Di Suatu Malam Minggu

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku,” ia berkata, pelan tapi sinis.

Saya sedang berdiri dengan sikap hormat di deretan buku-buku Eka Kurniawan. Saya baru saja menerima royalti dari penerbit. Karena sedang kaya-raya, saya mampir ke toko buku dan memborong sangat banyak judul, mulai dari cerita anak sampai filsafat, puthut sampai solstad.

Saat berjalan ke kasir, saya berhenti sebentar di rak yang menjejerkan buku-buku Eka Kurniawan; berdiri sebentar hanya untuk menarik napas panjang dan berbisik dalam hati: Suatu hari nanti, suatu hari nanti, saya akan menjadi seorang penulis besar, dan buku saya akan terpampang juga di situ.

Saat itulah ia, seorang asing yang kebetulan lewat di depan saya, berkata sinis tepat di depan hidung saya.

“Kalau kamu merasa tulisan Eka Kurniawan sudah bagus, kamu belum cukup banyak baca buku.”

Sebagai fans garis keras Eka Kurniawan, saya merasa sangat ingin menonjok wajah orang ini; membuat nyonyor bibirnya dan menarik keluar lidahnya yang laknat. Tapi karena dia perempuan cantik, perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja, saya tersenyum ramah dan mengajaknya minum kopi.

Kami duduk di tangga masuk Malang City Point, menikmati malam, orang lalu-lalang, kopi dan beberapa potong donat. Saya baru saja menerima royalti, dan starbucks tak akan membuat saya miskin.

Sesudah obrolan basa-basi tentang buku, saya bercerita tentang masa kecil saya di Timor. Bagaimana saya menunggang kuda dan berburu rusa yang turun minum di lembah. Ia menanggapi sebentar, dan bercerita tentang ibunya yang telah lama mati; bagaimana ayahnya menikah lagi dan tingal bersama perempuan yang seumuran dengannya. Tanpa kecup-selamat-malam ibunya ia menamatkan kuliahnya di fakultas sastra, bercita-cita menjadi penulis, tapi kini berakhir di meja teller sebuah bank swasta.

Malam dan kegembiraan selalu cepat berlalu. Sebelum berpisah, saya meminta nomernya dan bertanya apakah ia mempunyai pacar.

Ia tertawa.

“Pacar adalah istilah yang aneh,” katanya. “Kami berpisah delapan bulan yang lalu. Saya lebih suka membaca buku daripada berciuman. Dia lebih suka berciuman daripada membelikan buku.”

Saya tertawa.

Ia menyambung lagi, tapi dengan suara yang lebih lirih: “Waktu itu, saya pikir buku lebih asyik daripada ciuman.”

“Sekarang?” saya bertanya. “Masih berpikir begitu?”

Dia tertawa.

Malam itu, di tengah lalu-lalang orang membeli kebahagiaan, kami berciuman. Lama dan mengasyikkan. Ia mencengkeram leher saya dan menekan kukunya dalam-dalam ke kulit tengkuk saya setiap kali…

Sayang sekali, hal di atas hanya terjadi dalam imajinasi saya. Beginilah yang sesungguhnya terjadi.

Saya memang menerima royalti, tetapi jumlahnya sangat kecil. Tentu saja sebab pembaca saya sangat sedikit. Saya malah curiga saya tak punya pembaca: buku-buku itu habis diborong oleh para reseller buku indie, yang mengira kalau buku tentang kegalauan anak muda akan laris menjelang hari valentine.

Hari ini, kemungkinan mereka sedang menyesali keputusan memasok buku yang penulisnya sama sekali tak dikenal.

Karena royalti yang sedikit, saya berpikir seratus kali untuk mampir ke toko buku. Baru sampai pikiran kedua, saya sudah membatalkannya. Jika saya membeli buku, apa yang akan saya makan? Seandainya buku bisa dimakan… Selain itu, saya sangat ingin mempunyai kos – saya telah lama luntang-lantung dari kos kawan yang satu ke kawan yang lain. Meski tersenyum ramah, ada saatnya mereka menatap saya dengan rasa bosan yang tertutupi oleh sopan santun ketimuran.

Saya juga perlu menabung untuk membeli komputer. Saya merasa sebagai anak muda paling naif: lebih banyak bekerja dengan microsoft word, tapi tak mempunyai komputer. Bahkan anak paling tolol di kelas saya mempunyai laptop hanya untuk bermain solitaire atau menonton bokep.

Karena sekian banyak kebutuhan yang menghadang, saya tidak mampir ke toko buku. Karena tidak mampir ke toko buku, saya tidak bertemu perempuan cantik yang bicara tentang buku, yang bibirnya kemerahan seperti matahari senja dan ibunya telah lama mati. Tapi, jikapun saya mampir ke toko buku, saya tak akan mungkin bertemu dengan perempuan asing yang mau menyapa saya.

Seumur hidup, perempuan asing yang menyapa saya hanya selalu terjadi di dalam mimpi. Di dunia nyata, kebanyakan perempuan asing akan membuang muka setelah melihat wajah saya – wajah Timor saya: rambut keriting berpilin-pilin, rahang dan hidung yang terlalu besar untuk pipi yang keropos dan bola mata yang tenggelam dan sedikit juling.

Itu belum ditambah rasa ngeri di wajah mereka, sebab raut saya mengingatkan mereka pada wajah perampok-pemerkosa-pembunuh dan tokoh-tokoh antagonis lain di televisi.

Saya tidak bisa menyalahkan wajah saya (tentu saya tak pernah menandatangani nota pemesanan fisik sebelum lahir) ataupun raut jijik-ngeri mereka. Saya tahu, sejak dilahirkan, kami terlempar ke dalam suatu sistem sosial yang yang punya standar ganteng-jelek-baik-jahat, yang selalu mengajari kami untuk menilai orang lain dari fisiknya.

Jika punya hidung yang mancung atau dahi yang mirip bintang iklan, kami merasa lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, kami akan menjadi malu dan tidak percaya diri jika memiliki hidung besar, rambut keriting, atau terlalu kurus, terlalu gemuk, atau punya kulit terlalu hitam.

Beberapa orang mengatakan, kami bisa saja menyelamatkan diri dari sistem brengsek itu dengan lebih banyak membaca buku. Tapi saya meragukan hal itu. Industri menyediakan terlalu banyak buku sampah dan kami hanya pasar yang selalu bergerak dari satu ketololan menuju ketololan yang lain.

Jikapun saya mampir ke toko buku dan bertemu seorang perempuan asing yang menyapa, saya tak punya cerita petualangan untuknya. Seumur hidup saya tak pernah menangkap rusa, hidup atau mati. Di masa kecil, binatang yang berhasil saya tangkap hidup-hidup adalah beberapa ekor semut hitam, yang mati sesudah saya adu kelahi dengan ribuan semut merah. Bahkan nyamuk-pun tak pernah berhasil saya tangkap: mereka mengisap darah saya tanpa ampun sampai saya kerontang.

Saya menyusuri jalanan kota yang berlubang. Asap knalpot menampar, kendaraan lalu-lalang, dan pekik klakson bersahut-sahutan. Di depan ruko-ruko, mobil-mobil parkir bertumpuk-tumpuk sampai ke bahu jalan. Malang semakin padat, tak ada tempat lagi untuk pejalan kaki.

Di balik setir, tak ada orang yang sabaran. Ini sabtu malam yang mampat; entah dari mana orang-orang ini berasal: orang-orang tolol-robotik yang hanya bisa menikmati hidup di malam minggu. (Sudahlah, mereka hanya korban peradaban).

Melintasi Malang City Point, saya melihat puluhan orang antri di starbucks, di J-Co. Saya pernah mengunyah makanan dari sana, dan buruk sekali rasanya. Orang-orang kota punya selera yang aneh. Bukan hanya soal makanan, tapi juga soal tulisan. Saya pikir, Lelaki Harimau adalah buku yang bagus, tapi Cantik itu Luka selalu ingin saya edit. Seperti Dendam masih bisa dimaklumi, tapi jika O benar-benar ditulis Eka, ia sama sekali tak layak terbit!

Advertisements

Felix dan Mimpinya

Oleh: Tarsy Asmat, MSF*

Sebuah kumpulan cerpen berwarna sampul coklat terang mengundang saya untuk membacanya. Mula-mulanya saya bertanya, mengapa diberi judul Usaha Membunuh Sepi?

Saya menduga, pengarangnya sedang didera oleh ribuan kesepian, dan ia belum merdeka dari selimut sepi. Kemudian saya membaca anak-anak cerpennya: Ponakan, Sang Penulis, sebelum Minggat, Usaha Membunuh Sepi, Pembual, Kenangan, Belis, Indra dan ditutup dengan Penumpang Gelap. Apakah susunan demikian sengaja dibuat oleh Felix, atau diurut berdasarkan tanggal kelahiran cerpennya? Sebaiknya pertanyaan ini, kita tanyakan kepada Felix saja.

Namun, setelah saya membacanya, kumpulan cerpen yang tipis (67 halaman) ini merupakan potret mimpi besar seorang Felix. Kerinduan besar pengarang adalah menjadi seorang pembesar di dunia tulisan serta relasinya dengan lingkungan.

Penulis Besar Masa Depan

13312825_1060624727351558_8341689867944991032_n

Saya pun membaca karya Felix ini dari sudut hubungan sastra dan psikologi. Wellek dan Warren (1977) menyatakan ada empat pengertian sastra dan psikologi 1) psikologi pengarang, 2) studi proses kreatif, 3) studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam sastra dan 4) mempelajari dampaknya pada pembaca. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis hanya menjelaskan berdasarkan pengertian yang pertama. Untuk pengertian dua sampai keempat perlu penelitian dan pendalaman bersama dengan penulis sendiri.

Kita tidak perlu mendebatkan apa itu sastra, ukuran kualitas dan segala tetek bengeknya. Cerpen adalah bagian dari sastra. Dalam kumpulan cerpennya, pengarang dengan dingin memperlihatkan kerinduannya yang lama terpendam. Kerinduannya ialah menjadi penulis, terlihat dari bagian akhir cerita tentang keponakannya.

“Saya tarik lebih kuat lagi, dan saya ikatkan pada batang pohon. Ia tergantung. Matanya melotot lagi dan lidahnya mulai terjulur keluar. Mulutnya mengeluarkan suara-suara aneh. Sore itu, saya pulang sendiri. Takkan ada orang yang akan merusak gelembung sabun saya lagi” (Felix, 2016: hlm 6)

Sekilas tokoh ‘saya’ adalah seorang pembunuh berdarah dingin, yang membunuh keponakannya dengan cara mengerat tali pada lehernya dan menggantungkan pada pohon, hanya karena keponakannya mengganggu “saya”. Namun, Cerpen ini dilanjutkan dengan cerpen “Sang penulis”.

Menurut saya, cerpen “Keponakan” merupakan ekspresi paling jelas dari diri pengarang tentang visi hidupnya. Mengapa ia tidak menyukai keponakan yang selalu bertanya-tanya? Dalam terori psikologi, sifat anak-anak memang kreatif, selalu bertanya, mengusil apa saja. Namun, tokoh ‘saya’ membenci dunia kanak-kanak. Dunia kanak-kanak yang suka bertanya, menemukan pola merupakan khas rasionalitas dan empirisme.

Pengarang membunuh dunia seperti itu. Pengarang lebih menikmati kesendirian, kesunyian, tanpa bising nyamuk sekalipun. Namun, ia juga menunjukan identitasnya yang hadir sebagai penggonggong situasi sosial. Kesepian-kesepian dan cinta ditransformasikan menjadi karya yang bisa dinikmati khalayak luas. Melalui tokoh Agus, pengarang memperlihatkan bagaimana menjadi seorang penulis yang diimpikan itu? Seorang wanita cantik dari luar negeri ingin menerjemahkan karyanya.

Life Style

Bagaimana menjadi seorang pengarang besar? Cerpen “Sang Penulis’ yang ditempatkan setelah kematian keponakannya, menurut saya juga merupakan tema dari semua cerpen-cerpen dalam buku ini. Namun, jika judulnya, Sang Penulis, kemungkinan daya jual dan memikat pembaca mungkin tidak sekeren dengan judul usaha membunuh sepi. Sastra juga memperhitungkan pasar. Sebab penulis tanpa pembaca akan mati.

Gaya hidup paradoks diperlihatkan dalam tokoh-tokoh dan persoalan cinta, politik, budaya dan sebagainya. Pengarang mempunyai sikap kritis, tetapi juga melankolis. Potret latar belakang diri Agus, kehilangan orangtua dan binatang kesayangannya menunjukan sisi lain dari seorang penulis. Sang Penulis menguak horisan seorang penulis sekaligus parodoks kehidupannya. Ia menegaskan jalan hidupnya secara tegas sebagai anak ideologi dari Heideger, Sartre, Nietzche, dll.

Seorang Sastrawan Prancis sekaligus Filsuf besar Eksistensialis, J.P. Sartre adalah sosok yang mengidolakan kebebasan. Bagi Sartre kehadiran orang lain adalah neraka atau perusak baginya, karena orang lain selalu akan meng-objekkan dirinya. Inilah bagian otomitas diri seseorang dan pengakuan akan kebebasan seseorang pengarang eksistensialis. Selain itu, pembunuhan terhadap keponakan merupakan gambaran pembunuhan subjek Descartes. Dalam filsafat Descartes, subjek identik dengan rasionalitasnya, cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada.

Setelah membunuh rasionalitas soliter demikian, lalu pengarang mendirikan gagasan hidupnya pada jalan kehidupan yang paradoks. Menurut Nietzche, originalitas hidup itu adalah ketika seseorang menerima paradoks kehidupan, menerima kesepian, penderitaan, cinta, dan sebagainya tanpa menghakimi atau menghindari realitas demikian. Inilah yang disebutnya vitalisme kehidupan (Listiyono & Sunarto, 2006:58). Seseorang menemukan siapa dirinya, ketika ia terjebak dalam situasi yang mana kebanyakan orang lari dan menghindar, yaitu kesepian dan kesakitan.

Mungkinkah kehidupan paradoks ini yang ingin dijalani oleh pengarang? Rupanya, banyak penulis besar lahir dari kegetiran hidup seperti si Agus dalam cerpen Sang penulis. Pengarang besar kerap kali orang yang tidak normal dari kacamata mayoritas, mereka bahkan bisa dikatakan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa (Waren 1971, hlm 32). Cerpen-cerpen selanjutnya hanya mendeskripsikan dengan indah kehidupan sekaligus kebebasan sang pengarang sebagai seorang yang — bisa dikatakan — pemberontak.

Untuk Pembaca Felix

Usaha Membunuh Sepi adalah buku yang menarik. Selain daya kreatif penulis, buku ini juga mengajak pembacanya untuk mempunyai mimpi besar. Semua orang mempunyai mimpi namun tidak semua orang berani menyeberangi kesunyian hidupnya untuk mewujudkan mimpinya. Sebenarnya ada banyak tema yang disodorkan oleh penulis; persoalan kebudayaan seperti diangkat dalam cerpen belis, persoalan kemiskinan, persoalan cinta dan sebagainya.

Pengarang akan membawa anda pada pengalaman keseharian yang semua manusia mengalaminya dengan bahasa yang sederhana tetapi membuat mimik anda berubah-ubah: merengut, tersenyum dan tertawa. Pembaca bisa menikmati Usaha membunuh Sepi ini entah ditemani kopi pada senja hari, atau di bawah pohon rindang, atau dimana saja. SELAMAT MEMBACA, sambil tersenyum-senyum.

*Tarsy Asmat, MSF adalah seorang calon imam Misionaris Keluarga Kudus propinsi Kalimantan. Alumnus STFK Sasana Widya Malang. Bermukim di Malang.

Yang Saya Copas dari Status Facebook Jabar Abdullah

15822589_10209675260331200_2439441950698974079_n“Usaha Membunuh Sepi”-nya Felix K. Nesi merupakan satu dari sekian banyak buku sastra yang mengusung tema lokalitas di kampung halamannya, Nasem, Nusa Tenggara Timur, dan sekitarannya. dalam kumpulan cerpennya ini, ia entah berada di mana dan posisinya sebagai apa ketika ia menuliskan segala yang terkait dengan lokalitas, tradisi dalam pernikahan misalnya, yang dianggapnya sebagai sebuah persoalan. Felix terkesan sebatas ‘memberitahu’ bahwa tradisi semacam itu memberatkan bagi yang melakoni. terkait dengan kritiknya ini, ada proses risetkah sebelum ia mengkritik tradisi tersebut? kenapa ia begitu emosional ketika dihadapkan pada tradisi tersebut? pertanyaan ini saya produksi ketika kami mengobrol santai stan Komunitas Literasi Malang setelah bukunya didiskusikan dan dibacakan di panggung Pesta Malang Sejuta Buku 2016, Kamis (29/12). obrolan tersebut kemudian merambah ke banyak hal yang juga menjadi bagian dari lokalitas di kampung halamannya.

“sejak kapan kuda di kampung halamanmu itu ada dan menjadi alat transportasi?” tanyaku ketika ia menceritakan adanya keseharian yang melibatkan kuda.

tidak hanya kuda, dalam jagongan itu ia juga memberitahu jika tradisi lisan di kampung halamannya lebih kuat daripada tradisi tulisnya. seperti di ludruk, distribusi pengetahuan di sana tersampaikan melalui tradisi lisan. sangat jarang ditemui tinggalan berupa tulisan. dan semoga saja, Felix nantinya juga tergerak menciptakan gerakan literasi di sana, di Kampung halamannya.

selain kumcernya Felix, ada oleh-oleh yang lain. dan tentu saja berupa buku. buku yang isinya berbeda dengan bukunya Felix. buku yang dihadiahkan oleh Mas Yusri Fajar ini kumpulan tulisan yang berisi pemikiran tentang sastra, budaya dan bahasa. jenis buku yang dinilai mas Yusri jarang diterbitkan. jumlahnya kalah jauh dengan jumlah terbitan karya sastra. pertanyaannya kemudian, kenapa? apakah jarangnya ini seiring dengan jumlah kritikus dan pemikirnya? kenapa pula banyak penulis yang lebih memilih menjadi penulis cerpen, puisi, novel, daripada menjadi kritikus?

begitulah obrolan kami di kursi panjang yang telah lebih dulu duduk di atas lantai dasar FIB Univ. Brawijaya sebelum kami menduduki kursi panjang itu.

maturnuwun kepada Denny Mizhar dan Mas Yusri Fajar.

Orang Miskin Harus Berani Merebut Pendidikan!

Alasan Besar Kenapa Kita Boleh Mencuri Buku.

Saya sungguh sangat ingin menjabarkan seruan di atas dengan berbagai-bagai teori, atau berbagai-bagai pemikiran, misalnya yang saya kutip dari sebuah buku motivasi, atau sebuah novel tentang orang miskin yang bersusah payah mendapatkan pendidikan. Tapi saya harus jujur bahwa saya muak dengan semua tata cara, tata pikir dan tata kebiasaan orang kota, di mana salah satunya adalah kebiasaan bahwa untuk menyampaikan pemikiran saya, saya harus melandaskannya pada satu atau dua teori orang lain yang disebut ahli.

Begini: Orang miskin harus berani merebut pendidikan! Merebut pendidikan yang di dunia ini telah dimonopoli oleh orang-orang yang punya duit. Kau membutuhkan uang untuk mendapatkan guru. Kau membutuhkan uang untuk membeli buku bagus. Kau membutuhkan lebih banyak lagi uang untuk masuk ke sekolah. Semakin lengkap fasilitas dan semakin cerdas pengajar di sekolah itu, akan semakin mahal biayanya. Jangan dulu bicara tentang kampus-kampus berkualitas. Saya (terlebih) sedang bicara pada anak-anak NTT: Tengok sekelilingmu! Sekolah-sekolah swasta milik Gereja Katolik menampung sangat banyak pengajar berbobot, dengan kurikulum dan kedisiplinan tinggi yang – semua orang NTT tahu – menghasilkan orang-orang cemerlang. Kebanyakan intelektual NTT hari ini (mulai dari yang paling kolot pikirannya sampai yang paling maju pikirannya sekalipun) minimal pernah mengecap pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan swasta milik Gereja Katolik. Tapi mari cari tahu: Berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk ke sekolah-sekolah itu? Bukankah kebanyakan anak yang akhirnya masuk ke sekolah-sekolah itu adalah anak-anak pegawai negeri yang bisa mengajukan kredit di bank? Atau anak-anak pemilik tanah? Atau anak-anak para keturunan raja? Beberapa anak miskin akan masuk sekolah negeri, dipukul-pukuli guru matematika karena tak bisa menghafal perkalian, dijauhi sebayanya karena tolol dan berpakaian lusuh dan jarang nongkrong di kantin. Tak bisa dinafikan, beberapa yang lain mungkin akan bertemu novel Andrea Hirata dan berusaha mengejar mimpinya; tapi saya tak sedang bicara tentang mereka. Saya bicara tentang anak-anak muda yang berakhir kabur dari sekolah dan menjadi kondektur bis Kupang-Atambua, atau preman pasar, atau jongos toko Cina, yang akan menghabiskan upah kerjanya untuk mabuk dan membeli android mahal dan pulsa dan sepeda motor bekas yang kemudian dimodifikasinya dengan cat mentereng dan bunyi knalpot yang bikin pekak. Itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Itu semata-mata karena mereka tak punya pengetahuan tentang apa yang mereka lakukan. Bagaimana mereka punya pengetahuan tentang itu, jika pendidikan yang mengajarkan pengetahuan tentang itu telah dimonopoli oleh orang-orang kaya?

Maka saya ulangi lagi: Orang miskin harus berani merebut pendidikan! Sebab hanya orang miskin yang bisa menyelamatkan orang miskin. Yang mau merebut akan menemukan cara untuk merebut; tapi saya tak sedang bicara tentang memperjuangkan beasiswa, belas kasihan donatur, atau hal-hal sejenis itu. Salah satu contoh merebut pendidikan adalah: Jika punya uang lebih, beli buku. Jika tak punya uang lebih, pinjam buku. Jika tak mau dipinjami, curi buku! Karena buku berisi pengetahuan (=pendidikan) dan pendidikan tidak seharusnya dimonopoli oleh segelintir orang.

Ketika Orang NTT Membikin Antologi…

Di pertengahan tahun 2015 lalu, dalam perjalanan mengambil air di kali Noenebu, satu-satunya sumber mata air yang masih mengalir saat kemarau, yang memenuhi kebutuhan penduduk sampai radius tujuh kilometer, di atas sepeda motor saya membuat dua keputusan besar dalam hidup saya. Yang pertama, saya memutuskan untuk percaya bahwa orang Timor akan terus dibiarkan hidup dalam kondisi miskin, dan segala macam sinar harapan tentang hari depan yang baik akan segera sirna, baik oleh karena ketakpedulian pemimpin-pemimpin bangsa, maupun oleh kesukaan pemimpin-pemimpin lokal mengambil-ambil keuntungan dari kemelaratan penduduknya. Saya membuat satu paragraf dramatik dalam kepala saya: “Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tak tahu malu yang menjijikkan. Mereka akan tanpa malu saling melindungi kebusukan, meski baunya lebih tajam daripada mayat orang-orang miskin yang mati bergelimpangan.”

Yang kedua, saya memutuskan untuk percaya, bahwa saya tak berbakat menjadi penyair. Puisi-puisi saya selalu buruk dan tak pernah jadi. Mata puitika saya begitu tumpul, sehingga tiap kali saya menulis puisi, saya tak melihat hal baik untuk dituliskan, selain kelaparan di musim kemarau, pembodohan di musim kampanye, pastor yang minum sopi-kepala sampai mabuk di hari natal lalu menyesali umat yang tak melunasi uang derma wajib (bahkan sampai detik ini saya tak memahami apa itu derma wajib, tetapi baiklah tentang itu akan kita diskusikan di tulisan yang lain), rentenir yang mencekik, seorang pemuda yang mengamuk saat keluarganya yang yang pejabat kena kritik, dan seterusnya. Lalu saya berkeputusan untuk berhenti menulis puisi.

Beberapa bulan kemudian, saya dihubungi tentang adanya rencana pembuatan antologi penyair NTT, sebuah buku kumpulan puisi orang-orang NTT. Karena salah satu kuratornya saya percayai jika berbicara tentang NTT, dan yang menghubungi saya adalah salah satu orang yang saya hormati secara pribadi di dunia ini, saya membongkar-bongkar kembali puisi-puisi lama saya. Kalian tahu, seperti kata Gogol dalam salah satu novelnya, ada orang yang kita hormati sebab status sosial dan hubungan pertalian lain — seperti murid yang menghormati gurunya, atau seorang bawahan yang menghormati atasannya –- tapi ada juga orang yang begitu kita bertemu dengannya, tumbuh rasa hormat bukan karena segala macam status dan pertalian itu, tapi secara pribadi tumbuh rasa hormat begitu saja. Demikianlah, saat itu itu saya membongkar-bongkar puisi lama saya. Salah satu hal yang membuat saya menyimpulkan bahwa puisi saya tak pernah jadi adalah, begitu melihat puisi saya yang manapun, saya akan mengedit-editnya kembali, dan setelah mengeditnya pun saya masih menganggap bahwa puisi itu masih perlu diedit, meski saat itu saya belum menemukan bagian mana yang harus diedit. Demikianlah lagi, puisi-puisi lama itu saya edit lagi dan saya kirimkan ke panitia.

Hari ini, saya membaca pengumuman hasil seleksinya. Saya tiba-tiba merasa sebagai orang paling malang di dunia. Sebabnya adalah, selain tulisan itu telah diposting tanggal 17 September yang lalu (yang berarti saya orang paling lamban mendapatkan informasi), di situ panitia mengumumkan, bahwa: …kami mendapatkan hasil dari para kurator yang terdiri dari Bapak Joko Pinurbo, Bapak Alexander Aur dan Ibu Dhenok Kristianti (minus Mario F Lawi, beliau mengundurkan diri). Meskipun dalam soal selera, selera puisi saya jauh berbeda dengan Mario, saya mengakui bahwa saya mengirimkan puisi-puisi saya terlebih karena ada Mario di situ. Beberapa bulan menjadi teman facebooknya, dan membaca tulisan-tulisan di blognya, membuat saya paling tidak percaya, yang pertama kepada pengetahuannya yang mumpuni tentang sastra (tentu saja ia pantas menjadi kurator), yang kedua dan yang paling penting adalah kepercayaannya pada pemahamannya soal bangun sosial dan kehidupan NTT itu sendiri. (Ini menjadi penting, sebab jika Mario bicara tentang NTT, saya akan percaya. Namun jika Plato bangkit dari kuburnya dan bicara tentang NTT, sayalah yang dahulu akan meludahi wajahnya. Keberagaman di NTT membuat orang-orang asing selalu salah kaprah tentang NTT. Ia akan duduk dan mulai mengatakan: “Saya telah tinggal di NTT sekian tahun. Orang-orang NTT itu adalah orang-orang yang…” dan ia akan mulai mengatakan hal-hal yang ngawur belaka, dan di saat itu saya sangat ingin meludahinya, tapi tak diperbolehkan norma dan tata krama).

Yang pertama, keahlian sastra dan hal-hal yang diperlukan oleh seorang kurator (maafkan bila istilah ini kurang tepat, sebab saya bukan anak sastra dan tak begitu paham pada makhluk yang disebut sastra itu), tentu saja dimiliki juga oleh tiga orang kurator yang telah saya sebutkan di atas. Namun tentang soal yang kedua, pemahamannya pada bangun sosial dan kehidupan NTT (maafkan juga bila istilah ini kurang tepat), saya tidak yakin bahwa Bapak Joko Pinurbo dan Ibu Dhenok Kristianti memilikinya. Walaupun tentu saja saya tak bisa membuktikannya, saya tetap tidak yakin. Mungkin Bapak Alexander Aur memilikinya, tapi… entahlah. Saya tidak percaya bahwa satu orang NTT dan dua orang bukan NTT adalah komposisi kurator yang ideal untuk menghasilkan sesuatu dari NTT, sama seperti saya tidak akan percaya kepada seorang profesor seni dari Jawa misalnya, yang datang ke NTT dan menjadi kurator tenun ikat se-NTT. Kecuali, jika ia menjadi kurator tenun ikat se-Indonesia.

Saya berpikir, jika kelak saya mempunyai uang, saya akan membuat antologi penyair NTT, yang  kuratornya adalah Ragil Sukriwul, atau Ishack Sonlay, atau, mungkin ibu saya sendiri. Sebab saya tadinya berpikir untuk menarik kembali puisi saya, tapi salah satu pikiran saya yang lain lagi menyebutkan bahwa perbuatan menarik kembali puisi hanya perilaku anak-anak yang reaksioner dan suka mencari-cari sensasi. Di atas itu semua, apa sih pentingnya puisi? Apa ia bisa membuat hujan turun teratur? Babi berhenti kena wabah? Mungkin Bob Dylan bisa menjawabnya, sebab ia telah “having created new poetic expressions within the great American song tradition”. Amerikaa lagiiii…

Selamat Ulang Tahun, Indra

Saya melihat perempuan itu pertama kalinya di bawah pohon asam di depan sekolah saya, SMA Seminari Lalian. Itu suatu hari Minggu di musim kemarau tahun 2008. Pastor Lamberto sedang mengatakan suatu hal lucu tentang celotehan Pastor Lukas Lusi Bethan, ketika perempuan itu melintas. Anak-anak yang lain tertawa-tawa, tapi sekeras apapun saya mencoba membayangkan kembali, saya tak pernah ingat pada lelucon itu. Yang saya ingat adalah panas yang membakar. Angin yang menggoyangkan dedaunan. Rumput lapangan upacara yang mulai menguning. Dan dia yang melangkah malu-malu, dengan gerai rambut di kening dan renyah pasir yang dipijaknya.

Dan saya jatuh cinta.

Hari ini, 3 Oktober, dia berulang tahun. Saya harap dia selalu sehat. Saya harap dia selalu melewati hari-hari baik dalam hidupnya. Saya harap suatu saat nanti saya akan mengecup keningnya di hadapan satu atau beberapa orang pastor. Saya harap kami akan sama-sama bingung menghadapi anak sendiri yang pemberontak. Saya harap bisa menemaninya menua di sebuah rumah tua. Mungkin di tepian sabana. Di dekat sebuah danau. Sambil sesekali menonton film India atau menggerutukan anak-cucu yang tak kunjung berkabar.

Selamat ulang tahun, Indra.

Satu Omong Kosong Lain tentang Cinta (Love)

Dalam wawancaranya dengan Marva Journal, Gaspar Noe, dengan entengnya mengatakan “Di film selanjutnya, saya berharap tiap lelaki yang menonton bisa ereksi dan tiap perempuan get wet.” (Oke, saya tak bisa menerjemahkan “get wet” itu). Ia merujuk pada sebuah film yang ditulisnya, Love. Love memang film penuh adegan vulgar persetubuhan, baik antara Murphy dan Omi, Murphy dan Electra, maupun hubungan three-some mereka. Namun mengingat film ini diputar di Festival Film Canes 2015, saya merasa orang berbudaya dan terpelajar ‘diwajibkan’ menonton film ini tanpa terprovokasi berahinya.
Namun begitu saya iseng melihat wawancara Gaspar Noe, saya merasa bahwa film ini secara tak langsung masuk dalam hitungan, jika pornografi adalah “penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi” seperti kata KBBI. Lukisan bergerak ini membuat kau tegang pada kisah cinta Murphy dan Electra, sekaligus tegang pada aksi berahiah yang tidak digambarkan dengan samar-samar seperti film-semi pada umumnya. Di menit pertama, kau sudah pasti akan mengambil kesimpulan bahwa ini film bokep, karena adegan persetubuhan Murphy dan Electra sangat vulgar, dimana gambar dengan terang benderang menunjukkan posisi penis Murphy dalam genggaman Electra; mirip adegan-adegan yang bisa kita temukan dalam bokep-bokep HD bikinan X-ART. (Dalam film semi pada umumnya, penis hampir tak ditunjukkan. Vagina lebih banyak ditunjukkan dan itu saya lihat sebagai usaha pemenuhan hasrat berahi egois kaum lelaki yang selalu berusaha mengeksploitasi). Hanya jalan ceritanya yang panjang dan kadang memang membosankan ketika harus melihat Murphy bergerak dengan sangat lamban sambil terus berbicara pada dirinya sendirinya.

Continue reading