Muhammad Asqalani on Usaha Membunuh Sepi

SETELAH begitu semangat saya membaca sejumlah novel, memoar, dan jenis buku lainnya selain puisi, sampailah saya pada diam bodoh sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu, dimana saya hampir berhenti membaca.

Dan hari ini, Usaha Membunuh Sepi, kumpulan cerpen Felix K Nesi akhirnya usai juga.

Ada 9 cerpen di dalamnya, entah cerpen ke 9 itu benar-benar milikmu (Felix), sudut pandangnya terasa aneh, tokoh utamanya laki-laki yang karena kalah pada pergumulan hidup menjadi banci, terasa jauh dari Felix sekaligus masih sekitar Felix.

Membicarakan buku setebal 79 halaman ini, saya meraba-raba tubuh Felix dalam pikiran, tubuhnya terasa nyata dan kasar, namun di lain sisi saya tak mempercayai perasaan saya bulat-bulat. Sastra, dalam kesempatan kali ini cerpen, bisa menjadi apa pun di hadapan penilaian.

Felix begitu sederhana membangun cerita, mengalir bening juga sekaligus pekat, ia melahirkan harapan-harapan bagi keputus asaan sekaligus mengaborsi mati sisa-sisa harapan.

Felix seringkali meleburkan kenyataan hidupnya ke dalam cerita -begitu seturut rabaan saya-, tentang menulis, penulis, membaca dan pembaca, lekuk kehidupan penulis dan pembaca berdamai dan berperang dan itu membuat saya kagum bahwa Felix bukan penulis yang hanya menulis.

Dalam ceritanya, bertaburan kritik sosial, keberanian menyuarakan pemahaman pemikiran, tentang rasa muak kepada penguasa, diselingi libido dan psiko(pat). Dicoraki oleh tutur khas dan gambaran sekilaa tentang di manakah itu di provinsi NTT.

Bagi saya, buku ini menakuti jiwa saya sekaligus mengajari saya jadi penulis yang bukan sekadar “manja ya, manja ya” kemudian setelah lelah bertinta disudahi dengan tumpahan bercinta haha

Pemburu Kepala Manusia

(Artikel ini diterjemahkan dari catatan perjalanan Theodora — lengkap dengan foto-fotonya. Anda bisa melihat versi aslinya di sini.)

Kores memegang senjata ayahnya dengan bangga. Sebilah kelewang pendek yang terbungkus dalam kain tenun-ikat, dan dua bilah tombak kayu yang kasar.

kelewangTatapannya telah memudar – sebelah matanya menutup, lenyap seperti gigi-giginya. Ada sebuah gondok di bagian belakang tengkoraknya yang lebih besar dari lingkar pipinya.

Ia tak bisa lagi mengunyah sirih-pinang. Ia menumbuk bebijian itu di dalam sebuah tabung besi kecil, sebelum memasukkannya ke mulut untuk menyenangkan gusinya.

“Apakah ayahmu memenggal juga kepala perempuan dan anak-anak?” aku bertanya. “Atau hanya laki-laki?”

“Anak-anak?” ia mengulangi, dan menatap menantunya untuk memastikan. “Lebih baik menantu saya saja yang bercerita; ingatannya masih kuat.”

Andreas, menantu Kores, yang tampak bercahaya dalam balutan kaos merah yang mengiklankan tas plastik, dan sebuah sarung kemerahan – semerah noda sirih-pinang di bibirnya, angkat bicara. Selain menguasai Bahasa Indonesia dengan lebih baik daripada ayah-mertuanya, ia juga bisa menulis. Sebenarnya, ia baru saja tiba dari sebuah pertemuan adat, menenteng sebuah buku catatan. Dua anaknya yang kecil-kecil menyembunyikan kepala mereka ke dalam sarungnya, mendongak dari waktu ke waktu; dua orang penyusup berwajah pucat.

“Tidak,” katanya. “Kami tak pernah mengambil kepala anak-anak. Sudah delapan generasi tidak pernah. Delapan generasi…” ia berhenti sebentar untuk membuang ludah merah sirih-pinang, “Kami hanya mengambil kepala laki-laki dewasa.”

Asap dari tungku menampar wajah Z. Z terbatuk-batuk.

Keluarga itu terlihat keheranan. Asap sama sekali tak mengganggu anak-anak di kampung ini. Mereka telah terbiasa kena asap sejak lahir.

Kami sedang berada di Timor – Indonesia Timor – di sebuah kampung bernama Nome, yang diduga adalah kampung pemburu-kepala terakhir yang masih bertahan.

Ini tempat yang tak biasa. Pondok-pondok berbentuk sarang tawon yang pendek dan melingkar, diatapi alang-alang yang telah menghitam sampai ke tanah karena asap, berjejer di atas tanah liat yang cerah, dikelilingi pohon-pohon lontar dan, anehnya, pohon kayu putih.

Posisinya menunjukkan betapa kampung ini pernah menjadi sebuah kampung dengan benteng yang menakjubkan.

Sebuah pagar tembok dari batu karang yang bergerigi, yang telah dihancurkan untuk jalan dan pagar ladang, berdiri setengah meter tingginya, meski pernah berdiri setengah meter lebih tinggi lagi. Pola dasar kaktus liar berbaris di atasnya, sisa-sisa pagar kokoh, sejenis kawat duri alami.

Tebing menjulang setinggi 60 atau 70 meter di tiga sisi kampung ini, ditutupi pepohonan yang menjadi perisai pertahanan, sekaligus menawarkan pemandangan yang luar biasa.

“Ini adalah tempat mereka merencanakan penyerangan,” Aka, pemandu kami, menjelaskan, saat kami berdiri di panggung kecil yang teduh tempat para pemburu mengadakan pertemuan. “Jika mereka datang dari utara, mereka menunjuk sebatang tongkat ke arah utara, dan jika jarinya tak mencapai tengah, orang itu akan mati.”

Salah satu dari pemuda-pemuda kampung itu memeragakannya, memutar-mutar tongkat itu dan menjulur-julurkan tangannya.

 “Hanya begitu saja caranya?” aku bertanya.

“Tidak,” ia menjawab, “ Mereka bisa mencoba lagi kedua kalinya. Jika kembali gagal, mereka mencari jawabannya di dalam telur. Jika ada darah di dalam telur, laki-laki itu akan mati.”

Aku mengangguk. Kami mengambil foto di dekat sejenis tiang takhta di bawah cengkaman pohon ara. Pohon yang disucikan di seluruh Asia – di banyak tempat, mereka menyebutnya pohon Budha – dan menjadi rumah untuk para pendahulu suku.

(It is, as they say, a far cry from Kensington. Or Hackney, for that matter.) (Saya sonde mengerti konteks kalimat ini, penerj.)nome-timor-kids

Di luar pondok baru mereka, istri Kores tersenyum lebar dan menyodorkan semangkuk ubi jalar, umbi berwarna pucat yang masih segar dari tanah merah. Aku mengambil satu, mengupas dan menggigitnya. Sangat lezat.

“Apa yang kemudian mereka lakukan dengan dengan kepala-kepala itu?” Z bertanya.

Aku mengulanginya, dan Aka menerjemahkannya dalam Bahasa Dawan. “Apa yang kemudian mereka lakukan dengan kepala-kepala itu? Lalu, bagaimana dengan tubuh-tubuh tak berkepala itu?”

“Raja mengambil kepala-kepala itu. Raja Nope. Para ksatria menunggui kepala-kepala itu empat hari empat malam, lalu mereka memberikannya pada raja.”

“Tubuhnya?”

Mereka meninggalkan tubuhnya di sana.”

“Apa yang kemudian dilakukan kepala-kepala itu?”

“Tuan raja! Tuan raja menyimpannya.”

“Apa yang terjadi pada kepala-kepala itu sesudah mereka tidak diizinkan untuk berburu kepala lagi?”

Hening. Tak ada yang tahu.

totem

Saat mereka menceritakannya – siapa yang tak menceritakan kisah leluhurnya dengan baik? – perburuan kepala di Nome terdengar seperti ritual yang positif dan dihormati.

Seorang lelaki sudah harus mencapai usia empat puluh untuk diizinkan berburu kepala manusia. Hanya lelaki-lelaki terkuat yang bisa ikut berburu kepala – sebuah praktek yang, dalam istilah evolusi, terdengar seperti cara menentukan pemimpin .

Ksatria-ksatria yang terhebat, seperti tiga orang bersaudara yang terkenal, Oni, Boi dan Kao, akan dianugerahi pangkat “Meo” – ini seperti pencarian para ksatria di abad pertengahan.

“Di mana kampung lain yang berburu kepala manusia di sekitar sini?”

“Hanya Nome.”

“Jadi, tak ada kampung lain yang berburu kepala orang? Hanya kalian?”

Hanya mereka. Hanya ksatria-ksatria mereka yang memburu kepala pria di kampung yang lain. Meski begitu, ada dua kerajaan lain di wilayah ini yang mempunyai pemburu kepala juga – begitu kata mereka kemudian.

Saat ksatria memasuki kampung, kepala-kepala bergantungan di bahu mereka, darah mengental di sekitar leher-leher yang telah terpotong itu, dan seluruh penduduk kampung, laki-laki, perempuan dan anak-anak, akan merayakannya, makan, minum dan menari di dalam benteng.

Kebanyakan rumah di kampung ini masih berdiri seperti adanya di masa perburuan kepala manusia. Sentuhan modernitas di tempat ini lebih sedikit, dibandingkan dengan rumah-rumah panjang di Borneo.

pondok

Tak perlu dipertanyakan lagi, ini adalah strategi pertahanan yang bagus.

Z, di usianya yang sepuluh tahun, hampir sama tingginya dengan laki-laki dewasa di kampung ini, harus membungkuk dua kali lipat saat ingin masuk ke dalam pondok tawon itu. Di situ, di pondok itu, seorang ksatria pemberani mati secara mengerikan dan dalam ketakpantasan.

Apakah begitu cara hidupnya hidup?

Well, pondok bundar ini memiliki diameter kurang lebih tiga meter. Tinggi pintunya kurang dari satu meter. Langit-langitnya satu meter lebih sedikit dari atas permukaan tanah. Di kasau-kasaunya, tergantung bulir-bulir jagung yang diasapi di atas tungku api; tungku api yang memanggang seisi ruangan itu sampai hitam berjelaga.

Di situ tidak ada jendela. Tidak ada cerobong asap. Saat pintu ditutup, asap merembes keluar melalui celah-celah pintu dan setiap celah alang-alang yang terlepas di atap.

Saat seorang bayi lahir di kampung ini, ari-arinya dikuburkan di lantai pondok, dan ditutupi dengan sebuah batu besar pipih.

Ibu dan bayinya harus menghabiskan empat puluh hari empat puluh malam pertamanya hanya di dalam pondok saja, diasapi seperti ikan kering – dan sebagai seorang perokok, saya tidak dengan asal saja memilih frasa ini.

“Ya Tuhan,” Z terlonjak, “Pasti sangat besar tingkat kematian bayi di sini. Bayangkan semua kutu, serangga dan penyakit yang ada di dalam sana.”

“Tidak,” Aka berkata, “Kaulihat anak-anak kampung itu? Mereka sehat dan kuat.”

Kelihatannya begitu. Mereka adalah anak-anak paling beringus yang pernah kulihat di Indonesia, kemungkinan besar diakibatkan oleh terlalu banyak menghirup asap, meski tentu saja mereka tidak lebih beringus dari bocah-bocah di sebuah kelas Bahasa Inggris musim panas.

Tapi mereka berlarian ke sana kemari dengan kuat dan gembira, anak-anak yang periang.

nome-timor-little-girl-and-her-brother

Perburuan kepala manusia di Nome dihentikan tahun 1942, cerita dilanjutkan kembali. “Saat kemerdekaan,” begitu Kores menjelaskan.

Dalam logika seorang Eropa, tentu saja angka tahun itu mengagetkan. Aku menghitung kemerdekaan Indonesia dimulai di tahun 1945. Saat Perang Dunia II berakhir, Jepang pergi dan pemerintahan baru memproklamasikan kemerdekaan (meski Belanda tidak mau menyerah sampai tahun 1949).

Orang-orang ini menghitung kemerdekaannya dimulai sejak Jepang menghalau bangsa Belanda di tahun 1942. Hidup di komunitas ini membuat memori mereka terlambat lima tahun.

“Kenapa dihentikan?” aku bertanya.

“Tidak diizinkan,” ia menjawab.

“Polisi?” Aku bertanya.

Ia diam lagi dan investigasiku mengalami kebuntuan.

Aku menduga – dan ini adalah murni dugaan tak berdasar – bahwa pemimpin Indonesia di masa sesudah kemerdekaan diam-diam berbicara dengan raja mereka, mengatakan bahwa perburuan-kepala-manusia  tidak bisa dilakukan dalam pemerintahan modern…

Tampaknya, perburuan kepala ini, jujur saja, tidak mengganggu pemerintahan Belanda. Kita sendiri telah mempelajari, bahwa di Kepulauan Rempah ini, seseorang dapat melakukan pembunuhan massal hanya untuk membalaskan kematian anjingnya. Bahkan, beberapa kelompok masyarakat di timur Indonesia tidak mengenal hukum lain di luar hukum adatnya, sering hingga beberapa dekade sesudah kemerdekaan.

interior-pondok
Foto dari dalam pondok/ume kbubu yang berlubang (keterangan oleh penerjemah)

Saya tidak yakin apa yang membuat saya dan Z merasakan sesuatu. Yang jelas, bukan persoalan perburuan kepala yang mengganggu kami. Ya, bagaimanapun juga, itu cukup bisa diterima sebagai cara hidup seorang ksatria.

Ini masalah asapnya!

Beberapa hari di Indonesia Timur, kami telah pernah tidur di bawah para-para dari papan tempat penampungan daun kelapa, di atas karung beras di sungai yang telah mengering, kencing di semak dan cebok dengan dedaunan, menyaksikan kerbau dikurbankan dan para pria saling hantam sampai mampus dengan tanduk kerbau, dan bertemu para pemburu-peramu nomaden, yang ke mana-mana membawa sihir mereka dalam sabuk rotan.

Kami bisa melihat sisi pesona dari gaya hidup seperti itu. Itu sesuatu yang berbeda, tentu saja. Tapi masih bisa dipahami.

Namun pengasapan di dalam ruangan gelap ini? Ini sama sekali tak bisa dipahami.

Di dunia ini, ada beberapa orang yang memilih untuk hidup dengan cerobong asap, atau paling tidak berusaha mengusir asap dari kediaman mereka.

Di sini, kita disambut di dalam pondok yang seperti sarang tawon, duduk di ruangan gelap yang hanya diterangi lampu minyak kecil: tungku untuk memasak dan sebuah periuk hasil improvisasi dari kaleng biskuit tua terletak di salah satu sudut, dan ada sebuah balai-balai kecil tempat anggota keluarga tidur bertumpuk-tumpukan.

Keluarga-keluarga di Nome bisa – dan mampu – membesarkan delapan atau lebih anaknya di dalam liang kecil ini, meskipun beberapa dari mereka mulai menambahkan ke dalam gaya hidup tradisional mereka, sebuah pondok yang lain lagi, yang berbentuk persegi panjang dan memiliki tempat terbuka untuk memasak.

Keluar dari pondok itu, mata kami beradaptasi kembali dengan matahari yang bersinar terang dan kami duduk sebentar dengan para perempuan kampung, lalu menyodorkan sirih-pinang yang kami bawa. Sirih-pinang dikunyah dengan sedikit kapur yang terasa pedas; itu membuat nadi berdetak lebih cepat, meningkatkan laju berpikir, membuat mulut terasa kering.

mama-merokokAku menyodorkan sirih-pinang dan membagikan rokok. Seorang perempuan dengan struktur tulang yang mempesona, yang memiliki wajah model tahun 1930-an dengan sebuah jaket bekas menggantung longgar di atas sarung-ikatnya, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke arah matahari.

Keriuhan terjadi. Semua orang – perempuan dan anak-anak – ketawa ngakak terguling-guling.

“Apanya yang lucu?” Z bertanya.

“Gak tahu,” aku menjawab. “Mungkin karena perempuan itu merokok, dan perempuan di sini tidak diizinkan merokok.”

Dan saat kami berboncengan pulang ke (never-ending sprawl of) Kefamenanu, kota kecil terbesar di Indonesia, hampir 4000k tertempuh sepeda motor kami, dan sebelum kami menaikkannya ke kapal untuk bertolak ke Papua, pikiran kami seperti bergentayangan tak tentu arah, hilang dari kepala kami.

Yang mengesankan kami adalah asap. Kegelapan. Lelucon yang terlalu sederhana untuk dipahami. Kesederhanaan hidup tak terbatas di antara suku-suku pedalaman.

Di daerah Timor Tengah, relatif hanya sedikit orang yang berbahasa Indonesia. 
Aka Nahak tinggal di Kefamenanu, menguasai bahasa Dawan, Belu dan Tetun, 
juga bahasa Inggris yang baik; ia bisa dihubungi di timorguide@gmail.com 
atau langsung ke HP-nya +62 (0)852 5346 3194.

(Theodore dan Z atau Zac adalah ibu dan anak yang berkeliling dunia sejak bulan Januari 2010. Selebihnya tentang mereka bisa anda baca sendiri di sini.)

Berita dari Kurawan, Cerita dari Wartawan

 

 

kholid-novel-57100ae2f47e61f3227f8c99

Judul               : Berita dari Kurawan

Penulis             : Kholid Amrullah

Cetakan           : Pertama, April 2016

Penerbit           : Dream Litera

Tebal               : 226 hal., 14×21 cm

ISBN               : 978-602-1060-58-2

 

Apa yang paling ditunggu di dunia ini selain kabar? Penggalan pertanyaan dalam novel ini kemungkinan bisa menjawab pertanyaan mengapa Kholid Amrullah konsisten menjadi pengabar (baca: wartawan) dan kemudian menulis novel berlatar kehidupan para pengabar: Surat dari Kurawan.

Lewat tokoh Panca dan Salman, dua orang wartawan dari dua surat kabar yang berbeda di kota Kurawan, Surat dari Kurawan bercerita tentang lika-liku kehidupan wartawan. Bagaimana Panca, seorang wartawan yang telah berkeluarga, yang memiliki seorang isteri yang cerewet dan agresif (tiba-tiba isterinya terbangun dan langsung menampar wajah Panca; hal. 15), juga seorang puteri yang masih cadel dan butuh susu, harus mengejar berita, sampai kerap berurusan dengan preman yang dipekerjakan penguasa dan amplop-amplop tebal berisi uang sogokan.

Di depan para preman, jelas Panca belajar untuk berhati-hati. Tapi di depan amplop, dorongan antara menerima dan menolak sama-sama kuat. Jika ia menerimanya, maka “penanya akan bengkok-bengkok, lalu patah tak bertuah”. Tapi jika ia menolaknya, gajinya wartawan sangat kecil dan handphone–nya terus menerima pesan singkat: “Mas, susu anak kita habis…” Dalam kata pengantarnya untuk novel ini, Yusri Fajar menggambarkannya sebagai “pilihan-pilihan yang harus dia renungkan melalui mata batinnya: menuliskan dan mengungkap kebenaran, atau membiarkannya hilang tanpa jejak dan tulisan”.

Selain Panca, ada juga Salman, wartawan yang lebih sering galau bukan sebab urusan rumah tangga, tapi sebab urusan cinta. Bukan cerewetnya isteri atau susu anak yang menganggunya, tapi guyonan teman-temannya: Jodohmu telah mati! Bagaimana mungkin bertemu jodoh yang telah mati? Usianya hampir kepala tiga, tapi belum jua ia menemukan seorang perempuan yang bisa mengomelkan uang belanja. Perempuan terakhir yang ia cintai hanya memanfaatkan dirinya untuk mengetik skripsi. Di hari wisuda, perempuan itu malah bersanding dengan lelaki lain. (Betapa melas-nya!)

Dalam kegalauannya itu, Salman kemudian bertemu dengan Karina, dan mereka saling jatuh cinta. Tentu saja permasalahan hati yang ia hadapi ini cukup jauh dari urusan profesionalitas (urusan hati tak berhubungan langsung dengan dorongan menerima suap atau tidak, seperti urusan ekonomi yang dialami oleh Panca), sehingga tanpa kesulitan apa-apa Salman bisa membuat tulisan tentang korupsi pejabat-pejabat di kabupaten Pakunden.

Namun, masing-masing orang mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, dan Berita dari Kurawan dengan lihai membikin kaitan, bagaimana idealisme dan profesionalitas yang diusung Salman, wartawan muda yang malang dalam cinta itu, berujung pada perginya Karina. Karina meninggalkannya dan membencinya. Oh, jika kamu mengira bahwa Karina pergi karena Salman terlalu idealis dan profesional dalam kerja sehingga mengabaikan Karina, kamu salah, tentu saja. Masalahnya lebih pelik dari itu. Salman tidak sibuk-sibuk amat. Mereka selalu bertemu setiap minggu, dan Salman adalah lelaki romantis yang juga suka menulis puisi. Ia sangat sering membikin bait-bait puisi. Lewat tokoh Salman ini, kita bisa menemukan Kholid yang seorang penyair:

Pada wajahmu kulihat kabut tipis

Tersangkut di juntai sehelai alis

Mendesakku memendam rindu yang juga tak habis

Singkatnya, lewat kehidupan dua tokoh ini, Panca dan Salman, kita diberi kesempatan mengintip kehidupan para wartawan, kisah-kisah para wartawan yang kadang tidak kita ketahui. Bagaimana mereka berhadapan dengan para penguasa, penguasa yang lebih sering bekerja dengan uang dan preman, ketimbang dengan nurani.

Di salah satu bagian ditampilkan bagaimana wartawan menghadapi teror preman-preman bayaran, dan salah satu gaya teror yang menarik adalah teror lewat pesan singkat yang disebut sebagai teror yang halus: “Banyak teman banyak rezeki. Kita tidak tahu sampai kapan umur kita”. Saya membaca penggalan kalimat itu berulangkali dan sama sekali tak paham di mana sisi terornya. Bagi saya, saya yang tidak terbiasa berkomunikasi dengan ‘bahasa’ preman, menganggap kalimat itu sama sekali bukan kalimat teror. Bagi saya, itu hanya pesan motivasi belaka, mirip-mirip penggalan pesan yang sering diucapkan motivator-motivator di televisi. Tapi, sayang, itu benar-benar adalah teror!

 

Kabar dari Bawah

Kisah-kisah para wartawan ini berkelindan dengan kisah-kisah masyarakat bawah yang melatarinya. Kehidupan masyarakat bawah menjadi hal menarik dalam novel ini, dengan ditampilkannya sebuah warung milik Mbok Jinah di tepi jalan di tengah kota Kurawan; warung kecil berdindingkan kain dan anyaman bambu, tempat orang-orang kecil kerap datang untuk makan (dan mengutang) juga tempat wartawan-wartawan berkumpul dan berdiskusi.

Dari warung itulah biasanya beredar cerita demi cerita, dari mulut ke mulut, mulai dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal. Tentu saja tempat seperti itu lazim ada di seluruh Indonesia, dan telah diceritakan oleh banyak buku, tapi Berita dari Kurawan menyiratkan satu hal penting, bahwa tempat-tempat seperti itu lambat laun akan hilang satu persatu oleh penggusuran.

Dalam Berita dari Kurawan, salah satu cerita yang tak masuk akal – tapi sering beredar dalam luas di dunia nyata – adalah kisah tentang bus hantu yang membawa orang dari Probolinggo ke Terminal Bungurasih hanya dalam waktu 2 menit. Atau seorang kakek di Ponorogo yang ingin mencangkul di sawah, tapi dalam perjalanannya diajak naik sebentar dalam angkutan – hanya sebentar – dan tahu-tahu diturunkan di Blitar. Juga Mbok Jinah yang tiga hari lamanya diajak pergi seorang perempuan cantik-misterius berkeliling ke Malaysia dan Singapura.

Cerita-cerita seperti itu telah terbiasa beredar dan biasanya menggemparkan selama berhari-hari, sebelum akhirnya ditutup oleh cerita yang lain lagi. Termasuk, jika ada cerita tentang korupsi para pejabat yang dimuat dalam koran, nasib cerita itu sama, bergerak dari mulut ke mulut dan menyebar bak virus; dari kuli bangunan ke tukang bakso, tukang bakso ke tukang ojek dan ke orang-orang kecil lain-lain. Hal-hal seperti ini dikemukakan dengan rinci dalam Berita dari Kurawan, sehingga kemudian dengan sendirinya kita bisa melihat sebuah kekuatan masyarakat bawah; sebuah kekuatan besar, sangat besar, seperti yang dituliskan dalam novel ini: Jika kelompok marginal membuka mulut, orang tulipun akan mendengar, orang tidurpun akan bangun.

Subtitle The Principle of Lust (2003) untuk Massa-rakat yang Suka Nonton Film

2

The Principle Of Lust (2003) ditulis dan disutradarai oleh Penny Woolcock. Penny ini seorang single-mom yang sejak muda membikin teater dengan pementasan-pementasan radikal dan sekali-dua ditahan polisi.

1

Konfliknya sederhana, menceritakan tentang Paul (Alec Newman), seorang penulis kere yang jatuh cinta pada Juliette (Sienna Guillory). Lalu si Paul ini makin akrab dengan teman barunya, Billy (Marc Warren), yang punya pacar bernama Hole (siapa dia son tau saya). Billy ini ternyata punya segudang hobi atau kebiasaan mengerikan (mengerikan yang dimaksud di sini bukanlah horor psikopat bunuh2 orang, tapi kenakalan2 yang kecil dan… helah, nonton sendiri saja); menabrak semua kebiasaan hidup tanpa ampun. Dia punya aturan sendiri, suka mengambil resiko2 besar yang kadang membahayakan. Su begitu, dia ajak-ajak Paul le. Lalu petualangan dimulai. Hoho… Ini ni yang tidak sederhana.

b

Dua atau tiga bulan yang lalu, saya menonton film ini. Saat saya tertawa-tawa ngeri di bagian yang lucu, teman saya, Si Ogin anak Flores (MOF ka?) yang kebetulan lewat bilang: “Om Felix, nonton ajak-ajak ko…” Saya mengajaknya tapi subtitlenya dalam Bahasa Inggris dan dia tidak mengerti. Kami mencari yang berbahasa Indonesia tapi tidak menemukan satupun.Biasalah, di Indonesia, film yang agak nakal sedikit pasti tidak terkenal. Yang terkenal tu paling ya Mars Perindo. Sakit hatiku, Mas Har… Tapi ini film keren, pemutaran perdananya sebelum di-rilis itu diadakan di International Film Festival Rotterdam (IFFR).

5

Maka demi teman saya ini, dan demi seluruh massa-rakat (massa-rakat itu sebutan untuk anak-anak NTT di perantauan, ed.) yang juga suka nonton film, saya terjemahkan secara manual. Saat mengetiknya, saya pikir, karena yang menunggu terjemahan saya ini adalah Ogin dan beberapa massa-rakat baiknya saya terjemahkan saja langsung ke bahasa mereka. Maka jadilah, subtitle The Principle Of Lust (2003) dalam bahasa rakat bisa anda download di sini. Atau di sini.a

Sedangkan Film kece itu bisa anda donlod di sini kayaknya. Coba cek? Kalau tidak ada coba cek di situs2 penyedia film gratisan kesayangan anda 😀

Sastra(wan/i) NTT dan Potensi Blunder

  1. 16 Juni itu ulang tahun sastra NTT. Dijadikan begitu after ulang tahun Gerson Poyk. Eh, benar toh 16 Juni?
  2. Sejak Yohanes Sehandi mulai membuat perumusan serius tentang Sastra(wan) NTT, topik itu menjadi hangat. Lebih banyak diskusi-diskusi serupa.
  3. Ada buku mengenal sastrawan NTT. (Btw saya dikirimi satu sama Pak Yohanes.) Bahkan baru-baru ini, dalam sebuah tulisannya Pak Yohanes menulis tentang sastrawati NTT. Ada 8 atau 9 kalau tidak salah.
  4. Yang mau saya bahas adalah potensi blunder yang mungkin akan datang dengan perumusan hal-hal seperti itu.
  5. Blunder pertama adalah soal pengkategorisasian sastrawan di NTT. Yang pertama, anak-anak muda bisa saja tumbuh gigi ambisinya untuk menjadi atau sebut saja untuk ikut disebut sebagai sastrawan. Kedua, pengkategorisasian ini tidak jelas –IMHO, asal dilihat menghasilkan tulisan, disebut sastrawan. Ketiga, kalopun mau ada kejelasan kategorisasi, masih akan ada perdebatan serius dan panjang ttg standar kategorisasi itu. Dan seperti yg sudah-sudah, perdebatannya akan berputar di siapa sastrawan siapa bukan dan kenapa karyanya disebut sastra, siapa yang menahbiskan dan menjadikan dia disebut sastrawan.
  6. Blunder kedua, perumusan Sastra(wan) NTT bukan tidak mungkin membikin kerdil sastra itu sendiri. Saat orang bicara tentang sastra, yang ada di kepalanya adalah pengkotak-kotakkan dan bagi saya itu hal yang sama sekali tidak perlu. Ini sastra A, itu sastra B. Penyebutan “Sastra Indonesia” saja sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa penulis. Eh, kita malah bikin kotak yang lebih kecil: Sastra NTT. Saat omong ttg sastra, mari kita omong tentang sastra itu sendiri. Mari kita omong misalnya bahwa lewat sastra, Joko Pinurbo mau omong apa. Lewat sastra Mario Lawi mau omong apa. Han Kang mau omong apa. Milan Kundera mau omong apa. Maria Pankratia (em) mau omong apa. Jhumpa Lahiri mau omong apa. Ricky Ulu mau omong apa. Mo Yan mau omong apa. Dicky Senda mau omong apa. Gogol mau omong apa. Unu Ruben. Ragil Sukriwul. Toni Morison. Fransiska Eka. Charles Dickens. Mezra Pellondou. Dacia Maraini. Afriyanto Kein. Voltaire. Dede Aton. Bukowski. Marsel Robot. Dan lain lain lain. Poinnya tetap: sastra! Bukan lagi sastra pedalaman, sastra perlawanan, sastra NTT, sastra Jawa, sastra… Secara pribadi saya muak tiap ada kotak di depan saya: termasuk kotak televisi, kotak sabun dan sebagainya. Ayolah. Bedanya hanya kita masih belajar dan dong su penulis mapan atau su mati. Dong mati, tapi ide/gagasan akan bertahan dan tiap generasi berdialog dengan ide-ide atau gagasan-gagasan itu. Ayo bicara di tataran itu, buat apa le bicara kami dari sini maka…
  7. Penyebutan sastra yang begini bisa jadi akan memunculkan stereotip. Karena dia NTT, tulisannya tentu hanya seputar sabana, kuda, lontar, karang, paus, jagung… Dan, anak-anak muda yang baru belajar menulis pun akan terjebak untuk hanya tulis tentang itu saja.
  8. Bukan tidak mungkin sampe mati kita tengkar sendiri2. Saat masih main facebook Mario F Lawi (semoga selalu sehat) kerap mengomel soal sastra NTT yang seperti katak dalam tempurung. Saya pikir walaupun ada yang gerah karena menangkap nada sombong di pernyataan Mario ini, kita mesti lihat lebih jauh sebagai kritik yang memang terjadi, dan, kalau tidak hati-hati, akan terjadi lebih parah lagi, seiring pembentukan Satra NTT lengkap dengan ulang tahunnya.
  9. Beberapa poin di atas itu potensi yang bakal terjadi. Kalau tidak hati-hati, pasti terjadi — bisa jadi lebih parah dari perkiraan yang ada. Pasti itu. Lihat saja.
  10. Di atas itu semua, saya menghargai kerja dokumentasi dan usaha beberapa orang untuk memajukan sastra di NTT. Fiuh, saya harus jujur bahwa kalimat “usaha memajukan sastra” adalah salah satu omong kosong lain yang tak kalah seru. Menulislah kalau kau memang suka menulis. Main bola-lah kalo kausuka. Lakukan karena hobi. Jang sampe kau sebenarnya suka main bola, tapi kau anggap sastra lebih penting dalam hidup fana ini (karena promosi gencar dan kalimat “usaha memajukan sastra”) dan kau lebih memilih menulis daripada main bola. Itu ocong, Kaka. Lakukan apa yang kau sukai.
  11. Sekali lagi anak-anak muda mesti mulai belajar keras menulis dan membaca — sekali lagi hanya bagi yang suka melakukan hal itu — tanpa dipengaruhi labeling-labeling sejenis. Karena sejak pola pikir seperti ini dibentuk, penulis pemula yang baru pemula sekali akan menganggap gelar sastrawan itu wow sekali dan mereka akan makin minder membikin tulisan dan… betapa tidak enaknya itu. Ayo menulis saja; baca yang banyak.
  12. Kepada beberapa orang: Jang talalu bully Maria ee. Kasian dia  😀 😀

Membaca Cerita pendek (lagi)

Oleh: Fransiska Eka*

Agaknya sudah lama saya tidak membaca cerita pendek yang rapih, yang tidak bertele-tele tapi quotable, yang ringkas sekaligus kaya akan kritikan. Kemarin, saya membaca buku sekumpulan cerita pendek karya Felix K. Nesi. Ada beberapa cerita pendek di dalam buku terbitan Pelangi Sastra Malang, tetapi favorit saya adalah cerita pendek berjudul Ponakan. Mungkin karena saya bisa relate dengan si karakter utama dalam cerita yang kalau sedang menulis tak bisa diganggu sama sekali, termasuk diganggu oleh ponakannya yang masih balita, dan kalau berbicara lidahnya masih cadel.

Spoiler

Saya agak ngeri dengan ending cerita Ponakan, sekaligus teringat pada beberapa cerita yang pernah saya baca sebelumnya. “Adegan” si karakter utama mengikat leher si ponakan dengan tali yang diasosiasikam dengan dasi, misalnya, mengingatkan saya pada salah satu bagian cerita milik Ayu Utami dalam Orang-Orang Scorpio. Teman sekelas karakter Ayu mati karena menjerat dirinya sendiri dengan dasi. Dalam dunianya, ia sedang belajar memakai dasi. Ada juga sebuah cerita pendek karya seorang penulis perempuan dari salah satu negara di Jazirah Arab yang menceritakan tentang kekejaman anak-anak yang membiarkan seorang pria tewas di dalam sebuah sumur di ladang. Memang cerita Felix, Ayu dan si penulis dari Jazirah Arab berbeda (atau terbalik). Tapi saya senang bisa menemukan sebuah benang merah antara ketiganya ; pelaku sebuah tindakan yang tak wajar memiliki logikanya sendiri.

Pada salah satu halaman, Felix juga mengumpat (dia sering sekali mengumpat dalam cerita-ceritanya spoiler) pakem lokalitas. Ia katakan bahwa seorang anak gembala yang duduk diatas punggung sapi di padang adalah hasil karangan  orang-orang kota yang miskin imajinasi. Dalam kehidupan sehari-hari, si anak gembala punya banyak tugas daripada sekedar berleha-leha diatas punggung sapi di padang.

Ah, saya sepakat! Karena kita tinggal di NTT, apa kita harus melulu cerita tentang padang Sabana ? Halo!

Lastly, Felix ini penulis mapan:) Kita tinggal menunggu karya-karyanya yang lain di masa depan ^^

Good-Luck, dude!




*Tulisan ini saya salin dari blog pribadi Eka Fransiska (silakan klik kalo pengen liat), sebuah catatan kecil sesudah membaca buku cerita saya berjudul Usaha Membunuh Sepi (hell, sejak kecil saya bercita-cita membuat buku cerita dan akhirnya kesampaian). Saya menemukannya, di antara sekian banyak tulisannya yang lain. Saya baru tahu kalau Eka rajin menuliskan isi pikirannya di blog; bahkan curhat-curhat pribadi sekalipun. Tiap hari kau akan temukan potongan-potongan puisi di sana. Sepertinya ini yang mesti lebih banyak dilakukan anak-anak NTT yang lain juga, ketimbang meributkan siapa yang terbesar di antara mereka; siapa sastrawan siapa bukan dan kenapa begitu. Thats fucking disgusting bro.

(Oh, sebagai tambahan, membaca salah satu cerpen saya Eka teringat pada dua tulisan lain (Ayu Utami dan penulis Arab itu), ini membuat saya malu menyadari bahwa bacaan saya belum seluas Eka. Saya mesti mengamen, ke toko buku dan membeli buku Ayu Utami itu. Sebaiknya saya tidak ke perpustakaan untuk mencuri karena ini bulan puasa.

Beberapa Alasan Kenapa Pacaran sama Lelaki Timur itu Menyenangkan

10398392_10208782382387863_8796936478895730938_n

  1. Lelaki Timur adalah pekerja keras. Mereka telah terbiasa hidup di tempat yang secara geografis sangat susah untuk menjadi sumber penghidupan. Mereka telah terbiasa mengerjakan hal-hal yang menurut orang kebanyakan berat untuk dilakukan. Bagi mereka, semua hal berat adalah biasa.
  2. Pertalian kekeluargaan orang Timur sangat lekat. Karenanya, lelaki timur bisa membawamu ke tempat-tempat eksotik di daerah Timur dengan lebih sedikit biaya, namun ke tempat tujuan yang aduhai. Bagaimana tidak, jika ternyata pengelola Raja Ampat adalah salah satu paman dari ibu nenek yang menikah dengan tante bungsu ayah? Bagaimana jika ternyata pawang Komodo di ujung pulau Flores sana adalah cucu dari kakek tertua yang menikah dengan tante dari neneknya? Oke, jangan coba dibayangkan pertalian yang rumit itu. Intiya, sampai lapis berapapun mereka pasti mampu menemukan pertalian keluarga.
  3. Sejak kecil, tiap lelaki Timur telah diajari untuk menjaga kaum hawa apapun yang terjadi, siapapun dia. Lelaki adalah penjaga yang bertanggung jawab penuh di manapun dia berada. Jangan heran, bila di lingkungannya, hanya dia satu-satunya lelaki, dia akan merasa sangat malu bila tak mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Hal-hal kecil seperti: “Kalau jalan kaki sama perempuan, si perempuan harus berada di sebelah kanan, agar bisa dilindungi”, telah diajarkan sejak kecil. Kau akan selalu aman.
  4. Lelaki Timur umumnya telah menganut motto: Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Awalnya, ini adalah ajaran agama kristen. Namun karena mayoritas orang Timur beragama kristen, kalimat itu dibudayakan dan akhirnya lebih identik dengan budaya ketimuran. Bagi lelaki Timur, haram hukumnya untuk mendua. Jika ada yang mendua, dia bukan lelaki Timur yang sejati.
  5. Mukanya seram-seram. Walau belakangan kau akan temukan bahwa hati laki-laki Timur itu lebih melankolis daripada lagu-lagu kaka Gllen Fredly, mukanya tetap seram kalo gak senyum. Kau akan luput dari keisengan preman kampung. Apalagi sekedar lelaki puber alay yang mencoba ngehits dengan cara menggodamu.
  6. Masih banyak alasan yang lain, tapi kau tak akan penasaran jika tidak mencoba dan merasakannya sendiri.