Orang Miskin Harus Berani Merebut Pendidikan!

Alasan Besar Kenapa Kita Boleh Mencuri Buku.

Saya sungguh sangat ingin menjabarkan seruan di atas dengan berbagai-bagai teori, atau berbagai-bagai pemikiran, misalnya yang saya kutip dari sebuah buku motivasi, atau sebuah novel tentang orang miskin yang bersusah payah mendapatkan pendidikan. Tapi saya harus jujur bahwa saya muak dengan semua tata cara, tata pikir dan tata kebiasaan orang kota, di mana salah satunya adalah kebiasaan bahwa untuk menyampaikan pemikiran saya, saya harus melandaskannya pada satu atau dua teori orang lain yang disebut ahli.

Begini: Orang miskin harus berani merebut pendidikan! Merebut pendidikan yang di dunia ini telah dimonopoli oleh orang-orang yang punya duit. Kau membutuhkan uang untuk mendapatkan guru. Kau membutuhkan uang untuk membeli buku bagus. Kau membutuhkan lebih banyak lagi uang untuk masuk ke sekolah. Semakin lengkap fasilitas dan semakin cerdas pengajar di sekolah itu, akan semakin mahal biayanya. Jangan dulu bicara tentang kampus-kampus berkualitas. Saya (terlebih) sedang bicara pada anak-anak NTT: Tengok sekelilingmu! Sekolah-sekolah swasta milik Gereja Katolik menampung sangat banyak pengajar berbobot, dengan kurikulum dan kedisiplinan tinggi yang – semua orang NTT tahu – menghasilkan orang-orang cemerlang. Kebanyakan intelektual NTT hari ini (mulai dari yang paling kolot pikirannya sampai yang paling maju pikirannya sekalipun) minimal pernah mengecap pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan swasta milik Gereja Katolik. Tapi mari cari tahu: Berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk ke sekolah-sekolah itu? Bukankah kebanyakan anak yang akhirnya masuk ke sekolah-sekolah itu adalah anak-anak pegawai negeri yang bisa mengajukan kredit di bank? Atau anak-anak pemilik tanah? Atau anak-anak para keturunan raja? Beberapa anak miskin akan masuk sekolah negeri, dipukul-pukuli guru matematika karena tak bisa menghafal perkalian, dijauhi sebayanya karena tolol dan berpakaian lusuh dan jarang nongkrong di kantin. Tak bisa dinafikan, beberapa yang lain mungkin akan bertemu novel Andrea Hirata dan berusaha mengejar mimpinya; tapi saya tak sedang bicara tentang mereka. Saya bicara tentang anak-anak muda yang berakhir kabur dari sekolah dan menjadi kondektur bis Kupang-Atambua, atau preman pasar, atau jongos toko Cina, yang akan menghabiskan upah kerjanya untuk mabuk dan membeli android mahal dan pulsa dan sepeda motor bekas yang kemudian dimodifikasinya dengan cat mentereng dan bunyi knalpot yang bikin pekak. Itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Itu semata-mata karena mereka tak punya pengetahuan tentang apa yang mereka lakukan. Bagaimana mereka punya pengetahuan tentang itu, jika pendidikan yang mengajarkan pengetahuan tentang itu telah dimonopoli oleh orang-orang kaya?

Maka saya ulangi lagi: Orang miskin harus berani merebut pendidikan! Sebab hanya orang miskin yang bisa menyelamatkan orang miskin. Yang mau merebut akan menemukan cara untuk merebut; tapi saya tak sedang bicara tentang memperjuangkan beasiswa, belas kasihan donatur, atau hal-hal sejenis itu. Salah satu contoh merebut pendidikan adalah: Jika punya uang lebih, beli buku. Jika tak punya uang lebih, pinjam buku. Jika tak mau dipinjami, curi buku! Karena buku berisi pengetahuan (=pendidikan) dan pendidikan tidak seharusnya dimonopoli oleh segelintir orang.

Advertisements

3 thoughts on “Orang Miskin Harus Berani Merebut Pendidikan!

  1. Pingback: sufmuti

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s