Muhammad Asqalani on Usaha Membunuh Sepi

SETELAH begitu semangat saya membaca sejumlah novel, memoar, dan jenis buku lainnya selain puisi, sampailah saya pada diam bodoh sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu, dimana saya hampir berhenti membaca.

Dan hari ini, Usaha Membunuh Sepi, kumpulan cerpen Felix K Nesi akhirnya usai juga.

Ada 9 cerpen di dalamnya, entah cerpen ke 9 itu benar-benar milikmu (Felix), sudut pandangnya terasa aneh, tokoh utamanya laki-laki yang karena kalah pada pergumulan hidup menjadi banci, terasa jauh dari Felix sekaligus masih sekitar Felix.

Membicarakan buku setebal 79 halaman ini, saya meraba-raba tubuh Felix dalam pikiran, tubuhnya terasa nyata dan kasar, namun di lain sisi saya tak mempercayai perasaan saya bulat-bulat. Sastra, dalam kesempatan kali ini cerpen, bisa menjadi apa pun di hadapan penilaian.

Felix begitu sederhana membangun cerita, mengalir bening juga sekaligus pekat, ia melahirkan harapan-harapan bagi keputus asaan sekaligus mengaborsi mati sisa-sisa harapan.

Felix seringkali meleburkan kenyataan hidupnya ke dalam cerita -begitu seturut rabaan saya-, tentang menulis, penulis, membaca dan pembaca, lekuk kehidupan penulis dan pembaca berdamai dan berperang dan itu membuat saya kagum bahwa Felix bukan penulis yang hanya menulis.

Dalam ceritanya, bertaburan kritik sosial, keberanian menyuarakan pemahaman pemikiran, tentang rasa muak kepada penguasa, diselingi libido dan psiko(pat). Dicoraki oleh tutur khas dan gambaran sekilaa tentang di manakah itu di provinsi NTT.

Bagi saya, buku ini menakuti jiwa saya sekaligus mengajari saya jadi penulis yang bukan sekadar “manja ya, manja ya” kemudian setelah lelah bertinta disudahi dengan tumpahan bercinta haha