Perilaku Prososial Malam Tahun Baru

Tanggal 31 Desember 2014, saya, Ferry Said dk (dan konco), Han Farhani, Ode dan Alra, minum kopi di depan BNI. Mereka ini musisi-musisi Malang Raya kalau lu tanya. Mereka ngopi, saya minum brem. Baru dua teguk ketika ada bunyi bruk di samping pos satpam.

Waktu kami ke sana, seorang anak 17an, dihajar enam orang anak tujuhbelasan juga. Dia tidur di aspal sambil minta maaf. Pake helm putih. Ditendang kepalanya. Mukanya dilempari nasi.

Dia bangun. Dihajar. Jatuh lagu.

Semakin banyak yang datang dan menonton. Kami ini bystander (calon penolong). Kau tahu hasil penelitian Bibb Latane dan John Darley mengatakan, semakin banyak bystander yang ada, maka akan ada penyebaran tanggung jawab. Masing-masing berpikir bahwa mungkin akan ada orang lain yang menolong. Ini disebut difusi tanggungjawab. Maka kemungkinan untuk menolong itu kecil. Itu kalau dilihat dari faktor situasional.

Berdasar faktor motivasi, kami harusnya menolong karena self interest, yaitu perilaku yang memuaskan keinginan pribadi, integritas moral atau karena dorongan ingin berperilaku moral dan adil, hipokrisi moral, ialah munafik, pura-pura biar dianggap bermoral.

Saya ke anak itu. Saya tarik untuk berdiri. Dia terus diserang.

“Aku lagi makan, Mas. Tiba-tiba dia datang tanpa permisi, gangguin aku makan.” Salah satu dari mereka bilang begitu sambil tendang perut anak ini. Dia jatuh lagi.

Saat itu kognisi saya kepengaruh atribusi terhadap yang dihajar ini. Saya pikir, ialah kau kurang ajar biar dihajar. Jadi keinginan menolong berkurang. Tapi waktu anak ini bilang tolong, saya pikir tidak ada ruginya saya tolong anak ini. Suasana hati positif atau negatif memang mempengaruhi juga. Kalau kau merasa jika menolong gak kasih akibat/konsekwensi negatif apa-apa dan sangat dibutuhkan, namanya suasana hatipositif. Jika perilaku menolong bisa redakan kadar emosi negatif, itu namanya faktor suasana hati negatif.

Ada juga daya tarik terhadap korban, ada model-model prososial yang lain tapi saat itu gak kepikiran.

Nah, untuk konsep perilaku sosial, ada emphatic altruism hypothesis yaitu menolong karena ada empati dan kita mau lakukan. Negatif state relief artinya perilaku menolong untuk menghilangkan suasana hati yang negatif. Terus empathic joy altruism itu menolong karena tahu kalau kita menolong, orang lain akan senang.

Nah, ini buat PPT pertama. Intinya anak itu sedikit banyak saya dan Kamerun pisahkan dari pemukulnya. Yang lain kira-kira 20orangberdiri dan nonton. Dia pulang dibonceng pacarnya dengan babak belur. Biar ngawur asal selamat.

Advertisements

One thought on “Perilaku Prososial Malam Tahun Baru

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s