Yang Saya Copas dari Status Facebook Jabar Abdullah

15822589_10209675260331200_2439441950698974079_n“Usaha Membunuh Sepi”-nya Felix K. Nesi merupakan satu dari sekian banyak buku sastra yang mengusung tema lokalitas di kampung halamannya, Nasem, Nusa Tenggara Timur, dan sekitarannya. dalam kumpulan cerpennya ini, ia entah berada di mana dan posisinya sebagai apa ketika ia menuliskan segala yang terkait dengan lokalitas, tradisi dalam pernikahan misalnya, yang dianggapnya sebagai sebuah persoalan. Felix terkesan sebatas ‘memberitahu’ bahwa tradisi semacam itu memberatkan bagi yang melakoni. terkait dengan kritiknya ini, ada proses risetkah sebelum ia mengkritik tradisi tersebut? kenapa ia begitu emosional ketika dihadapkan pada tradisi tersebut? pertanyaan ini saya produksi ketika kami mengobrol santai stan Komunitas Literasi Malang setelah bukunya didiskusikan dan dibacakan di panggung Pesta Malang Sejuta Buku 2016, Kamis (29/12). obrolan tersebut kemudian merambah ke banyak hal yang juga menjadi bagian dari lokalitas di kampung halamannya.

“sejak kapan kuda di kampung halamanmu itu ada dan menjadi alat transportasi?” tanyaku ketika ia menceritakan adanya keseharian yang melibatkan kuda.

tidak hanya kuda, dalam jagongan itu ia juga memberitahu jika tradisi lisan di kampung halamannya lebih kuat daripada tradisi tulisnya. seperti di ludruk, distribusi pengetahuan di sana tersampaikan melalui tradisi lisan. sangat jarang ditemui tinggalan berupa tulisan. dan semoga saja, Felix nantinya juga tergerak menciptakan gerakan literasi di sana, di Kampung halamannya.

selain kumcernya Felix, ada oleh-oleh yang lain. dan tentu saja berupa buku. buku yang isinya berbeda dengan bukunya Felix. buku yang dihadiahkan oleh Mas Yusri Fajar ini kumpulan tulisan yang berisi pemikiran tentang sastra, budaya dan bahasa. jenis buku yang dinilai mas Yusri jarang diterbitkan. jumlahnya kalah jauh dengan jumlah terbitan karya sastra. pertanyaannya kemudian, kenapa? apakah jarangnya ini seiring dengan jumlah kritikus dan pemikirnya? kenapa pula banyak penulis yang lebih memilih menjadi penulis cerpen, puisi, novel, daripada menjadi kritikus?

begitulah obrolan kami di kursi panjang yang telah lebih dulu duduk di atas lantai dasar FIB Univ. Brawijaya sebelum kami menduduki kursi panjang itu.

maturnuwun kepada Denny Mizhar dan Mas Yusri Fajar.

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s