Usaha Membunuh Sepi, Lagi

Usaha Membunuh Sepi sudah duluan ke Belanda. Saya baru akan mau ke sana, kecuali kalau diundang ke Festival Winternachten. Mimpi  sedikit son apa to? Sapa tau ada setan lewat begitu…

untitled

Advertisements

Subtitle The Principle of Lust (2003) untuk Massa-rakat yang Suka Nonton Film

2

The Principle Of Lust (2003) ditulis dan disutradarai oleh Penny Woolcock. Penny ini seorang single-mom yang sejak muda membikin teater dengan pementasan-pementasan radikal dan sekali-dua ditahan polisi.

1

Konfliknya sederhana, menceritakan tentang Paul (Alec Newman), seorang penulis kere yang jatuh cinta pada Juliette (Sienna Guillory). Lalu si Paul ini makin akrab dengan teman barunya, Billy (Marc Warren), yang punya pacar bernama Hole (siapa dia son tau saya). Billy ini ternyata punya segudang hobi atau kebiasaan mengerikan (mengerikan yang dimaksud di sini bukanlah horor psikopat bunuh2 orang, tapi kenakalan2 yang kecil dan… helah, nonton sendiri saja); menabrak semua kebiasaan hidup tanpa ampun. Dia punya aturan sendiri, suka mengambil resiko2 besar yang kadang membahayakan. Su begitu, dia ajak-ajak Paul le. Lalu petualangan dimulai. Hoho… Ini ni yang tidak sederhana.

b

Dua atau tiga bulan yang lalu, saya menonton film ini. Saat saya tertawa-tawa ngeri di bagian yang lucu, teman saya, Si Ogin anak Flores (MOF ka?) yang kebetulan lewat bilang: “Om Felix, nonton ajak-ajak ko…” Saya mengajaknya tapi subtitlenya dalam Bahasa Inggris dan dia tidak mengerti. Kami mencari yang berbahasa Indonesia tapi tidak menemukan satupun.Biasalah, di Indonesia, film yang agak nakal sedikit pasti tidak terkenal. Yang terkenal tu paling ya Mars Perindo. Sakit hatiku, Mas Har… Tapi ini film keren, pemutaran perdananya sebelum di-rilis itu diadakan di International Film Festival Rotterdam (IFFR).

5

Maka demi teman saya ini, dan demi seluruh massa-rakat (massa-rakat itu sebutan untuk anak-anak NTT di perantauan, ed.) yang juga suka nonton film, saya terjemahkan secara manual. Saat mengetiknya, saya pikir, karena yang menunggu terjemahan saya ini adalah Ogin dan beberapa massa-rakat baiknya saya terjemahkan saja langsung ke bahasa mereka. Maka jadilah, subtitle The Principle Of Lust (2003) dalam bahasa rakat bisa anda download di sini. Atau di sini.a

Sedangkan Film kece itu bisa anda donlod di sini kayaknya. Coba cek? Kalau tidak ada coba cek di situs2 penyedia film gratisan kesayangan anda 😀

Sastra(wan/i) NTT dan Potensi Blunder

  1. 16 Juni itu ulang tahun sastra NTT. Dijadikan begitu after ulang tahun Gerson Poyk. Eh, benar toh 16 Juni?
  2. Sejak Yohanes Sehandi mulai membuat perumusan serius tentang Sastra(wan) NTT, topik itu menjadi hangat. Lebih banyak diskusi-diskusi serupa.
  3. Ada buku mengenal sastrawan NTT. (Btw saya dikirimi satu sama Pak Yohanes.) Bahkan baru-baru ini, dalam sebuah tulisannya Pak Yohanes menulis tentang sastrawati NTT. Ada 8 atau 9 kalau tidak salah.
  4. Yang mau saya bahas adalah potensi blunder yang mungkin akan datang dengan perumusan hal-hal seperti itu.
  5. Blunder pertama adalah soal pengkategorisasian sastrawan di NTT. Yang pertama, anak-anak muda bisa saja tumbuh gigi ambisinya untuk menjadi atau sebut saja untuk ikut disebut sebagai sastrawan. Kedua, pengkategorisasian ini tidak jelas –IMHO, asal dilihat menghasilkan tulisan, disebut sastrawan. Ketiga, kalopun mau ada kejelasan kategorisasi, masih akan ada perdebatan serius dan panjang ttg standar kategorisasi itu. Dan seperti yg sudah-sudah, perdebatannya akan berputar di siapa sastrawan siapa bukan dan kenapa karyanya disebut sastra, siapa yang menahbiskan dan menjadikan dia disebut sastrawan.
  6. Blunder kedua, perumusan Sastra(wan) NTT bukan tidak mungkin membikin kerdil sastra itu sendiri. Saat orang bicara tentang sastra, yang ada di kepalanya adalah pengkotak-kotakkan dan bagi saya itu hal yang sama sekali tidak perlu. Ini sastra A, itu sastra B. Penyebutan “Sastra Indonesia” saja sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa penulis. Eh, kita malah bikin kotak yang lebih kecil: Sastra NTT. Saat omong ttg sastra, mari kita omong tentang sastra itu sendiri. Mari kita omong misalnya bahwa lewat sastra, Joko Pinurbo mau omong apa. Lewat sastra Mario Lawi mau omong apa. Han Kang mau omong apa. Milan Kundera mau omong apa. Maria Pankratia (em) mau omong apa. Jhumpa Lahiri mau omong apa. Ricky Ulu mau omong apa. Mo Yan mau omong apa. Dicky Senda mau omong apa. Gogol mau omong apa. Unu Ruben. Ragil Sukriwul. Toni Morison. Fransiska Eka. Charles Dickens. Mezra Pellondou. Dacia Maraini. Afriyanto Kein. Voltaire. Dede Aton. Bukowski. Marsel Robot. Dan lain lain lain. Poinnya tetap: sastra! Bukan lagi sastra pedalaman, sastra perlawanan, sastra NTT, sastra Jawa, sastra… Secara pribadi saya muak tiap ada kotak di depan saya: termasuk kotak televisi, kotak sabun dan sebagainya. Ayolah. Bedanya hanya kita masih belajar dan dong su penulis mapan atau su mati. Dong mati, tapi ide/gagasan akan bertahan dan tiap generasi berdialog dengan ide-ide atau gagasan-gagasan itu. Ayo bicara di tataran itu, buat apa le bicara kami dari sini maka…
  7. Penyebutan sastra yang begini bisa jadi akan memunculkan stereotip. Karena dia NTT, tulisannya tentu hanya seputar sabana, kuda, lontar, karang, paus, jagung… Dan, anak-anak muda yang baru belajar menulis pun akan terjebak untuk hanya tulis tentang itu saja.
  8. Bukan tidak mungkin sampe mati kita tengkar sendiri2. Saat masih main facebook Mario F Lawi (semoga selalu sehat) kerap mengomel soal sastra NTT yang seperti katak dalam tempurung. Saya pikir walaupun ada yang gerah karena menangkap nada sombong di pernyataan Mario ini, kita mesti lihat lebih jauh sebagai kritik yang memang terjadi, dan, kalau tidak hati-hati, akan terjadi lebih parah lagi, seiring pembentukan Satra NTT lengkap dengan ulang tahunnya.
  9. Beberapa poin di atas itu potensi yang bakal terjadi. Kalau tidak hati-hati, pasti terjadi — bisa jadi lebih parah dari perkiraan yang ada. Pasti itu. Lihat saja.
  10. Di atas itu semua, saya menghargai kerja dokumentasi dan usaha beberapa orang untuk memajukan sastra di NTT. Fiuh, saya harus jujur bahwa kalimat “usaha memajukan sastra” adalah salah satu omong kosong lain yang tak kalah seru. Menulislah kalau kau memang suka menulis. Main bola-lah kalo kausuka. Lakukan karena hobi. Jang sampe kau sebenarnya suka main bola, tapi kau anggap sastra lebih penting dalam hidup fana ini (karena promosi gencar dan kalimat “usaha memajukan sastra”) dan kau lebih memilih menulis daripada main bola. Itu ocong, Kaka. Lakukan apa yang kau sukai.
  11. Sekali lagi anak-anak muda mesti mulai belajar keras menulis dan membaca — sekali lagi hanya bagi yang suka melakukan hal itu — tanpa dipengaruhi labeling-labeling sejenis. Karena sejak pola pikir seperti ini dibentuk, penulis pemula yang baru pemula sekali akan menganggap gelar sastrawan itu wow sekali dan mereka akan makin minder membikin tulisan dan… betapa tidak enaknya itu. Ayo menulis saja; baca yang banyak.
  12. Kepada beberapa orang: Jang talalu bully Maria ee. Kasian dia  😀 😀

Membaca Cerita pendek (lagi)

Oleh: Fransiska Eka*

Agaknya sudah lama saya tidak membaca cerita pendek yang rapih, yang tidak bertele-tele tapi quotable, yang ringkas sekaligus kaya akan kritikan. Kemarin, saya membaca buku sekumpulan cerita pendek karya Felix K. Nesi. Ada beberapa cerita pendek di dalam buku terbitan Pelangi Sastra Malang, tetapi favorit saya adalah cerita pendek berjudul Ponakan. Mungkin karena saya bisa relate dengan si karakter utama dalam cerita yang kalau sedang menulis tak bisa diganggu sama sekali, termasuk diganggu oleh ponakannya yang masih balita, dan kalau berbicara lidahnya masih cadel.

Spoiler

Saya agak ngeri dengan ending cerita Ponakan, sekaligus teringat pada beberapa cerita yang pernah saya baca sebelumnya. “Adegan” si karakter utama mengikat leher si ponakan dengan tali yang diasosiasikam dengan dasi, misalnya, mengingatkan saya pada salah satu bagian cerita milik Ayu Utami dalam Orang-Orang Scorpio. Teman sekelas karakter Ayu mati karena menjerat dirinya sendiri dengan dasi. Dalam dunianya, ia sedang belajar memakai dasi. Ada juga sebuah cerita pendek karya seorang penulis perempuan dari salah satu negara di Jazirah Arab yang menceritakan tentang kekejaman anak-anak yang membiarkan seorang pria tewas di dalam sebuah sumur di ladang. Memang cerita Felix, Ayu dan si penulis dari Jazirah Arab berbeda (atau terbalik). Tapi saya senang bisa menemukan sebuah benang merah antara ketiganya ; pelaku sebuah tindakan yang tak wajar memiliki logikanya sendiri.

Pada salah satu halaman, Felix juga mengumpat (dia sering sekali mengumpat dalam cerita-ceritanya spoiler) pakem lokalitas. Ia katakan bahwa seorang anak gembala yang duduk diatas punggung sapi di padang adalah hasil karangan  orang-orang kota yang miskin imajinasi. Dalam kehidupan sehari-hari, si anak gembala punya banyak tugas daripada sekedar berleha-leha diatas punggung sapi di padang.

Ah, saya sepakat! Karena kita tinggal di NTT, apa kita harus melulu cerita tentang padang Sabana ? Halo!

Lastly, Felix ini penulis mapan:) Kita tinggal menunggu karya-karyanya yang lain di masa depan ^^

Good-Luck, dude!




*Tulisan ini saya salin dari blog pribadi Eka Fransiska (silakan klik kalo pengen liat), sebuah catatan kecil sesudah membaca buku cerita saya berjudul Usaha Membunuh Sepi (hell, sejak kecil saya bercita-cita membuat buku cerita dan akhirnya kesampaian). Saya menemukannya, di antara sekian banyak tulisannya yang lain. Saya baru tahu kalau Eka rajin menuliskan isi pikirannya di blog; bahkan curhat-curhat pribadi sekalipun. Tiap hari kau akan temukan potongan-potongan puisi di sana. Sepertinya ini yang mesti lebih banyak dilakukan anak-anak NTT yang lain juga, ketimbang meributkan siapa yang terbesar di antara mereka; siapa sastrawan siapa bukan dan kenapa begitu. Thats fucking disgusting bro.

(Oh, sebagai tambahan, membaca salah satu cerpen saya Eka teringat pada dua tulisan lain (Ayu Utami dan penulis Arab itu), ini membuat saya malu menyadari bahwa bacaan saya belum seluas Eka. Saya mesti mengamen, ke toko buku dan membeli buku Ayu Utami itu. Sebaiknya saya tidak ke perpustakaan untuk mencuri karena ini bulan puasa.

Rektor Unmer Malang, Kasih Kami Wifi dong Pak…

Pak Rektor yang baik. Dua tahun lalu, di lantai bawah Balai Merdeka, ada proyek apa entahlah saya tidak tahu namanya IMBIS. IMBIS ini, Pak, menjual voucher untuk wifi-an seharga Rp. 5.000,. Saya tidak pernah membeli namun lumayan laris, kelihatannya. Saat itu, untuk mengakses wifi gratis, saya dan beberapa teman dari Fakultas Psikologi suka main ke halaman depan Fakultas Hukum. Atau ke Ekonomi.

Sakit berkepanjangan lalu membuat saya mesti satu tahun meninggalkan kuliah yang tinggal sepotong. Begitu kembali ke Unmer tercinta, di Psikologi sudah ada wifi. Hore. Namanya Psiko-Center. Wifi ini dipasang tepat di kantor yang dulunya IMBIS itu, gratis untuk mahasiswa. Meski hanya menjangkau di sudut kecil itu saja, mahasiswa senang, karena untuk mengunduh jurnal-jurnal kecil, mereka tak perlu ke warnet. Bayangkan, Pak, ke warnet, biaya log-in hanya untuk mengunduh jurnal, kadang cuma Rp. 1000,. Eh, biaya parkirnya malah Rp. 2.000,. Continue reading

Satu Omong Kosong Lain tentang Cinta (Love)

Dalam wawancaranya dengan Marva Journal, Gaspar Noe, dengan entengnya mengatakan “Di film selanjutnya, saya berharap tiap lelaki yang menonton bisa ereksi dan tiap perempuan get wet.” (Oke, saya tak bisa menerjemahkan “get wet” itu). Ia merujuk pada sebuah film yang ditulisnya, Love. Love memang film penuh adegan vulgar persetubuhan, baik antara Murphy dan Omi, Murphy dan Electra, maupun hubungan three-some mereka. Namun mengingat film ini diputar di Festival Film Canes 2015, saya merasa orang berbudaya dan terpelajar ‘diwajibkan’ menonton film ini tanpa terprovokasi berahinya.
Namun begitu saya iseng melihat wawancara Gaspar Noe, saya merasa bahwa film ini secara tak langsung masuk dalam hitungan, jika pornografi adalah “penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi” seperti kata KBBI. Lukisan bergerak ini membuat kau tegang pada kisah cinta Murphy dan Electra, sekaligus tegang pada aksi berahiah yang tidak digambarkan dengan samar-samar seperti film-semi pada umumnya. Di menit pertama, kau sudah pasti akan mengambil kesimpulan bahwa ini film bokep, karena adegan persetubuhan Murphy dan Electra sangat vulgar, dimana gambar dengan terang benderang menunjukkan posisi penis Murphy dalam genggaman Electra; mirip adegan-adegan yang bisa kita temukan dalam bokep-bokep HD bikinan X-ART. (Dalam film semi pada umumnya, penis hampir tak ditunjukkan. Vagina lebih banyak ditunjukkan dan itu saya lihat sebagai usaha pemenuhan hasrat berahi egois kaum lelaki yang selalu berusaha mengeksploitasi). Hanya jalan ceritanya yang panjang dan kadang memang membosankan ketika harus melihat Murphy bergerak dengan sangat lamban sambil terus berbicara pada dirinya sendirinya.

Continue reading

Beberapa Alasan Kenapa Pacaran sama Lelaki Timur itu Menyenangkan

10398392_10208782382387863_8796936478895730938_n

  1. Lelaki Timur adalah pekerja keras. Mereka telah terbiasa hidup di tempat yang secara geografis sangat susah untuk menjadi sumber penghidupan. Mereka telah terbiasa mengerjakan hal-hal yang menurut orang kebanyakan berat untuk dilakukan. Bagi mereka, semua hal berat adalah biasa.
  2. Pertalian kekeluargaan orang Timur sangat lekat. Karenanya, lelaki timur bisa membawamu ke tempat-tempat eksotik di daerah Timur dengan lebih sedikit biaya, namun ke tempat tujuan yang aduhai. Bagaimana tidak, jika ternyata pengelola Raja Ampat adalah salah satu paman dari ibu nenek yang menikah dengan tante bungsu ayah? Bagaimana jika ternyata pawang Komodo di ujung pulau Flores sana adalah cucu dari kakek tertua yang menikah dengan tante dari neneknya? Oke, jangan coba dibayangkan pertalian yang rumit itu. Intiya, sampai lapis berapapun mereka pasti mampu menemukan pertalian keluarga.
  3. Sejak kecil, tiap lelaki Timur telah diajari untuk menjaga kaum hawa apapun yang terjadi, siapapun dia. Lelaki adalah penjaga yang bertanggung jawab penuh di manapun dia berada. Jangan heran, bila di lingkungannya, hanya dia satu-satunya lelaki, dia akan merasa sangat malu bila tak mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Hal-hal kecil seperti: “Kalau jalan kaki sama perempuan, si perempuan harus berada di sebelah kanan, agar bisa dilindungi”, telah diajarkan sejak kecil. Kau akan selalu aman.
  4. Lelaki Timur umumnya telah menganut motto: Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Awalnya, ini adalah ajaran agama kristen. Namun karena mayoritas orang Timur beragama kristen, kalimat itu dibudayakan dan akhirnya lebih identik dengan budaya ketimuran. Bagi lelaki Timur, haram hukumnya untuk mendua. Jika ada yang mendua, dia bukan lelaki Timur yang sejati.
  5. Mukanya seram-seram. Walau belakangan kau akan temukan bahwa hati laki-laki Timur itu lebih melankolis daripada lagu-lagu kaka Gllen Fredly, mukanya tetap seram kalo gak senyum. Kau akan luput dari keisengan preman kampung. Apalagi sekedar lelaki puber alay yang mencoba ngehits dengan cara menggodamu.
  6. Masih banyak alasan yang lain, tapi kau tak akan penasaran jika tidak mencoba dan merasakannya sendiri.