Sejenis Permohonan Maaf

Maaf ya Dina, email-mu jadi penuh spam. Saya sedang belajar membikin blog, jadi blog ini saya bongkar-bangkir sepenuh hati. Jadilah emailmu dia spam-i –> apa sih ini maksudnya?

Selamat berlibur, btw 😀

Advertisements

Sastra(wan/i) NTT dan Potensi Blunder

  1. 16 Juni itu ulang tahun sastra NTT. Dijadikan begitu after ulang tahun Gerson Poyk. Eh, benar toh 16 Juni?
  2. Sejak Yohanes Sehandi mulai membuat perumusan serius tentang Sastra(wan) NTT, topik itu menjadi hangat. Lebih banyak diskusi-diskusi serupa.
  3. Ada buku mengenal sastrawan NTT. (Btw saya dikirimi satu sama Pak Yohanes.) Bahkan baru-baru ini, dalam sebuah tulisannya Pak Yohanes menulis tentang sastrawati NTT. Ada 8 atau 9 kalau tidak salah.
  4. Yang mau saya bahas adalah potensi blunder yang mungkin akan datang dengan perumusan hal-hal seperti itu.
  5. Blunder pertama adalah soal pengkategorisasian sastrawan di NTT. Yang pertama, anak-anak muda bisa saja tumbuh gigi ambisinya untuk menjadi atau sebut saja untuk ikut disebut sebagai sastrawan. Kedua, pengkategorisasian ini tidak jelas –IMHO, asal dilihat menghasilkan tulisan, disebut sastrawan. Ketiga, kalopun mau ada kejelasan kategorisasi, masih akan ada perdebatan serius dan panjang ttg standar kategorisasi itu. Dan seperti yg sudah-sudah, perdebatannya akan berputar di siapa sastrawan siapa bukan dan kenapa karyanya disebut sastra, siapa yang menahbiskan dan menjadikan dia disebut sastrawan.
  6. Blunder kedua, perumusan Sastra(wan) NTT bukan tidak mungkin membikin kerdil sastra itu sendiri. Saat orang bicara tentang sastra, yang ada di kepalanya adalah pengkotak-kotakkan dan bagi saya itu hal yang sama sekali tidak perlu. Ini sastra A, itu sastra B. Penyebutan “Sastra Indonesia” saja sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa penulis. Eh, kita malah bikin kotak yang lebih kecil: Sastra NTT. Saat omong ttg sastra, mari kita omong tentang sastra itu sendiri. Mari kita omong misalnya bahwa lewat sastra, Joko Pinurbo mau omong apa. Lewat sastra Mario Lawi mau omong apa. Han Kang mau omong apa. Milan Kundera mau omong apa. Maria Pankratia (em) mau omong apa. Jhumpa Lahiri mau omong apa. Ricky Ulu mau omong apa. Mo Yan mau omong apa. Dicky Senda mau omong apa. Gogol mau omong apa. Unu Ruben. Ragil Sukriwul. Toni Morison. Fransiska Eka. Charles Dickens. Mezra Pellondou. Dacia Maraini. Afriyanto Kein. Voltaire. Dede Aton. Bukowski. Marsel Robot. Dan lain lain lain. Poinnya tetap: sastra! Bukan lagi sastra pedalaman, sastra perlawanan, sastra NTT, sastra Jawa, sastra… Secara pribadi saya muak tiap ada kotak di depan saya: termasuk kotak televisi, kotak sabun dan sebagainya. Ayolah. Bedanya hanya kita masih belajar dan dong su penulis mapan atau su mati. Dong mati, tapi ide/gagasan akan bertahan dan tiap generasi berdialog dengan ide-ide atau gagasan-gagasan itu. Ayo bicara di tataran itu, buat apa le bicara kami dari sini maka…
  7. Penyebutan sastra yang begini bisa jadi akan memunculkan stereotip. Karena dia NTT, tulisannya tentu hanya seputar sabana, kuda, lontar, karang, paus, jagung… Dan, anak-anak muda yang baru belajar menulis pun akan terjebak untuk hanya tulis tentang itu saja.
  8. Bukan tidak mungkin sampe mati kita tengkar sendiri2. Saat masih main facebook Mario F Lawi (semoga selalu sehat) kerap mengomel soal sastra NTT yang seperti katak dalam tempurung. Saya pikir walaupun ada yang gerah karena menangkap nada sombong di pernyataan Mario ini, kita mesti lihat lebih jauh sebagai kritik yang memang terjadi, dan, kalau tidak hati-hati, akan terjadi lebih parah lagi, seiring pembentukan Satra NTT lengkap dengan ulang tahunnya.
  9. Beberapa poin di atas itu potensi yang bakal terjadi. Kalau tidak hati-hati, pasti terjadi — bisa jadi lebih parah dari perkiraan yang ada. Pasti itu. Lihat saja.
  10. Di atas itu semua, saya menghargai kerja dokumentasi dan usaha beberapa orang untuk memajukan sastra di NTT. Fiuh, saya harus jujur bahwa kalimat “usaha memajukan sastra” adalah salah satu omong kosong lain yang tak kalah seru. Menulislah kalau kau memang suka menulis. Main bola-lah kalo kausuka. Lakukan karena hobi. Jang sampe kau sebenarnya suka main bola, tapi kau anggap sastra lebih penting dalam hidup fana ini (karena promosi gencar dan kalimat “usaha memajukan sastra”) dan kau lebih memilih menulis daripada main bola. Itu ocong, Kaka. Lakukan apa yang kau sukai.
  11. Sekali lagi anak-anak muda mesti mulai belajar keras menulis dan membaca — sekali lagi hanya bagi yang suka melakukan hal itu — tanpa dipengaruhi labeling-labeling sejenis. Karena sejak pola pikir seperti ini dibentuk, penulis pemula yang baru pemula sekali akan menganggap gelar sastrawan itu wow sekali dan mereka akan makin minder membikin tulisan dan… betapa tidak enaknya itu. Ayo menulis saja; baca yang banyak.
  12. Kepada beberapa orang: Jang talalu bully Maria ee. Kasian dia  😀 😀

Membaca Cerita pendek (lagi)

Oleh: Fransiska Eka*

Agaknya sudah lama saya tidak membaca cerita pendek yang rapih, yang tidak bertele-tele tapi quotable, yang ringkas sekaligus kaya akan kritikan. Kemarin, saya membaca buku sekumpulan cerita pendek karya Felix K. Nesi. Ada beberapa cerita pendek di dalam buku terbitan Pelangi Sastra Malang, tetapi favorit saya adalah cerita pendek berjudul Ponakan. Mungkin karena saya bisa relate dengan si karakter utama dalam cerita yang kalau sedang menulis tak bisa diganggu sama sekali, termasuk diganggu oleh ponakannya yang masih balita, dan kalau berbicara lidahnya masih cadel.

Spoiler

Saya agak ngeri dengan ending cerita Ponakan, sekaligus teringat pada beberapa cerita yang pernah saya baca sebelumnya. “Adegan” si karakter utama mengikat leher si ponakan dengan tali yang diasosiasikam dengan dasi, misalnya, mengingatkan saya pada salah satu bagian cerita milik Ayu Utami dalam Orang-Orang Scorpio. Teman sekelas karakter Ayu mati karena menjerat dirinya sendiri dengan dasi. Dalam dunianya, ia sedang belajar memakai dasi. Ada juga sebuah cerita pendek karya seorang penulis perempuan dari salah satu negara di Jazirah Arab yang menceritakan tentang kekejaman anak-anak yang membiarkan seorang pria tewas di dalam sebuah sumur di ladang. Memang cerita Felix, Ayu dan si penulis dari Jazirah Arab berbeda (atau terbalik). Tapi saya senang bisa menemukan sebuah benang merah antara ketiganya ; pelaku sebuah tindakan yang tak wajar memiliki logikanya sendiri.

Pada salah satu halaman, Felix juga mengumpat (dia sering sekali mengumpat dalam cerita-ceritanya spoiler) pakem lokalitas. Ia katakan bahwa seorang anak gembala yang duduk diatas punggung sapi di padang adalah hasil karangan  orang-orang kota yang miskin imajinasi. Dalam kehidupan sehari-hari, si anak gembala punya banyak tugas daripada sekedar berleha-leha diatas punggung sapi di padang.

Ah, saya sepakat! Karena kita tinggal di NTT, apa kita harus melulu cerita tentang padang Sabana ? Halo!

Lastly, Felix ini penulis mapan:) Kita tinggal menunggu karya-karyanya yang lain di masa depan ^^

Good-Luck, dude!




*Tulisan ini saya salin dari blog pribadi Eka Fransiska (silakan klik kalo pengen liat), sebuah catatan kecil sesudah membaca buku cerita saya berjudul Usaha Membunuh Sepi (hell, sejak kecil saya bercita-cita membuat buku cerita dan akhirnya kesampaian). Saya menemukannya, di antara sekian banyak tulisannya yang lain. Saya baru tahu kalau Eka rajin menuliskan isi pikirannya di blog; bahkan curhat-curhat pribadi sekalipun. Tiap hari kau akan temukan potongan-potongan puisi di sana. Sepertinya ini yang mesti lebih banyak dilakukan anak-anak NTT yang lain juga, ketimbang meributkan siapa yang terbesar di antara mereka; siapa sastrawan siapa bukan dan kenapa begitu. Thats fucking disgusting bro.

(Oh, sebagai tambahan, membaca salah satu cerpen saya Eka teringat pada dua tulisan lain (Ayu Utami dan penulis Arab itu), ini membuat saya malu menyadari bahwa bacaan saya belum seluas Eka. Saya mesti mengamen, ke toko buku dan membeli buku Ayu Utami itu. Sebaiknya saya tidak ke perpustakaan untuk mencuri karena ini bulan puasa.