Membaca Cerita pendek (lagi)

Oleh: Fransiska Eka*

Agaknya sudah lama saya tidak membaca cerita pendek yang rapih, yang tidak bertele-tele tapi quotable, yang ringkas sekaligus kaya akan kritikan. Kemarin, saya membaca buku sekumpulan cerita pendek karya Felix K. Nesi. Ada beberapa cerita pendek di dalam buku terbitan Pelangi Sastra Malang, tetapi favorit saya adalah cerita pendek berjudul Ponakan. Mungkin karena saya bisa relate dengan si karakter utama dalam cerita yang kalau sedang menulis tak bisa diganggu sama sekali, termasuk diganggu oleh ponakannya yang masih balita, dan kalau berbicara lidahnya masih cadel.

Spoiler

Saya agak ngeri dengan ending cerita Ponakan, sekaligus teringat pada beberapa cerita yang pernah saya baca sebelumnya. “Adegan” si karakter utama mengikat leher si ponakan dengan tali yang diasosiasikam dengan dasi, misalnya, mengingatkan saya pada salah satu bagian cerita milik Ayu Utami dalam Orang-Orang Scorpio. Teman sekelas karakter Ayu mati karena menjerat dirinya sendiri dengan dasi. Dalam dunianya, ia sedang belajar memakai dasi. Ada juga sebuah cerita pendek karya seorang penulis perempuan dari salah satu negara di Jazirah Arab yang menceritakan tentang kekejaman anak-anak yang membiarkan seorang pria tewas di dalam sebuah sumur di ladang. Memang cerita Felix, Ayu dan si penulis dari Jazirah Arab berbeda (atau terbalik). Tapi saya senang bisa menemukan sebuah benang merah antara ketiganya ; pelaku sebuah tindakan yang tak wajar memiliki logikanya sendiri.

Pada salah satu halaman, Felix juga mengumpat (dia sering sekali mengumpat dalam cerita-ceritanya spoiler) pakem lokalitas. Ia katakan bahwa seorang anak gembala yang duduk diatas punggung sapi di padang adalah hasil karangan  orang-orang kota yang miskin imajinasi. Dalam kehidupan sehari-hari, si anak gembala punya banyak tugas daripada sekedar berleha-leha diatas punggung sapi di padang.

Ah, saya sepakat! Karena kita tinggal di NTT, apa kita harus melulu cerita tentang padang Sabana ? Halo!

Lastly, Felix ini penulis mapan:) Kita tinggal menunggu karya-karyanya yang lain di masa depan ^^

Good-Luck, dude!




*Tulisan ini saya salin dari blog pribadi Eka Fransiska (silakan klik kalo pengen liat), sebuah catatan kecil sesudah membaca buku cerita saya berjudul Usaha Membunuh Sepi (hell, sejak kecil saya bercita-cita membuat buku cerita dan akhirnya kesampaian). Saya menemukannya, di antara sekian banyak tulisannya yang lain. Saya baru tahu kalau Eka rajin menuliskan isi pikirannya di blog; bahkan curhat-curhat pribadi sekalipun. Tiap hari kau akan temukan potongan-potongan puisi di sana. Sepertinya ini yang mesti lebih banyak dilakukan anak-anak NTT yang lain juga, ketimbang meributkan siapa yang terbesar di antara mereka; siapa sastrawan siapa bukan dan kenapa begitu. Thats fucking disgusting bro.

(Oh, sebagai tambahan, membaca salah satu cerpen saya Eka teringat pada dua tulisan lain (Ayu Utami dan penulis Arab itu), ini membuat saya malu menyadari bahwa bacaan saya belum seluas Eka. Saya mesti mengamen, ke toko buku dan membeli buku Ayu Utami itu. Sebaiknya saya tidak ke perpustakaan untuk mencuri karena ini bulan puasa.

Advertisements

4 thoughts on “Membaca Cerita pendek (lagi)

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s