Rektor Unmer Malang, Kasih Kami Wifi dong Pak…

Pak Rektor yang baik. Dua tahun lalu, di lantai bawah Balai Merdeka, ada proyek apa entahlah saya tidak tahu namanya IMBIS. IMBIS ini, Pak, menjual voucher untuk wifi-an seharga Rp. 5.000,. Saya tidak pernah membeli namun lumayan laris, kelihatannya. Saat itu, untuk mengakses wifi gratis, saya dan beberapa teman dari Fakultas Psikologi suka main ke halaman depan Fakultas Hukum. Atau ke Ekonomi.

Sakit berkepanjangan lalu membuat saya mesti satu tahun meninggalkan kuliah yang tinggal sepotong. Begitu kembali ke Unmer tercinta, di Psikologi sudah ada wifi. Hore. Namanya Psiko-Center. Wifi ini dipasang tepat di kantor yang dulunya IMBIS itu, gratis untuk mahasiswa. Meski hanya menjangkau di sudut kecil itu saja, mahasiswa senang, karena untuk mengunduh jurnal-jurnal kecil, mereka tak perlu ke warnet. Bayangkan, Pak, ke warnet, biaya log-in hanya untuk mengunduh jurnal, kadang cuma Rp. 1000,. Eh, biaya parkirnya malah Rp. 2.000,. Continue reading

Advertisements

Genogram-Konsep Aku, Dosen Bahasa Inggris yang Membuang Waktu, dan Siang yang Jalan-jalan

Tujuh Oktober 2014. Pukul, entahlah. Apa waktu masih begitu penting, di hadapan kenyataan yang berjalan tanpa angka. Saya sedang tidur, dan percayalah, saya menulis ini semua di dalam kepala saya.

Yosua, Adit dan beberapa orang lain masih duduk dan bercerita entah tentang apa. Saya mendengar suara Romana Patti, menertawakan saya yang tidur. Sementara saya menertawakan tubuh yang lelah dan orang-orang yang sibuk: Anak semester 7 selalu membicarakan judul skripsi yang ditolak. Anak semester 5 menyusun modifikasi perilaku yang entah mereka pahami atau terlalu gugup di hadapan Bu Ari. Anak semester 3, apakah masih menari di dalam hati saya, atau saya memang benar telah membuang mereka.Hanya Tuhanyang tahu. Anak semester 1 Continue reading

Dosa Abraham Maslow dan Ketololan Pengikutnya

Jika anda sempat bersentuhan dengan dunia sosial-politik dan sejenisnya anda tentu pernah mendengar nama di atas: Abraham Maslow. Hell ya, saya sendiri mendengarnya, membacanya di mata pelajaran kewarganegaraan SMA dulu. Jika anda belum membacanya tanya tuh sama anak-anak FISIP. Jika anda anak FISIP yang belum membacanya, maka andalah manusia beruntung itu. Karena orang ini terutama menyesatkan anak-anak di Fakultas2 Sosial dan sejenisnya. Namun yang paling disesatkan di kampus, tentu saja anak Psikologi, siapa lagi.

Saya sedang mengerjakan pesanan Putri Continue reading

Yudisium Psikologi Unmer 2014 dan Dajjal yang Berkeliaran

Semalam saya bertemu Muftihaturahma di asrama Hassanudin-Makassar. Dia memegang pundak saya – sebenarnya saya lupa apa dia benar memegang pundak saya atau itu hanya ilusi belaka – sambil bilang : Besok saya yudisium, Lix! Ah ya, telah saya dengar dari Adit, angkatan 2011, bahwa besok ada 19 mahasiswa Psikologi yang diyudisium. Saya gak tahu berapa orang dari angkatan 2010 yang diyudisium, namun, hell, yah, mereka itu angkatan saya! Continue reading

Tingkat Stres Mahasiswa Semester VI Fakultas Psikologi Unmer Malang saat Kuliah Siang Hari

Lebay amat judulnya!

Kuliah siang hari adalah momok. Apa itu momok? Momok menurut KBBI adalah hantu (untuk menakut-nakuti anak). Lets start it again. Kuliah siang hari adalah hantu yang menakut-nakuti anak-anak. Siang-siang, jamnya boci, terus mesti dengerin dosennya ngomong. Apalagi kalau sudah siang, suara dosennya pelan, AC-nya kencang, hadeh… Saya mengalami tiga kutukan itu saat iseng ikut kuliah Hukum Bisnis di Fakultas Ekonomi setahun yang lalu: saya tidur sangat nyenyak, suara dosen adalah lulaby. Continue reading

Surat Buat Rektor Universitas Merdeka Malang

Bapak Rektor yang baik,

Saya kemarin mengikuti Laporan Pertanggungjawaban Bapak dan diskusi-diskusi Bapak dengan mahasiswa – anak muda yang semangatnya menyala-nyala. Saya perlu mencatat bahwa saya memang tak betah hadir dan ikut nimbrung, karena ruang-ruang pertanggungjawaban seperti demikian tidak begitu saya betahi. Ruang dimana terjadi offense-defense. Yang satu nyerang yang lain defense, ntar muter, ngomong data, debat cari siapa benar siapa salah dan sebagainya. Entahlah mungkin saya yang memang tak berminat dengan hal begituan. Kalau berminat tentulah saya akan memilih Fakultas Hukum atau mendirikan UKM Continue reading

Perang Bunyi Anak Kost: Agresivitas, Narsisme, sampai Mental Koruptif

Pernahkah anda mendatangi sebuah kos yang ramai musiknya? Anak di kamar sebelah membuka lagu rock, di sebelahnya memutar lagu dangdut, sebelahnya lagi memutar Iwan Pals, sebelahnya memutar lagu dari daerahnya yang kadang hambar di telinga; dan semuanya sama memutar dengan volume full abis.
Sehingga anda merasa seolah sedang berada di pasar loak yang menjual alat elektronik dan VCD bajakan. Benar-benar ramai.

Keramaian bunyi yang berebutan masuk ke telinga tersebut sangat bagus, sekaligus menyiksa. Bagus, karena kita disuguhkan beberapa aliran musik gratis dalam satu waktu yang bersamaan. Menyiksa, karena telinga kita hanya dua, dengan gendang yang pas-pasan sementara suara-suara berebutan masuk dengan bass yang sangat kencang. Demi Usi’ Koko yang menumbuhkan padi di sawah, mengapa orang setega itu menyiksa kita?

Ada beberapa penyebab. Yang pertama tingginya agresivitas orang yang memutar musik. Ada banyak faktor yang menyebabkan perilaku agresif namun dalam topik ini saya lebih tertarik pada faktor yang disajikan Taylor Taylor, dkk (2000): adanya serangan (attack) serta frustasi. Serangan merupakan salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab agresif. Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh suatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, penghargaan atau tindakan tertentu.

Dalam hal ini, bentuk serangan yang dilancarkan adalah serangan suara yang berlebihan kepada telinga orang-orang di sekitarnya. Seorang anak kos mulai membuka musik country dengan volume tinggi, menyerang telinga tetangga kosnya. Tetangga kos tersebut yang menyerang balik dengan membuka lagu Iwan Fals, sama kencang. Tetangga lain lagi membuka lagu lain lagi dengan lebih keras lagi. Maka bila anda sedang frustasi, entah putus cinta atau apapun itu, usahakan membuat pelarian yang lebih pantas dan tidak agresif.

Yang kedua, terdapat ciri narsisme pada jenis orang ini. Mereka merasa telah mempunyai selera musik yang paling bagus, atau lagu baru yang paling bagus, atau perangkat sound system yang paling bagus sehingga perlu dipamerkan kepada tetangga kosnya. Dan dalam tingkatan narsisme mereka ini paling parah, karena mereka memamerkan hal yang sama berulangkali dalam jangka waktu yang panjang, sebulan, setahun, dua tahun, dan seterusnya. Jika Narsisius masih hidup bisa jadi ia kalah narsis.

Yang ketiga mental koruptif yang ada di kepala pemutar musik. Hal terakhir ini erat kaitannya dengan film dokumenter Di Balik Frekuensi. Gelombang yang menghantarkan suara adalah milik publik, milik semua orang. Namun si pemutar lagu ini dengan egonya berusaha untuk merebut tiap Hz dari gelombang tersebut untuk menjadi miliknya pribadi. Astaga, egois sekali! Orang-orang ini karena mempunyai modal (musik dan perangkat sound system), seenaknya menggunakan fasilitas (gelombang) yang seharusnya merupakan milik bersama, digunakan untuk kepentingan egonya. Ini manusia-manusia kapitalis yang koruptif.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait penyebab mereka melakukan hal ini, namun sampai saat ini asumsi saya adalah kurangnya perhatian, yang meningkatkan naluri agresif-narsistik. Mereka menyerang biar mendapat perhatian. Juga berusaha meng-korupsi gelombang bunyi: biar musik mereka yang paling didengarkan, diperhatikan. Sigmund Freud himself akan menunjuk wajah orang ini dan menggolongkannya dalam orang-orang yang mengalami proses fiksasi. Kemungkinan konsep diri mereka sangat buruk. Atau mereka dididik tanpa toilet training yang baik, atau dengan fase oral berantakan. Atau, entahlah. Apakah mereka diberi ASI?