat tersebut sesungguhnya adalah sesuatu dari dalam dirinya, you can call it harapan, impian, dorongan. Sesuatu yang tak benar-benar dilakukannya namun disimpan dalam hatinya dan menjelma puisi mamamia ini. Freud mungkin akan menyebutnya ‘libido’, dorongan untuk hidup yang mendatangkan karya-karya besar lain but who care’s Freud orangtua sombong-angkuh dengan rokok di mulut yang pemikirannya menjajah keilmuan psikologi dan meracuni hampir seluruh mahasiswa baru psikologi Indonesia yang tolol dan melihat manusia sebagai angka belaka?

Kemana ia (heloww, Gie, bukan fucking-Freud) menyalurkan cintanya yang begitu besar pada seseorang yang disebutnya sayangku? Saya bertaruh, ia tak mungkin akan melahirkan puisi sebagus ini, kalau dorongan itu benar-benar disalurkannya; kalau ia benar-benar duduk manis dan menghabiskan hidupnya “di sisimu sayangku”.

Saya juga akan, walau dengan ragu-ragu, bertaruh ia takkan menjadi seorang pemberontak ulung seperti yang gagal digambarkan dalam film Gie jika ia benar-benar duduk manis dan menghabiskan hidupnya “di sisimu sayangku.”

Tapi karena ini hari minggu, mari kita istirahat dari kalimat-kalimat perjuangan-revolusioner bla-bla-bla, kita nikmati gombalan spiderman Soe Hok Gie ini. Dan, jika anda punya puisi romantis lain, saya menunggu.

Felix K. Nesi

Advertisements

2 thoughts on “Puisi Romantis No. 1

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s