Felix dan Mimpinya

Oleh: Tarsy Asmat, MSF*

Sebuah kumpulan cerpen berwarna sampul coklat terang mengundang saya untuk membacanya. Mula-mulanya saya bertanya, mengapa diberi judul Usaha Membunuh Sepi?

Saya menduga, pengarangnya sedang didera oleh ribuan kesepian, dan ia belum merdeka dari selimut sepi. Kemudian saya membaca anak-anak cerpennya: Ponakan, Sang Penulis, sebelum Minggat, Usaha Membunuh Sepi, Pembual, Kenangan, Belis, Indra dan ditutup dengan Penumpang Gelap. Apakah susunan demikian sengaja dibuat oleh Felix, atau diurut berdasarkan tanggal kelahiran cerpennya? Sebaiknya pertanyaan ini, kita tanyakan kepada Felix saja.

Namun, setelah saya membacanya, kumpulan cerpen yang tipis (67 halaman) ini merupakan potret mimpi besar seorang Felix. Kerinduan besar pengarang adalah menjadi seorang pembesar di dunia tulisan serta relasinya dengan lingkungan.

Penulis Besar Masa Depan

13312825_1060624727351558_8341689867944991032_n

Saya pun membaca karya Felix ini dari sudut hubungan sastra dan psikologi. Wellek dan Warren (1977) menyatakan ada empat pengertian sastra dan psikologi 1) psikologi pengarang, 2) studi proses kreatif, 3) studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam sastra dan 4) mempelajari dampaknya pada pembaca. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis hanya menjelaskan berdasarkan pengertian yang pertama. Untuk pengertian dua sampai keempat perlu penelitian dan pendalaman bersama dengan penulis sendiri.

Kita tidak perlu mendebatkan apa itu sastra, ukuran kualitas dan segala tetek bengeknya. Cerpen adalah bagian dari sastra. Dalam kumpulan cerpennya, pengarang dengan dingin memperlihatkan kerinduannya yang lama terpendam. Kerinduannya ialah menjadi penulis, terlihat dari bagian akhir cerita tentang keponakannya.

“Saya tarik lebih kuat lagi, dan saya ikatkan pada batang pohon. Ia tergantung. Matanya melotot lagi dan lidahnya mulai terjulur keluar. Mulutnya mengeluarkan suara-suara aneh. Sore itu, saya pulang sendiri. Takkan ada orang yang akan merusak gelembung sabun saya lagi” (Felix, 2016: hlm 6)

Sekilas tokoh ‘saya’ adalah seorang pembunuh berdarah dingin, yang membunuh keponakannya dengan cara mengerat tali pada lehernya dan menggantungkan pada pohon, hanya karena keponakannya mengganggu “saya”. Namun, Cerpen ini dilanjutkan dengan cerpen “Sang penulis”.

Menurut saya, cerpen “Keponakan” merupakan ekspresi paling jelas dari diri pengarang tentang visi hidupnya. Mengapa ia tidak menyukai keponakan yang selalu bertanya-tanya? Dalam terori psikologi, sifat anak-anak memang kreatif, selalu bertanya, mengusil apa saja. Namun, tokoh ‘saya’ membenci dunia kanak-kanak. Dunia kanak-kanak yang suka bertanya, menemukan pola merupakan khas rasionalitas dan empirisme.

Pengarang membunuh dunia seperti itu. Pengarang lebih menikmati kesendirian, kesunyian, tanpa bising nyamuk sekalipun. Namun, ia juga menunjukan identitasnya yang hadir sebagai penggonggong situasi sosial. Kesepian-kesepian dan cinta ditransformasikan menjadi karya yang bisa dinikmati khalayak luas. Melalui tokoh Agus, pengarang memperlihatkan bagaimana menjadi seorang penulis yang diimpikan itu? Seorang wanita cantik dari luar negeri ingin menerjemahkan karyanya.

Life Style

Bagaimana menjadi seorang pengarang besar? Cerpen “Sang Penulis’ yang ditempatkan setelah kematian keponakannya, menurut saya juga merupakan tema dari semua cerpen-cerpen dalam buku ini. Namun, jika judulnya, Sang Penulis, kemungkinan daya jual dan memikat pembaca mungkin tidak sekeren dengan judul usaha membunuh sepi. Sastra juga memperhitungkan pasar. Sebab penulis tanpa pembaca akan mati.

Gaya hidup paradoks diperlihatkan dalam tokoh-tokoh dan persoalan cinta, politik, budaya dan sebagainya. Pengarang mempunyai sikap kritis, tetapi juga melankolis. Potret latar belakang diri Agus, kehilangan orangtua dan binatang kesayangannya menunjukan sisi lain dari seorang penulis. Sang Penulis menguak horisan seorang penulis sekaligus parodoks kehidupannya. Ia menegaskan jalan hidupnya secara tegas sebagai anak ideologi dari Heideger, Sartre, Nietzche, dll.

Seorang Sastrawan Prancis sekaligus Filsuf besar Eksistensialis, J.P. Sartre adalah sosok yang mengidolakan kebebasan. Bagi Sartre kehadiran orang lain adalah neraka atau perusak baginya, karena orang lain selalu akan meng-objekkan dirinya. Inilah bagian otomitas diri seseorang dan pengakuan akan kebebasan seseorang pengarang eksistensialis. Selain itu, pembunuhan terhadap keponakan merupakan gambaran pembunuhan subjek Descartes. Dalam filsafat Descartes, subjek identik dengan rasionalitasnya, cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada.

Setelah membunuh rasionalitas soliter demikian, lalu pengarang mendirikan gagasan hidupnya pada jalan kehidupan yang paradoks. Menurut Nietzche, originalitas hidup itu adalah ketika seseorang menerima paradoks kehidupan, menerima kesepian, penderitaan, cinta, dan sebagainya tanpa menghakimi atau menghindari realitas demikian. Inilah yang disebutnya vitalisme kehidupan (Listiyono & Sunarto, 2006:58). Seseorang menemukan siapa dirinya, ketika ia terjebak dalam situasi yang mana kebanyakan orang lari dan menghindar, yaitu kesepian dan kesakitan.

Mungkinkah kehidupan paradoks ini yang ingin dijalani oleh pengarang? Rupanya, banyak penulis besar lahir dari kegetiran hidup seperti si Agus dalam cerpen Sang penulis. Pengarang besar kerap kali orang yang tidak normal dari kacamata mayoritas, mereka bahkan bisa dikatakan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa (Waren 1971, hlm 32). Cerpen-cerpen selanjutnya hanya mendeskripsikan dengan indah kehidupan sekaligus kebebasan sang pengarang sebagai seorang yang — bisa dikatakan — pemberontak.

Untuk Pembaca Felix

Usaha Membunuh Sepi adalah buku yang menarik. Selain daya kreatif penulis, buku ini juga mengajak pembacanya untuk mempunyai mimpi besar. Semua orang mempunyai mimpi namun tidak semua orang berani menyeberangi kesunyian hidupnya untuk mewujudkan mimpinya. Sebenarnya ada banyak tema yang disodorkan oleh penulis; persoalan kebudayaan seperti diangkat dalam cerpen belis, persoalan kemiskinan, persoalan cinta dan sebagainya.

Pengarang akan membawa anda pada pengalaman keseharian yang semua manusia mengalaminya dengan bahasa yang sederhana tetapi membuat mimik anda berubah-ubah: merengut, tersenyum dan tertawa. Pembaca bisa menikmati Usaha membunuh Sepi ini entah ditemani kopi pada senja hari, atau di bawah pohon rindang, atau dimana saja. SELAMAT MEMBACA, sambil tersenyum-senyum.

*Tarsy Asmat, MSF adalah seorang calon imam Misionaris Keluarga Kudus propinsi Kalimantan. Alumnus STFK Sasana Widya Malang. Bermukim di Malang.

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s