(Sudah) Saatnya Media di NTT Menghargai Sastra(wan)nya

(Ini tulisan saya bikin tahun 2012. Sekarang saya malu bahwa saya pernah menulis ini tapi baiklah, terlalu banyak hal yang kerap membuat saya malu usai melakukannya.)

Beberapa hari yang lalu, lewat jejaring facebook, saya menyapa seorang teman lama yang saat ini menjadi pegiat sastra di NTT, bahkan akhir-akhir ini disebut sebagai salah satu sastrawan muda NTT. Sambil bercanda saya bertanya tentang cara mengirim puisi ke media yang benar, siapa tahu puisi-puisi galau saya bisa diterima dan saya mendapat tambahan uang beberapa ribu buat makan. Jawabannya mengejutkan : di NTT belum ada honor puisi. Kalau cerpen? Saya bertanya lagi. “Cerpen biasanya limapuluh ribu, tapi sudah dua tahun ini cerpen saya tidak pernah dibayar, demikian tulisnya.” Continue reading

Advertisements

Tiga Cara Mengembangkan Sastra Malang

Radar Malang, 1 Peruari 2015

Setelah berproses bersama sastra di kota Malang hampir selama lima tahun ini, saya secara pribadi melihat bahwa dunia sastra Kota Malang masih berjalan di tempat. Jika ada yang mengatakan sastra Malang bergeliat, ia bergeliat di tempat. Tempatnya kecil dan gelap. Dan sendiri. Ia seperti katak yang membangun lampu di bawah tempurung dan sangat mencintai lampu-lampu yang dibangunnya. Dan ia kepala batu, karena ia berasal dari Timur. Tak akan ada yang bisa memberinya saran. Continue reading