Perjudian Ikan

Ikan baru saja berjudi. Sehari yang lalu ia duduk di hadapan seorang perempuan yang sedang memainkan sedotan di bibir gelas dengan tangannya yang kasar.

“Kita ke Candi Badut. Terus habiskan waktu seharian ke DTW lain. Baru malamnya, pas pergantian tahun, kita lihat kembang api di alun-alun.”

“Apa DTW?”

Perempuan itu melihatnya dengan tidak percaya.

“Daerah Tujuan Wisata.”

Ia terdiam. Sementara perempuan itu mengeryitkan keningnya.

“Tapi di mana ya? Kemarin saya sudah sempat browsing. Tapi belum ketemu.”

Lalu satu jam sesudah itu Ikan mengoceh tentang DTW yang ia ragukan dalam hatinya yang terlanjur berbunga. Perempuan itu telah merencanakan perjalanan yang belum terpikirkan olehnya. Ia, hanya merencanakan tahun baru di dapur dengan selembar resep makanan China dan daun salam; satu-satunya bumbu yang menarik di telinganya. Maka untuk menyamarkan sukacitanya, ia mengusulkan wisata candi akhir tahun. Ke Candi Badut dulu, terus Candi Singosari. Tapi Singosari jauh dan arah Surabaya macet tiap akhir tahun. Padahal di Lawang banyak candi.

Namun sampai adzan berkumandang kedua kalinya, tak satupun ide tempat menarik keluar dari mulutnya yang suka bicara.

Baru satu hari yang lalu, ia berkata di hadapan perempuan itu : Ini perjudian terbesar saya.

“Kenapa?” Perempuan itu tak bertanya. Namun ia ingin menjawab. Dalam hatinya.

“Kepala selalu menyimpan alasan. Namun hati terbuat dari jemari hujan yang lembut. Maka tugas kepala adalah menjaga hati agar bebas dari luka. Itulah mengapa ia harus selalu awas, di depan kata-kata yang melumpuhkan hati. Ialah lelaki tua yang menatap tiap lelaki yang mendekati anaknya yang perawan dengan penuh curiga.”

Apa hubungannya dengan perjudian?

“Kali ini, di depan senyum yang kecil-kecil, si gadis perawan tak ingin diganggu siapapun. Ia terlanjur ingin dan hanya ingin melelapkan dirinya pada senyum itu.”

“Saya tahu kok kita mesti kemana.” Perempuan itu berkata sambil tersenyum. Menyeruput minuman di gelasnya tanpa bunyi. Dan Ikan, untuk kesekian kalinya merasa bodoh di hadapan perempuan yang selalu memperdayanya dengan pikiran-pikiranyang tak disadarinya.

“Yang penting, besok, temui saya di perpus kota. Pukul 09.30. Jangan lupa bawa helm. Kita di jalan seharian”.

Ia tersenyum namun hatinya menari. Seolah ia baru saja memenangkan undian yang tak dimenangkan semua warga Amerika. Perempuan ini penuh kejutan, dan ia tak sabar menemukan kejutan lain.

Tapi sebagai laki-laki, ia menatap perempuan itu di matanya: “Air. Kalaupun besok kita gak kemana-mana, kita hanya duduk di satu tempat, memesan teh dan membaca buku, yang penting ada kamu. Akhir tahun dan perjalanan itu gak penting. Yang penting itu kamu.”

Maka terjadilah. Ikan berjudi. Ia melupakan segala sakit yang pernah dirasakannya, menepiskan penjagaan ketat dari lelaki tua di kepalanya dan memberikan hatinya pada perempuan yang selalu tak terduga.

Di hadapannya, buku-buku telah menumpuk. Cara Foucault ngotot di hadapan teori psikologi, dan Freud si lelaki tua angkuh yang menjepit cerutu di jarinya. Buwun, puisi Mardi Luhung yang memenangkan penghargaan KLA 2010, dengan kata pengantar yang tipografinya membuatmu teringat pada Ekaristi, puisi Mario F Lawi yang masuk nominasi KLA 2014. (Mario memang pengikut Mardi yang kreatif.) Sekumpulan puisi Sitor Situmorang yang editornya merindu pengumpul esai. Autobiografi Saut Situmorang yang pemarah. Mengapa Nietzche membebaskan dirinya dari norma yang dibikin filsuf sebelumnya. Celana, Pacar Kecilku, Di Bawah Kibaran Sarung dan Joko Pinurbo yang mengajaknya bercanda.

Jam dinding tua perpustakaan itu menunjukkan pukul 14.20 WIB.

Dan ia masih membaca. Ia masih ingin membaca puisi yang lain. Agar di bawah hatinya, seseorang tak diam-diam duduk dan menangis.

 

Felix K. Nesi

Advertisements

One thought on “Perjudian Ikan

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s