(Sudah) Saatnya Media di NTT Menghargai Sastra(wan)nya

(Ini tulisan saya bikin tahun 2012. Sekarang saya malu bahwa saya pernah menulis ini tapi baiklah, terlalu banyak hal yang kerap membuat saya malu usai melakukannya.)

Beberapa hari yang lalu, lewat jejaring facebook, saya menyapa seorang teman lama yang saat ini menjadi pegiat sastra di NTT, bahkan akhir-akhir ini disebut sebagai salah satu sastrawan muda NTT. Sambil bercanda saya bertanya tentang cara mengirim puisi ke media yang benar, siapa tahu puisi-puisi galau saya bisa diterima dan saya mendapat tambahan uang beberapa ribu buat makan. Jawabannya mengejutkan : di NTT belum ada honor puisi. Kalau cerpen? Saya bertanya lagi. “Cerpen biasanya limapuluh ribu, tapi sudah dua tahun ini cerpen saya tidak pernah dibayar, demikian tulisnya.”

Saya terhenyak. Di balik geliat sastra dan perdebatannya di NTT yang menunjukkan perkembangan pesat, ternyata nasib sastrawan NTT yang menjadi pelaku sastra masih seperti itu. Akhirnya saya teringat pada tiga point pertanyaan Norbertus Jegalus kepada Yohanes Sehandi (lewat Flores Pos 24/11/2011) tentang usaha menumbuhkembangkan sastra NTT. (1) Apa  yang harus dilakukan para penulis sastra (sastrawan NTT)?; (2) Apa saja peran pemerintah daerah di NTT?; dan (3) Apa pula peran masyarakat NTT dalam memajukan sastra NTT? Maka saya rasa perlu membonceng Bapak Yohanes Jegalus untuk ikut melontarkan satu pertanyaan yang sederhana (saking sederhananya sampai kadang tidak diperhatikan) namun penting : Apa peran media di NTT dalam menumbuhkembangkan sastra NTT?

Media di NTT

Ada begitu banyak media bertebaran di NTT. Namun dalam hubungannya dengan dunia sastra, ada dua media besar yang berhubungan erat dengan eksistensi dunia sastra: Flores Pos dan Pos Kupang. Dua media ini memiliki hubungan erat dengan sastra NTT. Yohanes Sehandi sendiri dalam opininya berjudul Kebangkitan Sastra NTT 2011 (Pos Kupang, 6 Maret 2012) di mana ia “membaptis” beberapa orang menjadi sastrawan NTT – yang berujung kontroversi, juga mendasarkan “pembaptisannya” pada tulisan-tulisan yang pernah dimuat di dua media ini. Dimuatnya-tidaknya tulisan seseorang baik opini, cerpen maupun puisi dalam dua media tersebut menjadi tolok ukur Yohanes untuk menyebut orang tersebut sebagai sastrawan. Ini berarti bahwa dua media tersebut sangat berpengaruh dalam perkembangan sastra di NTT.

Pos Kupang merupakan media besar dan cukup tua di NTT. Media besar maksudnya – walaupun bisa dikatakan bahwa ini penilaian pribadi saya – sulit untuk mengelak bahwa Pos Kupang merupakan media di NTT yang distribusinya merambah luas sampai ke pelosok. Secara tidak langsung, ia menguasai seluruh NTT. Cukup tua maksudnya, sudah sangat lama berdiri, sejak tahun 1992. Kolom sastranya sendiri konon telah ada sejak tahun 1996. Saya ingat saat SD saya selalu menantikan cerpen dan puisi, lengkap dengan kritiknya di kolom sastra. Karya-karya Usman D. Ganggang, Maria Mathildis Banda, John Dami Mukese dan sebagainya. Flores Pos sendiri walaupun tidak saya temui di masa kecil saya, saat ini menjadi tempat diskusi menarik seputar sastra, dengan perang penanya yang berkualitas dan selalu saya simak walaupun hanya melalui dunia maya. Tentu saja ia berperan besar dalam publikasi sastra di NTT.

Hubungan Sastra(wan) dan Media

Dalam tulisannya seputar sastra NTT, Yohanes Sehandi seringkali menyebut media sebagai “ibu” dan “pengorbit“. Hal tersebut salah satunya dapat kita lihat dalam opininya Krisis Apresiasi dan Kritik ( Pos Kupang, 13 Mei 2012). Ia mengatakan : “… saya bangga dengan seriusnya Pos Kupang dalam mengorbitkan sastrawan NTT…. Dalam kalimat lain di artikel yang sama ia juga secara implisit menyebutkan media sebagai “ibu” sastrawan. “…Jumlah cerpenis (pengarang cerpen) dan penyair (pengarang puisi) yang dilahirkan PK tentu berjumlah ratusan orang,” demikian tulisnya. Di sini saya melihat adanya salah tafsir terhadap hubungan antara media dan sastrawan.

Pemahaman bahwa media-lah yang “melahirkan” dan atau “mengorbitkan” sastrawan akan berujung kepada terbangunnya hubungan yang tidak sehat antara media dan sasrawan, di mana yang lebih menjadi korbannya adalah sastrawan itu sendiri. Baiknya perlu dipahami, bahwa media hanya menampung dan mempublikasikan karya sastrawan. Bukan media yang melahirkan atau mengorbitkan sastrawan. Tanpa media, sastrawan tetap akan berkarya. Media membuat sastrawan dikenal, membuat karya-karyanya dipublikasikan.

Jika tetap ada anggapan bahwa media adalah ibu dan pengorbit, bukan tidak mungkin lama-kelamaan dunia sastra yang sarat nilai intelektualitas tak jauh beda dengan dunia selebritis Indonesia saat ini, di mana ada kemungkinan media mempublikasikan karya yang tidak berbobot hanya untuk tujuan pengorbitan orang-orang tertentu. Juga ada kemungkinan penulis “menjual diri” ke media demi diorbitkan. Saya rasa kita semua sepakat : bukan itu yang kita inginkan. Kita tetap menginginkan perkembangan dunia sastra di NTT dengan karya-karya berbobot.

Sudah Saatnya Media NTT Menghargai Sastrawannya

NTT dan dunia sastranya berkembang dengan sangat baik. Pos Kupang telah mempublikasikan karya-karya sastra sejak tahun 1996. Banyak sastrawan asal NTT yang cukup diperhitungkan, sebut saja Gerson Poyk, Umbu Landu Paranggi, dan beberapa yang lain (bdk. Kebangkitan Sastra NTT 2011, Pos Kupang, 6 Maret 2012). Ketika sastra semakin berkembang, saya pikir sudah saatnya pula media menghargai sastrawannya. Bentuk penghargaan media kepada sastrawannya bisa berupa honor yang pantas atas karyanya, atau keterbukaan bila memang media tidak menyediakan honor.

Honor Tulisan : Pentingkah?

Dalam sebuah diskusi antar cerpenis dalam sebuah grup Facebook yang dikelola Fanny J. Poyk, tanggal 21 Mei 2012, Chairil Gibran Ramadhan, seorang sastrawan Betawi mengatakan : “Semua pihak harus belajar menghargai karya terlebih dahulu, terutama yang memiliki kewenangan menyiarkan karya intelektual. Apakah etis memberi sebuah karya puisi 50ribu (untuk saya tak pernah mengalaminya, karena bukan penulis puisi), atau cerpen 150ribu (?!). Memang ada kalanya seseorang menulis untuk ekspresi diri, namun ini jangan dijadikan “rasa aman” bagi pihak media untuk mengecilkan penghargaan. Untuk hal ini, pihak media jangan berkilah dengan dalih apapun. Jika mempublikasikan karya seseorang mereka bersedia, maka bersedia juga menghormati. Itu sama saja dengan mau menerima namun tak mau memberi. Tabe!”.

Itu salah satu contoh sikap sastrawan dari daerah lain di Indonesia menyikapi honor media kepada sastrawan. Komentar-komentar serupa juga muncul dari daerah lain, tentang kecilnya honor, atau tentang sulitnya “menagih” honor ke pihak redaksi. Saya yakin, jika kita mengumpulkan semua sastrawan NTT dan bertanya apakah mereka perlu mendapatkan honor tulisan yang pantas dari karya mereka, hanya sedikit yang akan dengan mantap menjawab ya. Ketika digolongkan dan disebut sastrawan oleh Yohanes Sehandi saja, banyak sastrawan yang menolak. Namun jika memang saat ini kita sedang berpikir untuk mengembangkan sastra NTT, sudah saatnya juga kita mulai dari rumah kita, menghargai sastrawan-sastrawan kita sendiri dengan memberikan harga yang pantas atas karyanya.

Honor sesungguhnya tidak hanya akan menguntungkan sastrawan. Honor juga akan membuat media lebih ketat memilah, karya mana yang pantas dimuat dan diberi penghargaan, dan mana yang tidak. Hal ini tentunya akan membantu meningkatkan mutu dan mencegah dugaan plagiarism dan lain-lain seperti yang pernah diulas Mario F. Lawi dalam opininya berjudul Airmata Puisi untuk Imajinasi (dusunflobamora.blogspot.com), di mana ia mengkaji beberapa puisi yang disebutnya sebagai plagiasi, dan menyoroti Pos Kupang yang dalam setahun memuat beberapa puisi yang sama. Akhirnya ketika seleksi menjadi lebih ketat, nama-nama yang muncul merupakan orang-orang yang karyanya memang pantas dimuat, dan pantas pula disebut sastrawan oleh orang lain.

Saya tidak semata ingin menunjukkan bahwa cara media menghargai sastrawannya adalah dengan memberikan honor yang pantas. Saya teringat kata-kata sastrawan muda NTT yang saya ceritakan di awal artikel : “Cerpen biasanya limapuluhribu, namun sudah dua tahun honor saya tidak dibayar”. Bagi saya pribadi, ini merupakan bentuk penghinaan besar terhadap sastrawan. Jika memang tidak menyediakan honor tulisan, sebaiknya hal tersebut disampaikan. Saya percaya, hanya satu dari sepuluh sastrawan yang menulis dengan tujuan untuk mendapatkan honor. Sembilan yang lainnya menulis untuk mendapatkan kepuasan emosional, untuk benar-benar mengekspresikan perasaanya. Namun apapun tujuan mereka berkarya, hasil dari karya mereka tetap perlu dihargai. Jika menyediakan honor : bayarlah. Jika tidak: katakan hal itu kepada mereka.

Saya tidak tahu sejak kapan dan mengapa media dan sastra NTT tidak begitu mempedulikan perihal honor kepenulisan. Apakah karena orang NTT malu bicara soal bayaran apalagi menagih uang? Apakah karena sejak awal, sastrawan NTT yang menulis ke media di NTT didominasi oleh rohaniwan-biarawaran/i dan “orang-orang Gereja” lain yang sudah terbiasa ,elakukan sesuatu tanpa bayaran? Apakah sejak era awal perkembangan sastra NTT, dunia sastra di NTT selalu menjadi pekerjaan sampingan sehingga honor darinya tidak terlalu dipikirkan? Atau “kenyang nama” saja sudah cukup bagi para sastrawan di NTT? Apapun itu, sudah saatnya media NTT menghargai sastrawannya….

Penutup

Saat hampir menyelesaikan tulisan ini, seorang teman berkomentar demikian : “tulisanmu menyudutkan media, mana mau media muat tulisan kayak gitu?” Maka saya merasa perlu menjelaskan di bagian akhir, bahwa saya tidak sedang berusaha menyudutkan pihak tertentu, baik media yang tidak memberikan honor yang pantas, ataupun sastrawan dan pihak-pihak yang tidak peduli pada honor yang mencerminkan penghargaan atas karya. Yang ingin saya tekankan adalah harus ada hubungan yang sehat antara sastrawan dan media. Sastrawan adalah sastrawan dan media adalah media. Tidak ada istilah siapa mengorbitkan siapa, atau siapa melahirkan siapa, namun mereka sama-sama saling bergantung, saling membutuhkan. Maka sudah saatnya mereka saling menghargai pula. demi lebih berbobot dan bermutu nilai keduanya, baik media maupun sastrawan itu sendiri.

Saya teringat catatan seorang penulis, Kurnia Effendi, dalam jejaring Facebook, tentang pengalamannya berkunjung ke rumah Gerson Poyk – sastrawan yang kita banggakan – di Jakarta tanggal 5 Mei 2012 lalu. Bapak Gerson bercerita, bahwa di masa mudanya dulu, jika kehabisan beras, ia akan “berburu”. Caranya? Ia mengambil mesin ketik, menulis beberapa buah cerpen, lalu mengajak sahabatnya naik mobil tua keliling kota Jakarta. “Kita pertajam penciuman.” Begitu kata Pak Gerson kepada Kurnia. ”Kalau pemburu mengendus bau kijang, kita mencium bau kantor redaksi.” Ketika menemukan kantor redaksi, ia minta berhenti dan turun dari mobil. Diketuknya pintu kantor lalu menyodorkan cerpen dan langsung menerima honornya. “Kena sudah buruan kita!”. Kemudian makanlah mereka di warung…. Mudah-mudahan Gerson-Gerson muda NTT bisa melakukannya suatu saat nanti. Salam.

Felix K. Nesi

7 Maret 2012

Advertisements

3 thoughts on “(Sudah) Saatnya Media di NTT Menghargai Sastra(wan)nya

  1. entah motivasi apa, akhir2 ini penulis esai ini sudah tiga kali “meracau” di ruang scripta radar malang. tapi bila di timbang2, tulisan inilah yang sebetulnya lebih layak di ajukan ke halaman yang saya sebutkan di atas tadi. meski dalam asumsi saya tulisan ini agak “meluber-luber” tapi lebih substantif dibanding tiga tulisan yang saya sebut di atas

    tinggal ubah bahasan wilayahnya boy, karena soal media dimana-mana tidak sama tapi kembar…tosss

  2. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s