Di Suatu Malam Minggu

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku,” ia berkata, pelan tapi sinis.

Saya sedang berdiri dengan sikap hormat di deretan buku-buku Eka Kurniawan. Saya baru saja menerima royalti dari penerbit. Karena sedang kaya-raya, saya mampir ke toko buku dan memborong sangat banyak judul, mulai dari cerita anak sampai filsafat, puthut sampai solstad.

Saat berjalan ke kasir, saya berhenti sebentar di rak yang menjejerkan buku-buku Eka Kurniawan; berdiri sebentar hanya untuk menarik napas panjang dan berbisik dalam hati: Suatu hari nanti, suatu hari nanti, saya akan menjadi seorang penulis besar, dan buku saya akan terpampang juga di situ.

Saat itulah ia, seorang asing yang kebetulan lewat di depan saya, berkata sinis tepat di depan hidung saya.

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku.”

Sebagai fans garis keras Eka Kurniawan, saya merasa sangat ingin menonjok wajah orang ini; membuat nyonyor bibirnya dan menarik keluar lidahnya yang laknat. Tapi karena dia perempuan cantik, perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja, saya tersenyum ramah dan mengajaknya minum kopi.

Kami duduk di tangga masuk Malang City Point, menikmati malam, orang lalu-lalang, kopi dan beberapa potong donat. Saya baru saja menerima royalti, dan starbucks tak akan membuat saya miskin.

Sesudah obrolan basa-basi tentang buku, saya bercerita tentang masa kecil saya di Timor. Bagaimana saya menunggang kuda dan berburu rusa yang turun minum di lembah. Ia menanggapi sebentar, dan bercerita tentang ibunya yang telah lama mati; bagaimana ayahnya menikah lagi dan tingal bersama perempuan yang seumuran dengannya. Tanpa kecup-selamat-malam ibunya ia menamatkan kuliahnya di fakultas sastra, bercita-cita menjadi penulis, tapi kini berakhir di meja teller sebuah bank swasta.

Malam dan kegembiraan selalu cepat berlalu. Sebelum berpisah, saya meminta nomernya dan bertanya apakah ia mempunyai pacar.

Ia tertawa.

“Pacar adalah istilah yang aneh,” katanya. “Kami berpisah delapan bulan yang lalu. Saya lebih suka membaca buku daripada berciuman. Dia lebih suka berciuman daripada membelikan buku.”

Saya tertawa.

Ia menyambung lagi, tapi dengan suara yang lebih lirih: “Waktu itu, saya pikir buku lebih asyik daripada ciuman.”

“Sekarang?” saya bertanya. “Masih berpikir begitu?”

Dia tertawa.

Malam itu, di tengah lalu-lalang orang membeli kebahagiaan, kami berciuman. Lama dan mengasyikkan. Ia mencengkeram leher saya dan menekan kukunya dalam-dalam ke kulit tengkuk saya setiap kali…

Sayang sekali, hal di atas hanya terjadi dalam imajinasi saya. Beginilah yang sesungguhnya terjadi.

Saya memang menerima royalti, tetapi jumlahnya sangat kecil. Tentu saja sebab pembaca saya sangat sedikit. Saya malah curiga saya tak punya pembaca: buku-buku itu habis diborong oleh para reseller buku indie, yang mengira kalau buku tentang kegalauan anak muda akan laris menjelang hari valentine.

Hari ini, kemungkinan mereka sedang menyesali keputusan memasok buku yang penulisnya sama sekali tak dikenal.

Karena royalti yang sedikit, saya berpikir seratus kali untuk mampir ke toko buku. Baru sampai pikiran kedua, saya sudah membatalkannya. Jika saya membeli buku, apa yang akan saya makan? Seandainya buku bisa dimakan… Selain itu, saya sangat ingin mempunyai kos – saya telah lama luntang-lantung dari kos kawan yang satu ke kawan yang lain. Meski tersenyum ramah, ada saatnya mereka menatap saya dengan rasa bosan yang tertutupi oleh sopan santun ketimuran.

Saya juga perlu menabung untuk membeli komputer. Saya merasa sebagai anak muda paling naif: lebih banyak bekerja dengan microsoft word, tapi tak mempunyai komputer. Bahkan anak paling tolol di kelas saya mempunyai laptop hanya untuk bermain solitaire atau menonton bokep.

Karena sekian banyak kebutuhan yang menghadang, saya tidak mampir ke toko buku. Karena tidak mampir ke toko buku, saya tidak bertemu perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja dan ibunya telah lama mati. Tapi, jikapun saya mampir ke toko buku, saya tak akan mungkin bertemu dengan perempuan asing yang mau menyapa saya.

Seumur hidup, perempuan asing yang menyapa saya hanya selalu terjadi di dalam mimpi. Di dunia nyata, kebanyakan perempuan asing akan membuang muka setelah melihat wajah saya – wajah Timor saya: rambut keriting berpilin-pilin, rahang dan hidung yang terlalu besar untuk pipi yang keropos dan bola mata yang tenggelam dan sedikit juling.

Itu belum ditambah rasa ngeri di wajah mereka, sebab raut saya mengingatkan mereka pada wajah perampok-pemerkosa-pembunuh dan tokoh-tokoh antagonis lain di televisi.

Saya tidak bisa menyalahkan wajah saya (tentu saya tak pernah menandatangani nota pemesanan fisik sebelum lahir) ataupun raut jijik-ngeri mereka. Saya tahu, sejak dilahirkan, kami terlempar ke dalam suatu sistem sosial yang yang punya standar ganteng-jelek-baik-jahat, yang selalu mengajari kami untuk menilai orang lain dari fisiknya.

Jika punya hidung yang mancung atau dahi yang mirip bintang iklan, kami merasa lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, kami akan menjadi malu dan tidak percaya diri jika memiliki hidung besar, rambut keriting, atau terlalu kurus, terlalu gemuk, atau punya kulit terlalu hitam.

Beberapa orang mengatakan, kami bisa saja menyelamatkan diri dari sistem brengsek itu dengan lebih banyak membaca buku. Tapi saya meragukan hal itu. Industri menyediakan terlalu banyak buku sampah dan kami hanya pasar yang selalu bergerak dari satu ketololan menuju ketololan yang lain.

Jikapun saya mampir ke toko buku dan bertemu seorang perempuan asing yang menyapa, saya tak punya cerita petualangan untuknya. Seumur hidup saya tak pernah menangkap rusa, hidup atau mati. Di masa kecil, binatang yang berhasil saya tangkap hidup-hidup adalah beberapa ekor semut hitam, yang mati sesudah saya adu kelahi dengan ribuan semut merah. Bahkan nyamuk-pun tak pernah berhasil saya tangkap: mereka mengisap darah saya tanpa ampun sampai saya kerontang.

Saya menyusuri jalanan kota yang berlubang. Asap knalpot menampar, kendaraan lalu-lalang, dan pekik klakson bersahut-sahutan. Di depan ruko-ruko, mobil-mobil parkir bertumpuk-tumpuk sampai ke bahu jalan. Malang semakin padat, tak ada tempat lagi untuk pejalan kaki.

Di balik setir, tak ada orang yang sabaran. Ini sabtu malam yang mampat; entah dari mana orang-orang ini berasal: orang-orang tolol-robotik yang hanya bisa menikmati hidup di malam minggu. (Sudahlah, mereka hanya korban peradaban).

Melintasi Malang City Point, saya melihat puluhan orang antri di starbucks, di J-Co. Saya pernah mengunyah makanan dari sana, dan buruk sekali rasanya. Orang-orang kota punya selera yang aneh. Bukan hanya soal makanan, tapi juga soal tulisan. Saya pikir, Lelaki Harimau adalah buku yang bagus, tapi Cantik itu Luka selalu ingin saya edit. Seperti Dendam masih bisa dimaklumi, tapi jika O benar-benar ditulis Eka, ia sama sekali tak layak terbit!

Felix dan Mimpinya

Oleh: Tarsy Asmat, MSF*

Sebuah kumpulan cerpen berwarna sampul coklat terang mengundang saya untuk membacanya. Mula-mulanya saya bertanya, mengapa diberi judul Usaha Membunuh Sepi?

Saya menduga, pengarangnya sedang didera oleh ribuan kesepian, dan ia belum merdeka dari selimut sepi. Kemudian saya membaca anak-anak cerpennya: Ponakan, Sang Penulis, sebelum Minggat, Usaha Membunuh Sepi, Pembual, Kenangan, Belis, Indra dan ditutup dengan Penumpang Gelap. Apakah susunan demikian sengaja dibuat oleh Felix, atau diurut berdasarkan tanggal kelahiran cerpennya? Sebaiknya pertanyaan ini, kita tanyakan kepada Felix saja.

Namun, setelah saya membacanya, kumpulan cerpen yang tipis (67 halaman) ini merupakan potret mimpi besar seorang Felix. Kerinduan besar pengarang adalah menjadi seorang pembesar di dunia tulisan serta relasinya dengan lingkungan.

Penulis Besar Masa Depan

13312825_1060624727351558_8341689867944991032_n

Saya pun membaca karya Felix ini dari sudut hubungan sastra dan psikologi. Wellek dan Warren (1977) menyatakan ada empat pengertian sastra dan psikologi 1) psikologi pengarang, 2) studi proses kreatif, 3) studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam sastra dan 4) mempelajari dampaknya pada pembaca. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis hanya menjelaskan berdasarkan pengertian yang pertama. Untuk pengertian dua sampai keempat perlu penelitian dan pendalaman bersama dengan penulis sendiri.

Kita tidak perlu mendebatkan apa itu sastra, ukuran kualitas dan segala tetek bengeknya. Cerpen adalah bagian dari sastra. Dalam kumpulan cerpennya, pengarang dengan dingin memperlihatkan kerinduannya yang lama terpendam. Kerinduannya ialah menjadi penulis, terlihat dari bagian akhir cerita tentang keponakannya.

“Saya tarik lebih kuat lagi, dan saya ikatkan pada batang pohon. Ia tergantung. Matanya melotot lagi dan lidahnya mulai terjulur keluar. Mulutnya mengeluarkan suara-suara aneh. Sore itu, saya pulang sendiri. Takkan ada orang yang akan merusak gelembung sabun saya lagi” (Felix, 2016: hlm 6)

Sekilas tokoh ‘saya’ adalah seorang pembunuh berdarah dingin, yang membunuh keponakannya dengan cara mengerat tali pada lehernya dan menggantungkan pada pohon, hanya karena keponakannya mengganggu “saya”. Namun, Cerpen ini dilanjutkan dengan cerpen “Sang penulis”.

Menurut saya, cerpen “Keponakan” merupakan ekspresi paling jelas dari diri pengarang tentang visi hidupnya. Mengapa ia tidak menyukai keponakan yang selalu bertanya-tanya? Dalam terori psikologi, sifat anak-anak memang kreatif, selalu bertanya, mengusil apa saja. Namun, tokoh ‘saya’ membenci dunia kanak-kanak. Dunia kanak-kanak yang suka bertanya, menemukan pola merupakan khas rasionalitas dan empirisme.

Pengarang membunuh dunia seperti itu. Pengarang lebih menikmati kesendirian, kesunyian, tanpa bising nyamuk sekalipun. Namun, ia juga menunjukan identitasnya yang hadir sebagai penggonggong situasi sosial. Kesepian-kesepian dan cinta ditransformasikan menjadi karya yang bisa dinikmati khalayak luas. Melalui tokoh Agus, pengarang memperlihatkan bagaimana menjadi seorang penulis yang diimpikan itu? Seorang wanita cantik dari luar negeri ingin menerjemahkan karyanya.

Life Style

Bagaimana menjadi seorang pengarang besar? Cerpen “Sang Penulis’ yang ditempatkan setelah kematian keponakannya, menurut saya juga merupakan tema dari semua cerpen-cerpen dalam buku ini. Namun, jika judulnya, Sang Penulis, kemungkinan daya jual dan memikat pembaca mungkin tidak sekeren dengan judul usaha membunuh sepi. Sastra juga memperhitungkan pasar. Sebab penulis tanpa pembaca akan mati.

Gaya hidup paradoks diperlihatkan dalam tokoh-tokoh dan persoalan cinta, politik, budaya dan sebagainya. Pengarang mempunyai sikap kritis, tetapi juga melankolis. Potret latar belakang diri Agus, kehilangan orangtua dan binatang kesayangannya menunjukan sisi lain dari seorang penulis. Sang Penulis menguak horisan seorang penulis sekaligus parodoks kehidupannya. Ia menegaskan jalan hidupnya secara tegas sebagai anak ideologi dari Heideger, Sartre, Nietzche, dll.

Seorang Sastrawan Prancis sekaligus Filsuf besar Eksistensialis, J.P. Sartre adalah sosok yang mengidolakan kebebasan. Bagi Sartre kehadiran orang lain adalah neraka atau perusak baginya, karena orang lain selalu akan meng-objekkan dirinya. Inilah bagian otomitas diri seseorang dan pengakuan akan kebebasan seseorang pengarang eksistensialis. Selain itu, pembunuhan terhadap keponakan merupakan gambaran pembunuhan subjek Descartes. Dalam filsafat Descartes, subjek identik dengan rasionalitasnya, cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada.

Setelah membunuh rasionalitas soliter demikian, lalu pengarang mendirikan gagasan hidupnya pada jalan kehidupan yang paradoks. Menurut Nietzche, originalitas hidup itu adalah ketika seseorang menerima paradoks kehidupan, menerima kesepian, penderitaan, cinta, dan sebagainya tanpa menghakimi atau menghindari realitas demikian. Inilah yang disebutnya vitalisme kehidupan (Listiyono & Sunarto, 2006:58). Seseorang menemukan siapa dirinya, ketika ia terjebak dalam situasi yang mana kebanyakan orang lari dan menghindar, yaitu kesepian dan kesakitan.

Mungkinkah kehidupan paradoks ini yang ingin dijalani oleh pengarang? Rupanya, banyak penulis besar lahir dari kegetiran hidup seperti si Agus dalam cerpen Sang penulis. Pengarang besar kerap kali orang yang tidak normal dari kacamata mayoritas, mereka bahkan bisa dikatakan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa (Waren 1971, hlm 32). Cerpen-cerpen selanjutnya hanya mendeskripsikan dengan indah kehidupan sekaligus kebebasan sang pengarang sebagai seorang yang — bisa dikatakan — pemberontak.

Untuk Pembaca Felix

Usaha Membunuh Sepi adalah buku yang menarik. Selain daya kreatif penulis, buku ini juga mengajak pembacanya untuk mempunyai mimpi besar. Semua orang mempunyai mimpi namun tidak semua orang berani menyeberangi kesunyian hidupnya untuk mewujudkan mimpinya. Sebenarnya ada banyak tema yang disodorkan oleh penulis; persoalan kebudayaan seperti diangkat dalam cerpen belis, persoalan kemiskinan, persoalan cinta dan sebagainya.

Pengarang akan membawa anda pada pengalaman keseharian yang semua manusia mengalaminya dengan bahasa yang sederhana tetapi membuat mimik anda berubah-ubah: merengut, tersenyum dan tertawa. Pembaca bisa menikmati Usaha membunuh Sepi ini entah ditemani kopi pada senja hari, atau di bawah pohon rindang, atau dimana saja. SELAMAT MEMBACA, sambil tersenyum-senyum.

*Tarsy Asmat, MSF adalah seorang calon imam Misionaris Keluarga Kudus propinsi Kalimantan. Alumnus STFK Sasana Widya Malang. Bermukim di Malang.

Pemburu Kepala Manusia

(Artikel ini diterjemahkan dari catatan perjalanan Theodora — lengkap dengan foto-fotonya. Anda bisa melihat versi aslinya di sini.)

Kores memegang senjata ayahnya dengan bangga. Sebilah kelewang pendek yang terbungkus dalam kain tenun-ikat, dan dua bilah tombak kayu yang kasar.

kelewangTatapannya telah memudar – sebelah matanya menutup, lenyap seperti gigi-giginya. Ada sebuah gondok di bagian belakang tengkoraknya yang lebih besar dari lingkar pipinya.

Ia tak bisa lagi mengunyah sirih-pinang. Ia menumbuk bebijian itu di dalam sebuah tabung besi kecil, sebelum memasukkannya ke mulut untuk menyenangkan gusinya.

“Apakah ayahmu memenggal juga kepala perempuan dan anak-anak?” aku bertanya. “Atau hanya laki-laki?”

“Anak-anak?” ia mengulangi, dan menatap menantunya untuk memastikan. “Lebih baik menantu saya saja yang bercerita; ingatannya masih kuat.”

Andreas, menantu Kores, yang tampak bercahaya dalam balutan kaos merah yang mengiklankan tas plastik, dan sebuah sarung kemerahan – semerah noda sirih-pinang di bibirnya, angkat bicara. Selain menguasai Bahasa Indonesia dengan lebih baik daripada ayah-mertuanya, ia juga bisa menulis. Sebenarnya, ia baru saja tiba dari sebuah pertemuan adat, menenteng sebuah buku catatan. Dua anaknya yang kecil-kecil menyembunyikan kepala mereka ke dalam sarungnya, mendongak dari waktu ke waktu; dua orang penyusup berwajah pucat.

“Tidak,” katanya. “Kami tak pernah mengambil kepala anak-anak. Sudah delapan generasi tidak pernah. Delapan generasi…” ia berhenti sebentar untuk membuang ludah merah sirih-pinang, “Kami hanya mengambil kepala laki-laki dewasa.”

Asap dari tungku menampar wajah Z. Z terbatuk-batuk.

Keluarga itu terlihat keheranan. Asap sama sekali tak mengganggu anak-anak di kampung ini. Mereka telah terbiasa kena asap sejak lahir.

Kami sedang berada di Timor – Indonesia Timor – di sebuah kampung bernama Nome, yang diduga adalah kampung pemburu-kepala terakhir yang masih bertahan.

Ini tempat yang tak biasa. Pondok-pondok berbentuk sarang tawon yang pendek dan melingkar, diatapi alang-alang yang telah menghitam sampai ke tanah karena asap, berjejer di atas tanah liat yang cerah, dikelilingi pohon-pohon lontar dan, anehnya, pohon kayu putih.

Posisinya menunjukkan betapa kampung ini pernah menjadi sebuah kampung dengan benteng yang menakjubkan.

Sebuah pagar tembok dari batu karang yang bergerigi, yang telah dihancurkan untuk jalan dan pagar ladang, berdiri setengah meter tingginya, meski pernah berdiri setengah meter lebih tinggi lagi. Pola dasar kaktus liar berbaris di atasnya, sisa-sisa pagar kokoh, sejenis kawat duri alami.

Tebing menjulang setinggi 60 atau 70 meter di tiga sisi kampung ini, ditutupi pepohonan yang menjadi perisai pertahanan, sekaligus menawarkan pemandangan yang luar biasa.

“Ini adalah tempat mereka merencanakan penyerangan,” Aka, pemandu kami, menjelaskan, saat kami berdiri di panggung kecil yang teduh tempat para pemburu mengadakan pertemuan. “Jika mereka datang dari utara, mereka menunjuk sebatang tongkat ke arah utara, dan jika jarinya tak mencapai tengah, orang itu akan mati.”

Salah satu dari pemuda-pemuda kampung itu memeragakannya, memutar-mutar tongkat itu dan menjulur-julurkan tangannya.

 “Hanya begitu saja caranya?” aku bertanya.

“Tidak,” ia menjawab, “ Mereka bisa mencoba lagi kedua kalinya. Jika kembali gagal, mereka mencari jawabannya di dalam telur. Jika ada darah di dalam telur, laki-laki itu akan mati.”

Aku mengangguk. Kami mengambil foto di dekat sejenis tiang takhta di bawah cengkaman pohon ara. Pohon yang disucikan di seluruh Asia – di banyak tempat, mereka menyebutnya pohon Budha – dan menjadi rumah untuk para pendahulu suku.

(It is, as they say, a far cry from Kensington. Or Hackney, for that matter.) (Saya sonde mengerti konteks kalimat ini, penerj.)nome-timor-kids

Di luar pondok baru mereka, istri Kores tersenyum lebar dan menyodorkan semangkuk ubi jalar, umbi berwarna pucat yang masih segar dari tanah merah. Aku mengambil satu, mengupas dan menggigitnya. Sangat lezat.

“Apa yang kemudian mereka lakukan dengan dengan kepala-kepala itu?” Z bertanya.

Aku mengulanginya, dan Aka menerjemahkannya dalam Bahasa Dawan. “Apa yang kemudian mereka lakukan dengan kepala-kepala itu? Lalu, bagaimana dengan tubuh-tubuh tak berkepala itu?”

“Raja mengambil kepala-kepala itu. Raja Nope. Para ksatria menunggui kepala-kepala itu empat hari empat malam, lalu mereka memberikannya pada raja.”

“Tubuhnya?”

Mereka meninggalkan tubuhnya di sana.”

“Apa yang kemudian dilakukan kepala-kepala itu?”

“Tuan raja! Tuan raja menyimpannya.”

“Apa yang terjadi pada kepala-kepala itu sesudah mereka tidak diizinkan untuk berburu kepala lagi?”

Hening. Tak ada yang tahu.

totem

Saat mereka menceritakannya – siapa yang tak menceritakan kisah leluhurnya dengan baik? – perburuan kepala di Nome terdengar seperti ritual yang positif dan dihormati.

Seorang lelaki sudah harus mencapai usia empat puluh untuk diizinkan berburu kepala manusia. Hanya lelaki-lelaki terkuat yang bisa ikut berburu kepala – sebuah praktek yang, dalam istilah evolusi, terdengar seperti cara menentukan pemimpin .

Ksatria-ksatria yang terhebat, seperti tiga orang bersaudara yang terkenal, Oni, Boi dan Kao, akan dianugerahi pangkat “Meo” – ini seperti pencarian para ksatria di abad pertengahan.

“Di mana kampung lain yang berburu kepala manusia di sekitar sini?”

“Hanya Nome.”

“Jadi, tak ada kampung lain yang berburu kepala orang? Hanya kalian?”

Hanya mereka. Hanya ksatria-ksatria mereka yang memburu kepala pria di kampung yang lain. Meski begitu, ada dua kerajaan lain di wilayah ini yang mempunyai pemburu kepala juga – begitu kata mereka kemudian.

Saat ksatria memasuki kampung, kepala-kepala bergantungan di bahu mereka, darah mengental di sekitar leher-leher yang telah terpotong itu, dan seluruh penduduk kampung, laki-laki, perempuan dan anak-anak, akan merayakannya, makan, minum dan menari di dalam benteng.

Kebanyakan rumah di kampung ini masih berdiri seperti adanya di masa perburuan kepala manusia. Sentuhan modernitas di tempat ini lebih sedikit, dibandingkan dengan rumah-rumah panjang di Borneo.

pondok

Tak perlu dipertanyakan lagi, ini adalah strategi pertahanan yang bagus.

Z, di usianya yang sepuluh tahun, hampir sama tingginya dengan laki-laki dewasa di kampung ini, harus membungkuk dua kali lipat saat ingin masuk ke dalam pondok tawon itu. Di situ, di pondok itu, seorang ksatria pemberani mati secara mengerikan dan dalam ketakpantasan.

Apakah begitu cara hidupnya hidup?

Well, pondok bundar ini memiliki diameter kurang lebih tiga meter. Tinggi pintunya kurang dari satu meter. Langit-langitnya satu meter lebih sedikit dari atas permukaan tanah. Di kasau-kasaunya, tergantung bulir-bulir jagung yang diasapi di atas tungku api; tungku api yang memanggang seisi ruangan itu sampai hitam berjelaga.

Di situ tidak ada jendela. Tidak ada cerobong asap. Saat pintu ditutup, asap merembes keluar melalui celah-celah pintu dan setiap celah alang-alang yang terlepas di atap.

Saat seorang bayi lahir di kampung ini, ari-arinya dikuburkan di lantai pondok, dan ditutupi dengan sebuah batu besar pipih.

Ibu dan bayinya harus menghabiskan empat puluh hari empat puluh malam pertamanya hanya di dalam pondok saja, diasapi seperti ikan kering – dan sebagai seorang perokok, saya tidak dengan asal saja memilih frasa ini.

“Ya Tuhan,” Z terlonjak, “Pasti sangat besar tingkat kematian bayi di sini. Bayangkan semua kutu, serangga dan penyakit yang ada di dalam sana.”

“Tidak,” Aka berkata, “Kaulihat anak-anak kampung itu? Mereka sehat dan kuat.”

Kelihatannya begitu. Mereka adalah anak-anak paling beringus yang pernah kulihat di Indonesia, kemungkinan besar diakibatkan oleh terlalu banyak menghirup asap, meski tentu saja mereka tidak lebih beringus dari bocah-bocah di sebuah kelas Bahasa Inggris musim panas.

Tapi mereka berlarian ke sana kemari dengan kuat dan gembira, anak-anak yang periang.

nome-timor-little-girl-and-her-brother

Perburuan kepala manusia di Nome dihentikan tahun 1942, cerita dilanjutkan kembali. “Saat kemerdekaan,” begitu Kores menjelaskan.

Dalam logika seorang Eropa, tentu saja angka tahun itu mengagetkan. Aku menghitung kemerdekaan Indonesia dimulai di tahun 1945. Saat Perang Dunia II berakhir, Jepang pergi dan pemerintahan baru memproklamasikan kemerdekaan (meski Belanda tidak mau menyerah sampai tahun 1949).

Orang-orang ini menghitung kemerdekaannya dimulai sejak Jepang menghalau bangsa Belanda di tahun 1942. Hidup di komunitas ini membuat memori mereka terlambat lima tahun.

“Kenapa dihentikan?” aku bertanya.

“Tidak diizinkan,” ia menjawab.

“Polisi?” Aku bertanya.

Ia diam lagi dan investigasiku mengalami kebuntuan.

Aku menduga – dan ini adalah murni dugaan tak berdasar – bahwa pemimpin Indonesia di masa sesudah kemerdekaan diam-diam berbicara dengan raja mereka, mengatakan bahwa perburuan-kepala-manusia  tidak bisa dilakukan dalam pemerintahan modern…

Tampaknya, perburuan kepala ini, jujur saja, tidak mengganggu pemerintahan Belanda. Kita sendiri telah mempelajari, bahwa di Kepulauan Rempah ini, seseorang dapat melakukan pembunuhan massal hanya untuk membalaskan kematian anjingnya. Bahkan, beberapa kelompok masyarakat di timur Indonesia tidak mengenal hukum lain di luar hukum adatnya, sering hingga beberapa dekade sesudah kemerdekaan.

interior-pondok
Foto dari dalam pondok/ume kbubu yang berlubang (keterangan oleh penerjemah)

Saya tidak yakin apa yang membuat saya dan Z merasakan sesuatu. Yang jelas, bukan persoalan perburuan kepala yang mengganggu kami. Ya, bagaimanapun juga, itu cukup bisa diterima sebagai cara hidup seorang ksatria.

Ini masalah asapnya!

Beberapa hari di Indonesia Timur, kami telah pernah tidur di bawah para-para dari papan tempat penampungan daun kelapa, di atas karung beras di sungai yang telah mengering, kencing di semak dan cebok dengan dedaunan, menyaksikan kerbau dikurbankan dan para pria saling hantam sampai mampus dengan tanduk kerbau, dan bertemu para pemburu-peramu nomaden, yang ke mana-mana membawa sihir mereka dalam sabuk rotan.

Kami bisa melihat sisi pesona dari gaya hidup seperti itu. Itu sesuatu yang berbeda, tentu saja. Tapi masih bisa dipahami.

Namun pengasapan di dalam ruangan gelap ini? Ini sama sekali tak bisa dipahami.

Di dunia ini, ada beberapa orang yang memilih untuk hidup dengan cerobong asap, atau paling tidak berusaha mengusir asap dari kediaman mereka.

Di sini, kita disambut di dalam pondok yang seperti sarang tawon, duduk di ruangan gelap yang hanya diterangi lampu minyak kecil: tungku untuk memasak dan sebuah periuk hasil improvisasi dari kaleng biskuit tua terletak di salah satu sudut, dan ada sebuah balai-balai kecil tempat anggota keluarga tidur bertumpuk-tumpukan.

Keluarga-keluarga di Nome bisa – dan mampu – membesarkan delapan atau lebih anaknya di dalam liang kecil ini, meskipun beberapa dari mereka mulai menambahkan ke dalam gaya hidup tradisional mereka, sebuah pondok yang lain lagi, yang berbentuk persegi panjang dan memiliki tempat terbuka untuk memasak.

Keluar dari pondok itu, mata kami beradaptasi kembali dengan matahari yang bersinar terang dan kami duduk sebentar dengan para perempuan kampung, lalu menyodorkan sirih-pinang yang kami bawa. Sirih-pinang dikunyah dengan sedikit kapur yang terasa pedas; itu membuat nadi berdetak lebih cepat, meningkatkan laju berpikir, membuat mulut terasa kering.

mama-merokokAku menyodorkan sirih-pinang dan membagikan rokok. Seorang perempuan dengan struktur tulang yang mempesona, yang memiliki wajah model tahun 1930-an dengan sebuah jaket bekas menggantung longgar di atas sarung-ikatnya, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke arah matahari.

Keriuhan terjadi. Semua orang – perempuan dan anak-anak – ketawa ngakak terguling-guling.

“Apanya yang lucu?” Z bertanya.

“Gak tahu,” aku menjawab. “Mungkin karena perempuan itu merokok, dan perempuan di sini tidak diizinkan merokok.”

Dan saat kami berboncengan pulang ke (never-ending sprawl of) Kefamenanu, kota kecil terbesar di Indonesia, hampir 4000k tertempuh sepeda motor kami, dan sebelum kami menaikkannya ke kapal untuk bertolak ke Papua, pikiran kami seperti bergentayangan tak tentu arah, hilang dari kepala kami.

Yang mengesankan kami adalah asap. Kegelapan. Lelucon yang terlalu sederhana untuk dipahami. Kesederhanaan hidup tak terbatas di antara suku-suku pedalaman.

Di daerah Timor Tengah, relatif hanya sedikit orang yang berbahasa Indonesia. 
Aka Nahak tinggal di Kefamenanu, menguasai bahasa Dawan, Belu dan Tetun, 
juga bahasa Inggris yang baik; ia bisa dihubungi di timorguide@gmail.com 
atau langsung ke HP-nya +62 (0)852 5346 3194.

(Theodore dan Z atau Zac adalah ibu dan anak yang berkeliling dunia sejak bulan Januari 2010. Selebihnya tentang mereka bisa anda baca sendiri di sini.)