Di Suatu Malam Minggu

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku,” ia berkata, pelan tapi sinis.

Saya sedang berdiri dengan sikap hormat di deretan buku-buku Eka Kurniawan. Saya baru saja menerima royalti dari penerbit. Karena sedang kaya-raya, saya mampir ke toko buku dan memborong sangat banyak judul, mulai dari cerita anak sampai filsafat, puthut sampai solstad.

Saat berjalan ke kasir, saya berhenti sebentar di rak yang menjejerkan buku-buku Eka Kurniawan; berdiri sebentar hanya untuk menarik napas panjang dan berbisik dalam hati: Suatu hari nanti, suatu hari nanti, saya akan menjadi seorang penulis besar, dan buku saya akan terpampang juga di situ.

Saat itulah ia, seorang asing yang kebetulan lewat di depan saya, berkata sinis tepat di depan hidung saya.

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku.”

Sebagai fans garis keras Eka Kurniawan, saya merasa sangat ingin menonjok wajah orang ini; membuat nyonyor bibirnya dan menarik keluar lidahnya yang laknat. Tapi karena dia perempuan cantik, perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja, saya tersenyum ramah dan mengajaknya minum kopi.

Kami duduk di tangga masuk Malang City Point, menikmati malam, orang lalu-lalang, kopi dan beberapa potong donat. Saya baru saja menerima royalti, dan starbucks tak akan membuat saya miskin.

Sesudah obrolan basa-basi tentang buku, saya bercerita tentang masa kecil saya di Timor. Bagaimana saya menunggang kuda dan berburu rusa yang turun minum di lembah. Ia menanggapi sebentar, dan bercerita tentang ibunya yang telah lama mati; bagaimana ayahnya menikah lagi dan tingal bersama perempuan yang seumuran dengannya. Tanpa kecup-selamat-malam ibunya ia menamatkan kuliahnya di fakultas sastra, bercita-cita menjadi penulis, tapi kini berakhir di meja teller sebuah bank swasta.

Malam dan kegembiraan selalu cepat berlalu. Sebelum berpisah, saya meminta nomernya dan bertanya apakah ia mempunyai pacar.

Ia tertawa.

“Pacar adalah istilah yang aneh,” katanya. “Kami berpisah delapan bulan yang lalu. Saya lebih suka membaca buku daripada berciuman. Dia lebih suka berciuman daripada membelikan buku.”

Saya tertawa.

Ia menyambung lagi, tapi dengan suara yang lebih lirih: “Waktu itu, saya pikir buku lebih asyik daripada ciuman.”

“Sekarang?” saya bertanya. “Masih berpikir begitu?”

Dia tertawa.

Malam itu, di tengah lalu-lalang orang membeli kebahagiaan, kami berciuman. Lama dan mengasyikkan. Ia mencengkeram leher saya dan menekan kukunya dalam-dalam ke kulit tengkuk saya setiap kali…

Sayang sekali, hal di atas hanya terjadi dalam imajinasi saya. Beginilah yang sesungguhnya terjadi.

Saya memang menerima royalti, tetapi jumlahnya sangat kecil. Tentu saja sebab pembaca saya sangat sedikit. Saya malah curiga saya tak punya pembaca: buku-buku itu habis diborong oleh para reseller buku indie, yang mengira kalau buku tentang kegalauan anak muda akan laris menjelang hari valentine.

Hari ini, kemungkinan mereka sedang menyesali keputusan memasok buku yang penulisnya sama sekali tak dikenal.

Karena royalti yang sedikit, saya berpikir seratus kali untuk mampir ke toko buku. Baru sampai pikiran kedua, saya sudah membatalkannya. Jika saya membeli buku, apa yang akan saya makan? Seandainya buku bisa dimakan… Selain itu, saya sangat ingin mempunyai kos – saya telah lama luntang-lantung dari kos kawan yang satu ke kawan yang lain. Meski tersenyum ramah, ada saatnya mereka menatap saya dengan rasa bosan yang tertutupi oleh sopan santun ketimuran.

Saya juga perlu menabung untuk membeli komputer. Saya merasa sebagai anak muda paling naif: lebih banyak bekerja dengan microsoft word, tapi tak mempunyai komputer. Bahkan anak paling tolol di kelas saya mempunyai laptop hanya untuk bermain solitaire atau menonton bokep.

Karena sekian banyak kebutuhan yang menghadang, saya tidak mampir ke toko buku. Karena tidak mampir ke toko buku, saya tidak bertemu perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja dan ibunya telah lama mati. Tapi, jikapun saya mampir ke toko buku, saya tak akan mungkin bertemu dengan perempuan asing yang mau menyapa saya.

Seumur hidup, perempuan asing yang menyapa saya hanya selalu terjadi di dalam mimpi. Di dunia nyata, kebanyakan perempuan asing akan membuang muka setelah melihat wajah saya – wajah Timor saya: rambut keriting berpilin-pilin, rahang dan hidung yang terlalu besar untuk pipi yang keropos dan bola mata yang tenggelam dan sedikit juling.

Itu belum ditambah rasa ngeri di wajah mereka, sebab raut saya mengingatkan mereka pada wajah perampok-pemerkosa-pembunuh dan tokoh-tokoh antagonis lain di televisi.

Saya tidak bisa menyalahkan wajah saya (tentu saya tak pernah menandatangani nota pemesanan fisik sebelum lahir) ataupun raut jijik-ngeri mereka. Saya tahu, sejak dilahirkan, kami terlempar ke dalam suatu sistem sosial yang yang punya standar ganteng-jelek-baik-jahat, yang selalu mengajari kami untuk menilai orang lain dari fisiknya.

Jika punya hidung yang mancung atau dahi yang mirip bintang iklan, kami merasa lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, kami akan menjadi malu dan tidak percaya diri jika memiliki hidung besar, rambut keriting, atau terlalu kurus, terlalu gemuk, atau punya kulit terlalu hitam.

Beberapa orang mengatakan, kami bisa saja menyelamatkan diri dari sistem brengsek itu dengan lebih banyak membaca buku. Tapi saya meragukan hal itu. Industri menyediakan terlalu banyak buku sampah dan kami hanya pasar yang selalu bergerak dari satu ketololan menuju ketololan yang lain.

Jikapun saya mampir ke toko buku dan bertemu seorang perempuan asing yang menyapa, saya tak punya cerita petualangan untuknya. Seumur hidup saya tak pernah menangkap rusa, hidup atau mati. Di masa kecil, binatang yang berhasil saya tangkap hidup-hidup adalah beberapa ekor semut hitam, yang mati sesudah saya adu kelahi dengan ribuan semut merah. Bahkan nyamuk-pun tak pernah berhasil saya tangkap: mereka mengisap darah saya tanpa ampun sampai saya kerontang.

Saya menyusuri jalanan kota yang berlubang. Asap knalpot menampar, kendaraan lalu-lalang, dan pekik klakson bersahut-sahutan. Di depan ruko-ruko, mobil-mobil parkir bertumpuk-tumpuk sampai ke bahu jalan. Malang semakin padat, tak ada tempat lagi untuk pejalan kaki.

Di balik setir, tak ada orang yang sabaran. Ini sabtu malam yang mampat; entah dari mana orang-orang ini berasal: orang-orang tolol-robotik yang hanya bisa menikmati hidup di malam minggu. (Sudahlah, mereka hanya korban peradaban).

Melintasi Malang City Point, saya melihat puluhan orang antri di starbucks, di J-Co. Saya pernah mengunyah makanan dari sana, dan buruk sekali rasanya. Orang-orang kota punya selera yang aneh. Bukan hanya soal makanan, tapi juga soal tulisan. Saya pikir, Lelaki Harimau adalah buku yang bagus, tapi Cantik itu Luka selalu ingin saya edit. Seperti Dendam masih bisa dimaklumi, tapi jika O benar-benar ditulis Eka, ia sama sekali tak layak terbit!

Advertisements

Bebas koment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s