Ketika Orang NTT Membikin Antologi…

Di pertengahan tahun 2015 lalu, dalam perjalanan mengambil air di kali Noenebu, satu-satunya sumber mata air yang masih mengalir saat kemarau, yang memenuhi kebutuhan penduduk sampai radius tujuh kilometer, di atas sepeda motor saya membuat dua keputusan besar dalam hidup saya. Yang pertama, saya memutuskan untuk percaya bahwa orang Timor akan terus dibiarkan hidup dalam kondisi miskin, dan segala macam sinar harapan tentang hari depan yang baik akan segera sirna, baik oleh karena ketakpedulian pemimpin-pemimpin bangsa, maupun oleh kesukaan pemimpin-pemimpin lokal mengambil-ambil keuntungan dari kemelaratan penduduknya. Saya membuat satu paragraf dramatik dalam kepala saya: “Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tak tahu malu yang menjijikkan. Mereka akan tanpa malu saling melindungi kebusukan, meski baunya lebih tajam daripada mayat orang-orang miskin yang mati bergelimpangan.”

Yang kedua, saya memutuskan untuk percaya, bahwa saya tak berbakat menjadi penyair. Puisi-puisi saya selalu buruk dan tak pernah jadi. Mata puitika saya begitu tumpul, sehingga tiap kali saya menulis puisi, saya tak melihat hal baik untuk dituliskan, selain kelaparan di musim kemarau, pembodohan di musim kampanye, pastor yang minum sopi-kepala sampai mabuk di hari natal lalu menyesali umat yang tak melunasi uang derma wajib (bahkan sampai detik ini saya tak memahami apa itu derma wajib, tetapi baiklah tentang itu akan kita diskusikan di tulisan yang lain), rentenir yang mencekik, seorang pemuda yang mengamuk saat keluarganya yang yang pejabat kena kritik, dan seterusnya. Lalu saya berkeputusan untuk berhenti menulis puisi.

Beberapa bulan kemudian, saya dihubungi tentang adanya rencana pembuatan antologi penyair NTT, sebuah buku kumpulan puisi orang-orang NTT. Karena salah satu kuratornya saya percayai jika berbicara tentang NTT, dan yang menghubungi saya adalah salah satu orang yang saya hormati secara pribadi di dunia ini, saya membongkar-bongkar kembali puisi-puisi lama saya. Kalian tahu, seperti kata Gogol dalam salah satu novelnya, ada orang yang kita hormati sebab status sosial dan hubungan pertalian lain — seperti murid yang menghormati gurunya, atau seorang bawahan yang menghormati atasannya –- tapi ada juga orang yang begitu kita bertemu dengannya, tumbuh rasa hormat bukan karena segala macam status dan pertalian itu, tapi secara pribadi tumbuh rasa hormat begitu saja. Demikianlah, saat itu itu saya membongkar-bongkar puisi lama saya. Salah satu hal yang membuat saya menyimpulkan bahwa puisi saya tak pernah jadi adalah, begitu melihat puisi saya yang manapun, saya akan mengedit-editnya kembali, dan setelah mengeditnya pun saya masih menganggap bahwa puisi itu masih perlu diedit, meski saat itu saya belum menemukan bagian mana yang harus diedit. Demikianlah lagi, puisi-puisi lama itu saya edit lagi dan saya kirimkan ke panitia.

Hari ini, saya membaca pengumuman hasil seleksinya. Saya tiba-tiba merasa sebagai orang paling malang di dunia. Sebabnya adalah, selain tulisan itu telah diposting tanggal 17 September yang lalu (yang berarti saya orang paling lamban mendapatkan informasi), di situ panitia mengumumkan, bahwa: …kami mendapatkan hasil dari para kurator yang terdiri dari Bapak Joko Pinurbo, Bapak Alexander Aur dan Ibu Dhenok Kristianti (minus Mario F Lawi, beliau mengundurkan diri). Meskipun dalam soal selera, selera puisi saya jauh berbeda dengan Mario, saya mengakui bahwa saya mengirimkan puisi-puisi saya terlebih karena ada Mario di situ. Beberapa bulan menjadi teman facebooknya, dan membaca tulisan-tulisan di blognya, membuat saya paling tidak percaya, yang pertama kepada pengetahuannya yang mumpuni tentang sastra (tentu saja ia pantas menjadi kurator), yang kedua dan yang paling penting adalah kepercayaannya pada pemahamannya soal bangun sosial dan kehidupan NTT itu sendiri. (Ini menjadi penting, sebab jika Mario bicara tentang NTT, saya akan percaya. Namun jika Plato bangkit dari kuburnya dan bicara tentang NTT, sayalah yang dahulu akan meludahi wajahnya. Keberagaman di NTT membuat orang-orang asing selalu salah kaprah tentang NTT. Ia akan duduk dan mulai mengatakan: “Saya telah tinggal di NTT sekian tahun. Orang-orang NTT itu adalah orang-orang yang…” dan ia akan mulai mengatakan hal-hal yang ngawur belaka, dan di saat itu saya sangat ingin meludahinya, tapi tak diperbolehkan norma dan tata krama).

Yang pertama, keahlian sastra dan hal-hal yang diperlukan oleh seorang kurator (maafkan bila istilah ini kurang tepat, sebab saya bukan anak sastra dan tak begitu paham pada makhluk yang disebut sastra itu), tentu saja dimiliki juga oleh tiga orang kurator yang telah saya sebutkan di atas. Namun tentang soal yang kedua, pemahamannya pada bangun sosial dan kehidupan NTT (maafkan juga bila istilah ini kurang tepat), saya tidak yakin bahwa Bapak Joko Pinurbo dan Ibu Dhenok Kristianti memilikinya. Walaupun tentu saja saya tak bisa membuktikannya, saya tetap tidak yakin. Mungkin Bapak Alexander Aur memilikinya, tapi… entahlah. Saya tidak percaya bahwa satu orang NTT dan dua orang bukan NTT adalah komposisi kurator yang ideal untuk menghasilkan sesuatu dari NTT, sama seperti saya tidak akan percaya kepada seorang profesor seni dari Jawa misalnya, yang datang ke NTT dan menjadi kurator tenun ikat se-NTT. Kecuali, jika ia menjadi kurator tenun ikat se-Indonesia.

Saya berpikir, jika kelak saya mempunyai uang, saya akan membuat antologi penyair NTT, yang  kuratornya adalah Ragil Sukriwul, atau Ishack Sonlay, atau, mungkin ibu saya sendiri. Sebab saya tadinya berpikir untuk menarik kembali puisi saya, tapi salah satu pikiran saya yang lain lagi menyebutkan bahwa perbuatan menarik kembali puisi hanya perilaku anak-anak yang reaksioner dan suka mencari-cari sensasi. Di atas itu semua, apa sih pentingnya puisi? Apa ia bisa membuat hujan turun teratur? Babi berhenti kena wabah? Mungkin Bob Dylan bisa menjawabnya, sebab ia telah “having created new poetic expressions within the great American song tradition”. Amerikaa lagiiii…

Advertisements

One thought on “Ketika Orang NTT Membikin Antologi…

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s