Puisi Romantis No. 2

Di Kelapa Lima

Malam di Kelapa Lima

laut bertukar tegur dengan pohon gamal

daunnya jatuh pada gelas minummu

Kau yang urung menyelesaikan cerita

tentang seorang pria

menghitung hujan di negeri timur

dan bocah yang tertidur

setelah mengingat lambai ayah di perbatasan

Malam di Kelapa Lima

tergenang cahaya kota Kupang

dan tarian yang meniru angin

meniru getir kisahmu

Bayang-bayang pohon gamal

tampak dalam gelas kita

bunga-bunganya terbang

di antara nyanyi seorang nona

Ceritalah, ujarkan segala ingatan

seperti penari kataga

tak ragu dengan parangnya

Di Kelapa Lima

tuanglah riang dalam gelasmu

dan bayangkan diri sebagai pohon tinggi

kelak tumbuh di atas karang terpilih

___

Ini puisinya Frischa Aswarini. Dimuat bersamaan dengan beberapa puisinya yang lain di Kompas 28 Juli 2013, salah satu yang lain berjudul Di Katyn. Namun justru itu yang membuat puisi ini lebih romantis. Ada pembandingnya. Taste keindonesiaan selalu lebih romantis daripada yang lain, bahkan Italia yang lebay. Lagian Di Katyn itu puisi sedih tentang pembantaian, bukan puisi romantis.

Terlebih karena saya pernah duduk di Kelapa Lima. Sekedar melihat laut: Apa yang indah dari Kelapa Lima? Semua laut itu sama saja: mengabarkan kalau tuhan kayaknya memang benaran ada dan kalau kau tenggelam ke sana kau akan mati! Maka romantis adalah sesuatu yang kau tangkap dengan hatimu secara pribadi. Kau buat sepuluh kata indah, kau bagikan, orang hanya akan memilih mana kata yang mengena dalam hatinya, yang menyimpan pengalaman yang menyambung ke kata-katamu.

(Ini yang saya lupakan saat saya pertama kali menulis surat untuk pacar pertama saya di kelas lima SD. Saya kutip semua kata-kata indah yang ada di buku TTS. Tapi dia juga senang.)

Adik kelas saya: Dimas dan Priskilla lagi pedekate. Sms-smsnya polos (tentu saja diam-diam saja membacanya. Bahkan saya yang mengawali chatingannya karena Dimas jenis orang yang cintanya taga’e di bibir. Saya pinjam HP Dimas, saya sms hai ke Priskilla, Dimas kirim sms lanjutan minta maaf dan menyalahkan kegilaan saya, lalu obrolan berlanjut.) dan kadang bikin mual. Batolak bahela ba’iu kiri kanan. Tapi itulah romantis. Hanya mereka yang bisa mengerti. Saya tak bisa menangkapnya. Hanya bisa ketawa-ketawa palingan.

Maka puisi romantis ini sesungguhnya akan terasa bila kau adalah anak dekat-dekat Kupang yang sedang belajar menulis. Bukan karena puisi ini memiliki kekuatan diksi yang wow. Bukan karena daya kreatifnya menciptakan sesuatu yang baru. Ini jenis puisi yang biasa saja. Tidak bagus-bagus amat. Tapi bagaimana bisa orang datang ke tempat kita, menghasilkan puisinya di sana, sementara kita kerap membuat puisi yang berbelit-belit tidak karuan? Mai su, kita buat puisi tentang sapi.

(Di twitter: kayaknya Frischa ulang tahun)

Felix K. Nesi

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s